
Hari baru datang, Stella sudah membuka mata sejak subuh, suasana pagi hari di tempat dia berasal, bukannya di negara asing.
Andre nampak masih terlelap di bed untuk keluarga pasien, sementara Alex terlelap di sofa. semalaman Stella begadang mengawasi Kevin yang masih berada di bawah pengaruh obat bius, namun tengah malam kesadaran Kevin mulai kembali, dan jam 3 dini hari Stella baru mulai terlelap.
Stella menatap keluar jendela, kota Jakarta mulai menggeliat, kendaran mulai ramai memadati jalanan, klakson kendaraan saling bersahutan, pertanda orang orang mulai sibuk berkejaran, menyiapkan hari untuk mengais rezeki.
Ternyata Stella menyukai pemandangan pagi ini, sudah lama sekali ia tak menatap suasana jalanan seperti ini, ternyata rasa rindunya sudah teramat sangat.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, "selamat pagi dok." Sapa perawat yang kini berjalan menghampiri bed tempat Kevin terlelap.
Stella menghampiri perawat tersebut, "biar saya yang memandikannya sus," pinta Stella.
"Tapi dok ini tugas saya," tolak perawat tersebut.
"Gak papa, biar saya lakukan sendiri."
Perawat itu pun menuruti perkataan Stella, segera setelah perawat pergi, Stella menutup tirai pembatas, pelan pelan ia mulai membersihkan tubuh Kevin dengan washlap, di mulai dari wajahnya, wajah Kevin mulai rileks tak seperti hari sebelumnya yang tampak pucat karena menahan rasa sakit.
Merasakan ada sesuatu yang menyentuh wajahnya, Kevin pun membuka mata, "morning mom," sapanya, ketika wajah yang ia tatap pertama kali adalah wajah sang mommy.
"Morning boy … maaf mommy mengganggu tidurmu, ada yang terasa sakit?"
__ADS_1
Kevin menggeleng, "tidak ada yang sakit, dan mommy juga tidak mengganggu tidurku." Kevin tersenyum lebar. "Mom aku mau air," pintanya.
Stella menaikkan sandaran tempat tidur Kevin, agar Kevin bisa minum sambil duduk, Kevin menerima botol air mineral dari tangan Stella.
Usai Kevin minum, Stella kembali melanjutkan aktivitas nya, sesekali canda tawa mereka lontarkan, bagi keduanya itu adalah sebuah kebahagiaan yang tak bisa ditukar dengan apapun.
Sementara itu, sejak perawat mengetuk pintu, Alex pun ikut terbangun, namun ia tetap diam dan pura pura tertidur, kini ia mendengar suara Kevin yang kembali tertawa ceria bersama Stella, sebuah kedekatan yang alami tanpa di buat buat, bahagia yang sederhana tanpa perlu barang mewah.
Alex bimbang, setelah ini akan bersikap bagaimana kepada mantan istrinya, sejak pertemuan mereka 2 minggu yang lalu, sudah cukup mereka bersikap canggung satu sama lain, dan mau sampai kapan ia tak tahu, sebagai lelaki normal, tentu ia ingin segera mengakhiri kesendirian nya, tapi Stella benar benar membangun benteng kokoh diantara mereka, entah bagaimana lagi cara mendekati nya.
(Coba om duda, sungkem dulu sama emak emak readers di sini, biar dapet restu dan doa, yakin deh … habis sungkem, PDKT lancar jaya macam lewat tol💃💃)
Siang hari, suasana ruangan Kevin semakin ramai, Ima datang bersama oma opa si kembar, untuk sementara jasa Ima tak di perlukan karena Stella ada di sana, pertemuan haru pun tak ter elakkan, mama Lani memeluk Stella dengan erat, permintaan maaf yang selama ini tak sempat ia ucapkan, kini terlontar juga, begitupun papa Sony, kedua orang tua Alex tersebut bahkan terang terangan memintanya kembali berbaikan dengan Alex, tentu saja Stella hanya mampu tersenyum canggung, karena ia sendiri masih butuh waktu untuk meyakinkan hatinya, kedua orang tua itu mengangguk paham, bagaimanapun mereka tak ingin memaksa, sudah cukup di masa lalu mereka merencanakan perjodohan, dan kini baik Alex maupun Stella sudah sama sama dewasa, biar mereka yang memutuskan.
