Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
114. Istri Untuk Alan.


__ADS_3


Istri Untuk Alan.



"Halo Sayang …" Stella kembali menjawab panggilan suaminya, entah ini sudah panggilan ke berapa sejak ia tiba di rumah sakit.


"Masih mual?" Dan sejak panggilan pertama, hingga panggilan saat ini yang ia tanyakan hanya perihal mual yang tengah melanda sang istri.


"Sudah lebih baik, lagi pula aku hanya melakukan pekerjaan rawat jalan, untuk sementara semua jadwal operasi di gantikan dokter Alan." Jawab Stella, ia memang sudah meminta izin pada pihak rumah sakit bahwa selama beberapa bulan ke depan tak memungkinkan baginya untuk masuk ruang operasi.


"Apa tidak sebaiknya kamu cuti dulu, nanti setelah melahirkan, baru kembali ke rumah sakit." 


"Tidak, jika begitu, aku akan bosan di rumah," jawab Stella manja, " kecuali kakak menemani ku dirumah." Iseng iseng ia meminta suaminya agar mengerjakan pekerjaan nya di rumah.


"Oke, aku akan kondisikan waktunya, nanti setelah Dimas kembali bekerja, tapi berjanjilah untuk libur selama kehamilanmu." Jawab Alex enteng, demi kenyamanan istrinya Alex tak pikir panjang, walau harus mengerjakan pekerjaannya di rumah.


Stella sendiri sangat terkejut, karena Alex begitu mudah menyetujui permintaan nya. "Kak, aku cuma bercanda, kenapa kakak langsung menyetujui permintaanku?" 


Alex justru terkekeh geli. "Kenapa masih bertanya, tentu saja karena cintaku terlalu besar, dan aku tak ingin kamu merasa sendiri selama mengandung anakku, maaf karena dulu ketika kamu mengandung si kembar, aku terlalu sibuk, jadi sering meninggalkan mu sendiri di rumah." 


"Kenapa membicarakan itu, aku jadi ingin menangis, padahal aku sudah melupakannya." Stella menghapus air mata yang tiba tiba menetes, tak biasanya ia mudah menangis begini.


"Jangan menangis, aku hanya ingin berusaha menebus waktu ku yang pernah hilang ketika dahulu bersamamu." Alex mencoba menenangkan.


Tapi tak di sangka tangisan Stella jadi semakin keras. "Iya tahu, tapi tetap saja aku sedih." 


"Kalau begitu maaf kan aku, apa kamu sudah makan siang?" Alex mengalihkan pembicaraan.


Stella menggeleng, "belum, aku baru menyelesaikan jadwal praktek ku." 


"Segeralah makan, kamu pasti sudah kelaparan, karena nutrisimu sudah diserap habis oleh bayi kita." 


Lagi lagi Stella meleleh mendengar perkataan Alex, entah kenapa ia sangat terharu mendengar perhatian yang diberikan oleh suaminya.


"Iya, setelah ini aku akan makan siang, kakak juga, jangan lupa makan yah, dan berjanjilah untuk pulang cepat hari ini."

__ADS_1


"Baiklah, aku juga akan pulang cepat, aku tak akan membuatmu menunggu." 


Percakapan hangat itu pun berakhir Setelah keduanya saling mengucap kata cinta.


✨✨✨


Bersama beberapa asisten nya, Stella mendatangi Cafe untuk makan siang, netranya menatap sepasang calon suami istri yang nampak duduk makan siang bersama.


"Kalian cari lah meja, aku akan makan bergabung dengan dokter Elga dan dokter Alan." Pinta Stella pada para asisten nya.


"Baik dok." 


Stella menghampiri meja tempat dokter Alan dan dokter Elga. "Permisi, boleh bergabung?" Tanya Stella, yang otomatis, membuat sepasang kekasih itu mendongak menatapnya.


"Oh, silahkan dok," jawab dokter Elga, yang langsung mempersilakan Stella.


Tapi Alan berdiri dan undur diri, "makanlah dengan dokter Risa, aku ada operasi setelah ini." 


Dokter Elga mengangguk.


Setelah dokter Alan tak lagi terlihat, barulah dokter Elga menatap Stella yang kini duduk di hadapannya.


"Sudah berapa lama kalian saling kenal?" Tanya Stella ketika memulai suapan pertama nya.


