
"Kami bertemu di acara sekolah beberapa minggu yang lalu, bukannya saling berkenalan justru lebih sering bertengkar untuk hal hal yang tidak penting, hingga akhirnya kami dihukum, di tempatkan di kamar yang sama selama dua hari, bahkan Andre meminjam pakaianku karena dia kehabisan baju ganti, dari sanalah kami bertukar informasi, dan tercetuslah ide bertukar tempat."
"Maaf karena sudah membuat kekacauan, maaf karena kami lancang bertukar tempat, tapi … " Kevin terlihat ragu ketika hendak melanjutkan kalimatnya.
"Tapi apa … hmmm?" Stella menanti kelanjutan kalimat Kevin.
"Tapi sepanjang hidupku, aku belum pernah bertemu denganmu mom, dan Andre belum pernah bertemu papi, kami tahu apa yang kami lakukan salah, tapi aku rela melakukan ini, Karena aku sangat merindukanmu mom." Aku Kevin, binar matanya memancarkan ketulusan dan perasaan rindu yang sama besarnya dengan yang Stella rasakan, Stella tak bisa menahan perasaan haru nya, ia duduk di tepi tempat tidur, dan kembali memeluk Kevin, kali ini tak ada lagi tangisan, yang ada hanya ada senyum bahagia, tapi juga menyisakan perasaan tak biasa dalam dada Stella, jika Andre dan Kevin bertukar tempat, maka suka atau tidak, ia dan mantan suaminya harus kembali bertemu, setidaknya untuk menukar kedua putra kembarnya, 'hentikan Stella, jangan terlalu percaya diri, Alex punya asisten dan pengacara, bisa saja ia mengutus anak buah nya, untuk menjemput dan mengantar putranya, mana mungkin ia akan datang sendiri hanya demi bertemu mantan istri' Stella bermonolog dalam hati.
Terdengar suara pintu kaca bergeser, suster Yuna masuk, "Selamat pagi dokter Risa, maaf mengganggu saat bahagia kalian, tapi kami akan memindahkan putra anda ke ruang perawatan,"
Stella dan Kevin menoleh, lalu mengurai pelukan mereka. "Terima kasih suster Yuna." Ucap Stella tulus.
"Sama sama dokter,"
...✨✨✨...
Ima menatap bahagia pada soft cake buatannya, soft cake lembut itu begitu harum menggoda, ini pertama kalinya ia membuat sesuatu yang spesial, sesuatu yang diminta langsung oleh saudara kembar majikan kecil nya.
"Harum sekali kak, terima kasih sudah membuatnya untukku," ucap Andre dengan mata berbinar.
Ima menarik kursi kosong di sebelahnya agar Andre duduk, "ayo sini, cicipi kue buatan kakak,"
Andre pun duduk, kemudian mulai menyuapkan cake lembut itu ke mulutnya, manis gurih dan lembut menyatu di dalam sana. "Ini enak sekali kak,"
"Suka?" tanya Ima bersemangat, sesekali tangannya mengusap kepala Andre.
"Suka sekali." Sekali lagi Andre menyuapkan cake lembut itu ke mulutnya.
Ima memperhatikan sekeliling nya, kemudian ia mengeluarkan susu coklat dari bawah meja, "Ini habiskan dulu, sebelum ada yang melihat."
Andre pun menurut, ia menyesap perlahan susu pemberian Ima, "pelan pelan, jangan sampai tersedak," ucap Ima dengan penuh perhatian, sungguh aneh, saudara kembarnya bahkan tidak bisa mencicipi coklat, tapi kembar yang satunya adalah penggila coklat.
Beberapa saat kemudian, susu itu pun tandas tak bersisa, dan Ima buru buru menyembunyikan kemasan susu tersebut.
__ADS_1
Tiba tiba dari arah pintu depan Alex berlari terengah, "Kevin!!" Teriaknya memanggil nama putranya.
Andre yang tengah menikmati cake pun terkejut, mendengar teriakan Alex, ia segera berdiri dan berjalan menghampiri Alex.
"Aku di sini, ada apa pi?"
