Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
42


__ADS_3

POV Stella


Perceraian, adalah momok yang menakutkan, siapa pun pasti tak ingin mengalaminya, terutama wanita, buruknya stigma masyarakat membuat status janda terasa semakin mengerikan.


Jika kami para janda menikah dengan mantan suami orang, maka masyarakat tak segan menjuluki kami pelakor, namun jika para suami kegenitan ketika melihat janda, masyarakat akan menjuluki kami sebagai wanita penggoda.


Syukurlah aku tak pernah mengalaminya, hal itu patut untuk disyukuri, karena aku tinggal di negara yang tidak terlalu usil memikirkan status janda seseorang.


Satu hal yang teramat ku sesali adalah, aku meninggalkan salah satu anakku, demi menyelamatkan anakku yang lainnya, mungkinkah hanya aku? mommy yang teramat tega meninggalkan buah hati yang teramat disayangi.


Hari hari yang berat ku lalui tanpa salah satu putraku, bahkan suara tangis histeris nya kerapkali menyambangi mimpi malam ku, tangisan itu begitu menyayat hatiku, dadaku terasa sesak tiap kali rasa rindu menghampiri.


Ku habiskan hari hari kelam ku tanpa Kevin di pelukan ku, ketika rasa rindu kian menghimpit perasaan, aku membuat diriku sendiri tersiksa dengan beratnya aktivitas, hingga tubuhku tak lagi sanggup merasakan sakitnya rindu, aku bahkan bisa melakukan 5 operasi dalam sehari, sesuatu yang terasa berat bagi rekan rekan sejawat ku, namun aku mampu melaluinya dengan baik, hingga aku bisa menyelesaikan pendidikan ku dengan cepat.


Hatiku kembali terkoyak oleh sakitnya rindu, ketika 7 tahun yang lalu, aku berdiri di ruang operasi dengan mantan suamiku sebagai pasiennya, pekerjaan yang seharusnya bisa aku lakukan dalam waktu singkat menjadi lebih lama karena aku berusaha semaksimal mungkin menjaga debaran jantungku yang kian menggila, dan tanganku yang bergetar sepanjang operasi berlangsung.


Itulah salah satu alasan aku tak pernah pulang ke Indonesia untuk menemui Kevin, walau rasa rinduku padanya sungguh teramat sangat, namun aku bertahan karena hatiku belum siap, belum siap jika harus kembali bertemu Kak Alex, papi dari anak anakku, dia yang mungkin kini sudah bahagia dengan istri dan keluarga barunya, sementara aku bahkan belum bisa melupakan mantan suamiku, heh sungguh menyedihkan diriku.


Dan kini Kevin tiba tiba hadir di hadapanku, membuatku merasa bahwa Tuhan sedang memberiku tamparan yang keras, bahkan Kevin yang belum dewasa secara hukum, berani datang ke hadapanku, demi bisa bertemu seseorang yang tak pernah ia temui sebelumnya, pasti ia melawan ketakutannya, lalu bagaimana dengan diriku? yang bahkan tak sanggup mengumpulkan nyali, Kevin datang seorang diri ke negara asing tanpa orang dewasa di sisi nya, aku benar benar merasa buruk di hadapan anakku.


Masih jelas dalam ingatanku, ketika ia pertama kali menatapku, kedua matanya berbinar bahagia, pelukannya lama, sungguh erat dan hangat kurasakan, aku bersyukur dia tidak membenciku seperti yang ku takut kan selama ini, ia bahkan terlihat selalu menempel padaku, kapanpun ada kesempatan.


Dengan tangan yang masih gemetar, kubuka selimut yang menutupi tubuhnya, air mataku kembali berlinang, menatap tubuhnya yang kini dipenuhi ruam kemerahan, Kevin pasti meminum susu coklat itu karena takut penyamarannya terbongkar, ia bahkan rela pingsan karena tubuhnya tak bisa mentolerir coklat yang masuk ke tenggorokannya, wajah nya yang selalu tersenyum lebar manakala menatapku,  kini nampak lesu dengan selang oksigen menempel di saluran pernafasannya, kembali ku tumpahkan tangis ku, aku bahkan tak peduli ada banyak pasang mata sedang mengawasi ku.


...✨✨✨...


"Saya sudah memberinya antihistamin, untuk meredakan reaksi alerginya." 


"Terima kasih dokter Jimmy." Jawab Stella lirih, setelah lebih dari 30 menit menangis, suaranya terdengar lirih.

