Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
54. Pagi Yang Memalukan


__ADS_3

Dimas tak mampu menahan seringainya, berkali kali ia mengulum senyuman tatkala menatap wajah bos kesayangannya dengan binar bahagia, tentu saja hal itu tak lepas dari pengamatan Alex.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" 


"Tidak bos, saya hanya ikut bahagia untuk anda bos."


Alex menatap jengah ke arah Asisten songongnya tersebut, kemudian Alex membuka laci nakas, ia mengambil amplop coklat, kemudian menyerahkan nya pada Dimas.


"Kirimkan ini pada pengacara secepatnya, aku mau malam ini juga dia menerima dokumen ini, jadi esok ia bisa segera mengurus nya." Perintah Alex pada Dimas.


"Apa ini bos?" Dimas mulai penasaran.


"Dokumen kelahiran Andre, aku akan kembali mengambil alih seorang Geraldy, berani beraninya dia mengambil hak atas anakku, bahkan menghilangkan nama keluargaku," 


"Siapa yang Bos maksudkan? Tuan Richard?" Tebak Dimas.


"Yah, tentu saja dia siapa lagi, setelah dokumen Andre diselesaikan, aku akan membawa pulang wanitaku, jika dahulu aku belum punya kemampuan melawannya, kini aku bisa melakukannya dengan mudah, cepatlah !!! Jangan buang buang waktu." Teriak Alex karena Dimas belum juga beranjak dari tempatnya berdiri.


"Tunggu dulu," Alex kembali memanggil Dimas, "kulihat kamu sama sekali tak terkejut melihat Stella disini, apa sebelumnya kamu sudah pernah bertemu dengannya?" Kali ini Alex Mulai curiga dengan jawaban Dimas yang selalu berputar putar, manakala ia menanyakan hasil pencarian Stella dan Andre.


"Maaf bos, tapi nyonya mengancam saya, jika saya memberitahu anda, maka nyonya akan menghilang lagi seperti dulu, karena itulah saya tidak berani memberitahu anda, agar saya juga bisa terus mengawasi nyonya." Dimas pun mengakui, bahwa selama ini tanpa Alex sadari, ia sering memasang foto Andre di wallpaper ponsel Alex.


...✨✨✨...


Sesuai janjinya, Stella kembali ke ruang perawatan Alex, ia melihat Alex sudah terlelap.


Sejenak ia sadar, jika Alex disini lalu anak anak anak bersama siapa?.


Stella buru buru menghubungi si kembar, ternyata Dimas yang mengangkat teleponnya.


"Saya yang menjaga si kembar, Nyonya istirahat saja, jangan khawatir." Jawab Dimas.


Stella kini bisa bernafas lega, ia pun merebahkan tubuh lelahnya di Sofa, operasi hari ini berlangsung lebih lama dari yang ia perkirakan, berkali kali pasien nyaris kehilangan detak jantung nya, bahkan entah berapa kantong darah yang terbuang sia sia, tapi akhirnya ia dan timnya bisa bernafas lega karena pasien berhasil diselamatkan.


Tak butuh waktu lama, Stella pun memejamkan matanya. 


Tengah malam Alex terbangun, namun seseorang yang ia tunggu tak juga datang, Alex bangun dari tidurnya, bermaksud mengambil air minum, langkahnya terhenti ketika mendapati Stella tengah tidur meringkuk di sofa.


"Kenapa malah tidur disini, padahal ada tempat tidur kosong," Alex membatin.


Karena ini adalah ruangan VVIP jadi di sediakan extra bed untuk keluarga pasien.


Setelah menghilangkan dahaganya, pelan pelan Alex memindahkan Stella ke tempat tidur, kemudian ia pun ikut berbaring di sana.


Kini mereka tidur berhadapan, Alex dengan leluasa menatap wajah lelah Stella, rasanya seperti dejavu, seperti ketika dulu ia menatap wajah lelah istrinya karena sibuk merawat si kembar. 