Wajah Alex berbinar bahagia, ia segera menghampiri Andre dan memeluknya dengan erat, hal pertama yang ia lakukan setelah melepaskan pelukannya adalah memeriksa bekas luka di belakang telinga kiri Andre, air matanya meluncur begitu saja, perasaan lega dan bahagia kini menyelimuti dirinya, akhirnya … Tuhan berbaik hati kepadanya, Tuhan membawa anak yang selama ini ia cari cari keberadaan nya.
2 jam sebelum kejadian.
Ponsel berbunyi, ketika Alex yang tengah menemani Andre bermain basket dengan malas membuka ponselnya.
Nama Fira bertengger di layar ponselnya, "Iya Fir?" Jawab Alex sementara tangan kanannya memasukkan potongan buah ke mulutnya.
"Hei duda, ada waktu gak?" Jawab Fira tanpa mempedulikan sopan santun.
"Weiiss sadis gini ngomongnya,"
"Kenapa gak bicara sekarang?"
"Gak enak kalau bicara lewat telepon, kita harus ketemu."
Alex berfikir sejenak, harus kah ia meninggalkan Kevin? Padahal ini hari liburnya, satu satunya kesempatan ia bisa bermain bersama Kevin.
"Haruskah sekarang?"
"Iya sekarang, ini tentang Kevin," ujar Fira agar Alex tak lagi mencari cari alasan.
"Baiklah," Jawab Alex.
Alex nampak berfikir, apa ini begitu darurat, hingga tak bisa disampaikan melalui telepon.
"Ah … itu urusan nanti, sekarang main dulu, sejak kapan dia bisa melempar jarak jauh seperti itu, biasanya dia susah sekali melakukannya." Alex membatin, karena biasanya Kevin hanya bisa lemparan dari jarak yang dekat.
__ADS_1
...✨✨✨...
"Cafe gg" tempat Alex dan Fira janji bertemu, Fira membawa serta suami dan anaknya, Sementara Alex cemberut, karena Fira tak mengizinkannya membawa Kevin.
"Ayo cepatlah, jangan membuat ku membuang banyak waktu," ujar Alex masih dengan rasa kesal nya.
"Oke oke, aku minta maaf, bagaimana kabar kevin?"
"Baik, tadi pagi kami main basket bersama."
"Apa kamu melihat ada sesuatu yang aneh?"
"Tidak ada."
"Ayo cepatlah, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Alex tidak sabar.
Fira menarik nafas pelan, ia pun mengeluarkan tablet yang berada di dalam tasnya, kemudian menunjukkan sebuah gambar, sosok remaja berambut coklat, bermata biru pucat, tengah tertawa lebar diantara teman temannya. "Menurutmu ini siapa?" Tanya Fira ketika menyodorkan gambar kehadapan Alex.
"Kevin," Jawab Alex.
Fira tersenyum kecil, kemudian beralih ke gambar berikutnya, masih orang yang sama, hanya bedanya, dia berwajah murang walau tengah berada diantara teman temannya, sungguh jauh berbeda dengan gambar sebelumnya, "kalau ini siapa?" Tanya Fira lagi.
"Tentu saja ini kevin, sebenarnya maksudmu apa sih?" Alex semakin tak sabar menghadapi Fira.
"Kalau Foto ini," Fira menunjuk foto 2 orang berwajah sama, tengah saling menatap penuh kemarahan, Alex tersenyum hambar, bagaimana bisa Fira mengedit foto kevin hingga nampak seperti 2 orang yang sedang bertengkar, "menurutmu, kevin yang mana?" Fira terus bertanya, tanpa membenarkan atau menyalahkan jawaban Alex.
Alex menatap sesaat, belum paham situasi yang sedang terjadi, kemudian menunjuk asal, "ini Kevin." Jawabnya malas, ingin segera menyelesaikan urusannya dengan Fira.
"Kalau menurutmu itu Kevin, lalu yang satunya siapa?" Pancing Fira.
"Kalau yang satu Kevin tentu saja yang satunya, An … "Alex Menggantung kalimat nya, ia meletakkan minuman yang baru saja di sesap nya, kembali ia menatap layar tablet milik Fira, bola matanya membulat, yah … Fira benar, mereka memang 2 anak yang berbeda, wajahnya memang mirip, dan … Alex membekap mulutnya sendiri.
"Dimana dia?" Tanya Alex, "jawab pertanyaan ku, dimana Andre!!!??" Hardiknya tajam.
__ADS_1