__ADS_1


"Semoga putra anda bisa segera siuman dok." Dokter Jimmy berharap sepenuh hati, sekian lama ia mengenal dokter Risa, baru kali ini ia melihat dokter Risa dalam kondisi yang benar benar buruk, dokter Jimmy bahkan tak pernah melihat dokter Risa menangis, ia seperti wanita tangguh tanpa beban, namun kini siapa sangka ia tiba tiba hancur, karena melihat putranya pingsan karena meminum susu coklat, "jadi apakah ada yang ingin anda ceritakan dok?" Tanya dokter Jimmy.


"Dia bukan Andre," jawab Stella singkat.


Dokter Jimmy belum tersadar dengan ucapan dokter Risa, "maksudnya dok?" 


"Dia Kevin, saudara kembar Andre." 


Dokter Jimmy menatap Stella dan Kevin bergantian, surprise sekali, hari ini dokter Risa memberinya sebuah kejutan. "Jadi? Maksud anda, anda tidak menyadari mereka bertukar?"


Stella tersenyum hampa, "Yah begitulah, aku pasti mommy yang sangat buruk kan? dulu aku meninggalkannya bersama mantan suamiku, dan kini dia ada dihadapan ku, alih alih menyambutnya dengan bahagia, aku justru tidak mengenalnya, bahkan sudah membuatnya celaka." 


"Anda tidak salah dok, tolong jangan menyalahkan diri anda seperti ini, saya yakin putra anda akan mengerti dengan keadaan anda." Jimmy mencoba menghibur Stella. "Istirahat lah dok, anda pasti lelah, kami akan berjaga disini, memantau kondisi Kevin." 


"Tidak, kalian saja yang istirahat, aku akan menemaninya malam ini, ini adalah hukuman bagiku, karena sudah menjadi mommy yang buruk." 


Dokter jimmy pun berlalu pergi tanpa mengatakan apa apa lagi, karena tak ingin lagi mendengar Stella menyalahkan dirinya sendiri.


Hingga pagi menjelang, Stella masih berada di sisi tempat tidur Kevin, hanya bedanya ia kini terlelap dengan tangan Kevin berada di genggamannya, wanita yang nyaris tak pernah mengaku lelah itu pun lunglai di hadapan putranya, tubuhnya terasa sangat letih untuk kembali berlari mencari tempat persembunyian. 


Pukul 06.00 waktu setempat.


Akhirnya Kevin membuka mata, nafasnya mulai normal, namun lidah dan tenggorokannya masih terasa kurang nyaman, 'dimana aku?' tanya nya dalam hati, pelan pelan dia mengingat hal terakhir yang dilakukannya, 'ahh iya, susu coklat, pantas saja aku berakhir di sini' ujar nya ketika berhasil mengingat apa yang terjadi, 'oh tidak … mommy, bagaimana dengan mommy, dimana mommy?' kevin yang panik membuat tangan dan kakinya bergerak hingga membangunkan Stella.


Stella yang merasakan ada pergerakan di sekitarnya, segera membuka mata, dia duduk tegak menatap Kevin yang juga telah siuman dari pingsannya, air mata bahagia mengalir di pipinya, hatinya kini di penuh rasa syukur yang tak terkira, melihat Kevin kembali siuman, Stella membungkuk agar bisa memeluk Kevin, tangisnya kembali tumpah manakala mereka berpelukan.


Stella mengurai pelukannya, dia mengusap air mata yang membasahi wajah kevin dengan sentuhan lembut nya. "Mom … aku minta maaf." Ucap Kevin lirih.


Stella menggeleng pelan, "kenapa harus minta maaf?" 

__ADS_1


"Berjanjilah, mommy tak akan memarahiku." Pinta Kevin.


Stella mengangguk.


"Maaf karena sudah membuat kekacauan, maaf karena kami lancang bertukar tempat, tapi … " Kevin terlihat ragu ketika hendak melanjutkan kalimatnya.


"Tapi apa … hmmm?" Stella menanti kelanjutan kalimat Kevin.


"itu semua karena aku merindukanmu mom." Ucap Kevin tulus, air matanya kembali menetes.


.


.


.


.


.


.


Next orang terakhir yang kita tunggu, akan mengetahui rahasia si kembar 🥳🥰


.


.


.

__ADS_1


.


oh iya, jangan lupa besok 2 eps spesial untuk para readers tersayangku 🤓🤓


__ADS_2