__ADS_1


Alex menciumi wajah Stella, namun si pemilik wajah tampak masih terlelap, Stella justru tanpa sadar menggeser posisi wajahnya, hingga sisi kiri wajahnya terpampang di hadapan Alex, "heh kamu memang ingin dicium rupanya," seringai Alex, yang kini lebih leluasa melakukan aksinya, bahkan ia tak segan ******* bibir Stella, bibir yang yang telah lama ia rindukan.


(Bos sabar bos sabar, deuh othor panas dingin lagi nih 🥵🥶😁)


"Selamat tidur mantanku, aku harap kisah kita belum berakhir … " 


Setelah puas melakukan aksinya, Alex pun ikut terlelap, setelah sebelumnya ia menekan remote agar pintu kamar terkunci secara otomatis.


...✨✨✨...


Stella membuka matanya, hal terakhir yang dia ingat adalah ia menelepon si kembar, dan memastikan mereka aman, kemudian ia tak ingat lagi apa yang terjadi, Stella terbangun ketika menyadari tengah tidur nyenyak di ranjang pasien, rambut coklatnya nya acak acakan seperti singa, wajahnya kusut karena semalam ia tertidur tanpa mandi, padahal sudah berniat ingin mandi terlebih dahulu.


Sayup sayup ia mendengar suara Alex dan Dimas tengah membicarakan pekerjaan, syukurlah Alex sengaja menutup tirai pembatas, hingga tak ada yang melihat penampilannya saat ini, Stella melirik jam tangannya, sudah jam 8 pagi dan ia baru saja bangun, oh ini benar benar pagi paling kacau dalam hidupnya, sebentar lagi jam praktek nya di mulai, dan ia bahkan belum bersiap.


Stella melompat turun dari ranjang nyaman yang ia tempati, ia pun heran, sejak kapan ranjang pasien jadi tempat tidur yang nyaman, semalam ia bisa tidur pulas, bahkan tidak terbangun satu kali pun.


(Heh dok, bobo nya nyaman karena semalam ada temennya, sini bilang makasih dulu sama othor 😁🙈 readers jangan ada yang ember yah, plis kita saling jaga rahasia🙊)


Stella merapikan rambutnya dengan tangan sebelum menyingkap tirai yang menutupinya, dua orang yang sejak tadi membicarakan pekerjaan, kini menatap ke arahnya.


"Kenapa tak ada yang membangunkanku? Aku kan ada jadwal praktek pagi," tanya Stella, ia berpura pura santai duduk di salah satu sofa single sambil membuka botol air mineral, padahal ia tengah menahan rasa malu luar biasa, melihat Alex yang sudah mandi dan rapi dengan kemeja kerja nya, sementara ia masih terlihat seperti singa yang terbangun dari tidurnya, sungguh memalukan, dia berharap bisa melakukan teleportasi, untuk berpindah kelain tempat, atau bahkan lain dunia, belum lagi nanti para perawat pasti akan lebih heboh lagi menggosipkan dirinya. "Stella kenapa kamu bisa sampai bersikap bodoh dengan tidur di kamar seorang duda." Maki Stella dalam hati.


"Anda tak perlu khawatir nyonya, saya sudah menanyakan jadwal anda pada perawat, mereka bilang anda belum mengkonfirmasi kehadiran, jadi mereka memundurkan jam praktek anda menjadi jam 11 siang." Jawab Dimas cepat, menanggapi kekhawatiran Stella.


"Benarkah, terimakasih Dimas, sekarang aku harus bersiap." Stella beranjak, hendak menuju ruangannya, lebih tepatnya melarikan diri.


Stella tercengang, Alex bahkan sudah menyiapkan baju ganti untuknya, rupanya mantan suaminya benar benar tak ingin ditinggalkan walau sesaat.


Stella tersenyum canggung ketika menerima paper bag dari Dimas, tanpa protes lagi ia pun masuk ke toilet untuk membersihkan diri dan bersiap.