Dokter Elga tersenyum samar, ada rasa tak nyaman manakala Stella menanyakan hal itu, tapi memendamnya sendiri pun sudah sangat menyesakkan dadanya.


"Maaf, kalau aku terlalu ikut campur, tak apa kalau memang anda tak ingin cerita, sejujurnya, aku ingin dekat dengan anda," ujar Stella jujur, "karena suamiku adalah kawan baik dokter Alan, jadi mungkin anda tak keberatan jika kita bisa mengakrabkan diri." 


"Oh tidak, tolong jangan salah sangka, baiklah, tak masalah kita mengakrabkan diri," jawab dokter Elga.


Stella tersenyum lega, "jadi sejak kapan kenal dengan Alan?" Stella mulai dengan bahasa non formal.


Dokter Elga tersenyum kala mengingat masa masa kuliahnya bersama Alan.


Hari itu, hari terakhir konfirmasi pendaftaran di fakultas kedokteran universitas WXY, waktu sudah menunjukkan pukul 14.45, sementara waktu pendaftaran hanya tersisa 15 menit.


Elga remaja berlari kencang menuju gedung rektorat, menyesal sekali ia tadi naik taxi, yang dilarang memasuki kampus, seharus nya dia naik ojek saja, karena ojeg diperbolehkan memasuki area kampus.

__ADS_1


Sambil terus merapal mantra permohonan, Elga terus berlari dengan nafas memburu, ia menekuk tubuhnya, dengan kedua tangannya menumpu pada lutut, sembari mengatur nafas.


Dari arah berlawanan, seorang pria datang dengan motor sport nya, pria itu sungguh tampan, pikir Elga, jeans belel, kaos polo dan kemeja tak dikancing, membuat pemandangan sore itu tampak sangat indah di mata Elga.


Namun Elga segera tersadar dari lamunannya, manakala pria itu memasuki gedung rektorat, ah kenapa ia bisa lupa, bukankah tujuannya kemari ingin registrasi ulang, kenapa bisa ia melupakan hal sepenting ini, bisa bisa ia gagal hanya gara gara registrasi ulang.


Karena tubuh rampingnya, Elga bisa berlari kencang hingga menyusul pria yang tadi ia temui di depan pintu rektorat, karena sama sama terburu-buru keduanya bertabrakan di pintu ruang administrasi, dua orang itu saling melotot tajam, keduanya sama sama tak ingin terlambat, namun keduanya justru bertabrakan di pintu masuk.


"Minggir, aku mau masuk." Elga memerintahkan pria itu untuk menyingkir memberinya jalan.


"Enak saja, aku dulu yang masuk, aku datang duluan," tolak Alan.


"Tidak bisa, aku mau masuk duluan." Elga tak mau mengalah.


"Kamu pikir aku tak ingin masuk duluan." Sentak Alan.


"Sudah sudah sudah, jangan bertengkar," petugas Administrasi mencoba melerai keduanya. "Siapapun di antara kalian yang masuk duluan, kalian berdua sama sama berhak mendaftar," 


"Benarkah?" 


"Benarkah?" 


Tanya keduanya bersamaan.


Bagian administrasi tersebut mengangguk tanpa suara.


Setelah mendengar penuturan petugas administrasi, keduanya sama sama menjauhi pintu, lalu Elga melangkah terlebih dahulu, di susul Alan yang berjalan di belakangnya.


Petugas administrasi itu tersenyum, manakala menyerahkan formulir yang yang harus mereka isi dan lengkapi, sambil berkata, "ibu senang melihat anak anak muda seperti kalian, penuh semangat mengejar cita cita, semoga kelak menjadi dokter yang bisa menyelamatkan banyak orang yang membutuhkan pertolongan."


Secara otomatis, Alan dan Elga sama sama mengangguk.


Begitulah perkenalan singkat mereka, jangan harap sesudah itu hubungan mereka menjadi manis, oh tidak sama sekali, justru hubungan keduanya semakin memanas seperti layaknya musuh bebuyutan.


Tiada hari tanpa persaingan, masing masing bersaing menjadi yang terbaik, bahkan peringkat mereka pun saling susul menyusul.


Jika salah satu tak mengikuti kelas, maka tak ada istilah meminjam secara gratis, yang ada adalah barter catatan atau latihan praktikum yang saling menguntungkan.

__ADS_1


__ADS_2