Suasana semakin haru, manakala Mama Anna pun datang, kedua mantan besan itu berpelukan dalam tangis kerinduan, biar bagaimanapun, dahulu papa Sony dan papa Kenzo adalah kawan baik, hingga tragedi perceraian anak anak terjadi, dan komunikasi di antara mereka pun seakan beku dan hambar hingga berakhir tanpa ada kabar sama sekali.
Stella meneteskan air mata, menyaksikan pertemuan tersebut.
Siang itu Alex tak di rumah sakit, karena pagi pagi sekali sebelum orang tuanya tiba, Dimas sudah menjemputnya untuk menghadiri pertemuan penting di Bandung, dan Dimas tak bisa mewakili, karena pertemuan kali ini sudah lama direncanakan bersama salah satu klien penting Alex yang ada di sana.
Dengan berat hati Alex meninggalkan Stella dan anak anaknya, padahal ia ingin bersama mereka, sebisa mungkin ia ingin menghabiskan waktunya bersama orang orang yang dicintainya, selagi Stella masih di Jakarta sampai beberapa hari ke depan.
__ADS_1
Senyuman Stella mengantar kepergiannya, bahkan Stella sempat membantu merapikan setelan kerja yang ia kenakan, semuanya berjalan natural tanpa ada paksaan, seakan akan ia sering melakukannya, untuk sesaat Alex merasa Dejavu, ini persis seperti ketika dahulu mereka masih terikat pernikahan, senyuman Stella selalu mewarnai pagi harinya, bahkan Stella masih sempat membantu merapikan Setelan kerja nya, tak lupa ciuman singkat di bibir, bahkan kadang mereka terhanyut hingga ciuman itu berlangsung lama, di antara riuhnya si kembar yang sedang meraung raung memanggil.
Dan hari ini Alex kembali merasakannya, Hanya satu yang tidak mereka lakukan, ciuman singkat di bibir, tapi tanpa itupun Alex sudah merasa bahagia, dan ia bisa pergi dengan perasaan baru yang sulit untuk ia jelaskan.
"Pergilah, dan segera selesaikan urusan mu, aku akan di sini bersama anak anak." Ucap Stella ketika mengantarkan kepergiannya sampai ke pintu kamar.
Dimas tersenyum melihat interaksi tersebut, ia melihat ada pancaran kebahagiaan di mata bos nya, semacam perasaan yang telah lama tak Alex rasakan.
Dan memang harus diakui, perpisahan mereka sudah berlangsung sangat lama.
✨✨✨
Rombongan pria berpakaian semi formal berjalan memasuki lobi Twenty Five Hotel Jakarta, mereka tampak membalas senyum dan ucapan selamat datang dari para pegawai hotel yang datang menyambut kedatangan mereka, setelah serangkaian proses administrasi usai, manager yang kala itu bertugas, mengantar mereka menuju lantai yang akan mereka tempati, tak tanggung tanggung, mereka menyewa satu lantai full, untuk mereka sendiri, kali ini mereka sangat berhati hati, karena tak ingin transaksi ratusan milyar ini gagal.
Abimana sengaja memesan satu lantai full agar ia leluasa bertransaksi di sana, disamping itu, ia sudah sangat geram dengan keterlibatan Alexander di setiap aksinya, pria itu nyaris selalu menggagalkan transaksinya, sekarang Abimana sedang bertaruh ratusan milyar, ia melakukan aksinya langsung di kandang musuhnya sendiri.
Abimana tersenyum Smirk, membayangkan ekspresi wajah Alex ketika mengetahui bahwa transaksi kali ini akan dilakukan langsung di kandangnya.
Tak ada yang menyadari jika koper koper besar yang mereka bawa berisi barang berharga ratusan milyar tersebut.
Transaksi itu akan terjadi beberapa hari ke depan, jadi selama menunggu, Abimana akan bersikap layaknya turis yang sedang berlibur.
__ADS_1