Usai membersihkan diri dan bersiap, Stella kembali duduk dan memeriksa ponselnya, sambil menyantap nasi dan sup hangat yang sudah Dimas siapkan, Stella mengabaikan Dimas dan Alex yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka.


Terdengar suara pintu dibuka, rupanya Kevin menyusul mereka ke rumah sakit, ia menyerahkan segelas cappucino hangat untuk sang mommy, kemudian memilih duduk berdesakan dengan Stella agar ia bisa memeluk sang mommy. "Terima kasih sayang." Stella memeluk Kevin erat, menyalurkan bonding seorang ibu, yang selama ini tak Kevin dapatkan. "Kenapa menyusul kemari?" 


"Aku bosan mom, om Dimas kerja, dan aku bahkan ikut Mr. Tom mengantar Andre ke sekolah." Keluhnya manja.


Stella mengusap punggung Kevin, ia jadi teringat jika Kevin sudah terlalu lama meninggalkan sekolah nya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


yang belom mampir ke lapak bang Kevin, plis plis plis ngintip bentar yah, udah eps 13 loh,


di lapak ini othor coba mengobati luka hati bang Kevin di masa lalu, luka akibat perceraian Stella dan Alex.



Malam hari nya, ketika Kevin tiba di apartemen, ia nampak terkejut manakala melihat begitu banyak paperbag berjajar di ruang tamu, sementara Gadisya entah berada dimana.


"Gadisya … " ini pertama kali Kevin memanggil nama Istrinya.


Yang dipanggil buru buru menampakkan wajah penuh senyuman, dari dalam kamar mereka. "Iya … " 


Kevin tidak bertanya, namun netranya nampak menatap barisan paper bag yang memenuhi ruangan mungil apartemen mereka.


"Oh … ini, aku sudah berusaha menolaknya, tapi mommy memaksa," jawab Gadisya kikuk.


"Tak perlu menolak, ini adalah bagian terbaik menjadi istriku, walau hanya status palsu, nikmati saja tak perlu sungkan atau malu, karena ibumu dulu tak sempat menikmati ini semua." Sindir Kevin, Wajahnya terlihat sinis ketika mengucapkan nya.


Rupanya Kevin benar benar melaksanakan niat nya untuk semakin membuat Gadisya merasa tersakiti. 


Gadisya yang semula tersenyum, mendadak muram. "Apa maksud perkataan mu?" 


Tanpa ingin menjawab pertanyaan Gadisya, Kevin pun menuju kamar. 


Gadisya mengejar nya, "jawab pertanyaanku, apa maksud dari perkataanmu?" 


"Gadis sepintar dirimu, seharusnya faham maksud dari perkataan ku, tanpa perlu ku jelaskan." 


Melihat Kevin begitu santai dan datar setelah mengucapkan kalimat nya, membuat Gadisya agak terpancing. "Dengar yah, aku menghargai pernikahan ini, karena memandang kebaikan kedua orang tuamu, tapi jika kamu terus terusan menghina ibuku, aku tak yakin akan berapa lama aku bisa berpura pura menjadi istri yang baik."


Kevin mendekati Gadisya, tangannya menyelipkan rambut Gadisya ke balik telinga, sebaris tawa sinis menghiasi bibirnya, kemudian ia berbisik, "jangan bermimpi aku akan menceraikanmu begitu saja, karena kamu harus merasakan neraka pernikahan ini lebih lama lagi." Bisiknya.


Kevin seperti tak memiliki beban ketika mengucapkan kalimat tersebut, rasa benci dan amarah, seolah menutupi logika dan akal sehatnya.

__ADS_1


Gadisya terdiam dengan air mata meleleh di pipinya, "sebenci itukah kamu pada ibuku bang, hingga kamu tak melihat kalau aku sedang berusaha memperbaiki pernikahan tak masuk akal ini." Ujar Gadisya lirih, sementara Kevin sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.


__ADS_2