
Sesampainya Stella di kamarnya, ia menyandarkan tubuhnya di pintu kemudian merosot begitu saja seolah tak bertulang, sepanjang perjalanan tadi ia mencoba sebisa mungkin menahan debaran jantungnya, berkali kali ia menaik turunkan nafasnya, namun tetap saja ada debaran aneh yang menyelinap diam diam dalam dadanya, apakah ia sedang jatuh cinta lagi? Tiba tiba wajahnya memerah.
Dengan jari jari tangannya, Stella meraba bibirnya yang masih mati rasa akibat ulah Alex beberapa saat lalu, dan s**l nya lagi ia membalas apa yang dilakukan Alex tadi, Stella sungguh malu, apa yang Dimas pikirkan tentang dirinya yang keluar dari ruangan mantan suaminya, Stella menepuk pipi nya beberapa kali, mencoba menetralkan perasaannya.
Sesungguhnya jadwal dirinya menjadi pembicara seminar medis, masih 2 jam lagi, tadi ia hanya beralasan agar bisa melarikan diri sesaat, karena ini masihlah terlalu tiba tiba bagi dirinya.
Stella teringat ketika Semalam ketika hendak memasuki kabin pesawat tiba tiba ponselnya berbunyi, ternyata dokter Han sendiri yang meneleponnya.
"Iya prof, saya masih di jakarta."
"Baguslah, tolong gantikan aku untuk menjadi pembicara seminar medis selama 3 hari, dan juga praktek rawat jalan di William Medical Center Jakarta."
"Apa anda baik baik saja prof, ini terlalu mendadak."
"Begitulah, beberapa saat lalu dadaku terasa nyeri, dan susah bernafas,"
Ada rasa bahagia manakala ia harus memperpanjang masa tinggal nya di indonesia, bahkan andre bersorak kegirangan memeluk dan menciumnya karena mereka urung kembali ke singapura.
Dan semalam setelah memulangkan Andre ke rumah keluarganya, ia pun menuju Twenty Five Hotel, tempat diadakannya seminar medis tersebut.
Sejak malam ia tak bisa tidur membayangkan esok pagi akan mengejutkan Alex dengan keberadaannya di di tempat kerja mantan suaminya, padahal semalam mereka saling berpamitan.
Ternyata pertemuan mereka sungguh tak terduga, pagi itu Stella masih gugup, maka untuk menetralkan perasaannya, ia memilih lari pagi di ruang gym yang disediakan hotel.
Usai berolahraga ia ingin ke breakfast room, namun tiba tiba ia tertarik dengan kedatangan Isabella yang berpakaian serba mini, hingga peristiwa pencopetan yang mengharuskannya menjadi superhero dadakan beberapa saat yang lalu.
Dan kini ia kembali ke kamar bahkan ia belum sempat sarapan.
✨✨✨
Breakfast room masih ramai didatangi para tamu hotel, Stella yang sudah rapi dengan pakaian resminya kini tengah menyantap sarapannya, jurnal medis menjadi teman sarapannya pagi ini, ia nampak serius belajar seperti siswa yang akan menghadapi ulangan.
Tanpa ia sadari ada seseorang yang kini tengah berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Dokter Risa?" Sapa orang itu.
Stella mendongak, sebaris senyuman itu muncul manakala menatap siapa orang yang tengah menyapanya.
"Oh selamat pagi tuan Sergio" sapa Stella.
Abimana tak menyangka akan berjumpa dengan dokter Risa pagi ini, beberapa hari lalu seharusnya jadwal nya kontrol dengan dokter Risa, dan ia sudah sangat bahagia menantikan hari itu tiba, namun ia terpaksa melewatkan jadwal pertemuannya dengan dokter Risa, karena ia harus ke jakarta demi membalas perlakuan Alexander terhadapnya.
"Waahhh sungguh hal tak terduga bisa berjumpa anda di sini."
Stella tersenyum, senyuman tercantik yang pernah Abimana lihat, senyuman yang selalu menyapanya di pagi hari ketika ia terbaring di William Medical Center Singapura.
"Saya juga tidak menyangka, akan menemui anda di sini tuan," balas Stella.
"Sayang sekali anda mengecewakan saya dok," Abimana pura pura merajuk.
"Oh … benarkah??" Tanya Stella.
"Anda sudah berjanji tak akan memanggil saya dengan sebutan Tuan, kenapa anda masih melakukannya."
Abimana tersenyum, hatinya berbunga bunga, padahal pertanyaan yang dilontarkan Stella adalah pertanyaan sederhana. "Keduanya, berbisnis sekaligus berlibur." Jawab Abimana, "kalau anda?"
"Oh iya, saya harus mengisi seminar medis,"
"Waaah pasien anda pasti sedang kecewa karena tak bisa berjumpa dengan anda dok."
"Ah … iya, mau bagaimana lagi, kebetulan saya sedang di indonesia, dan dokter yang seharusnya mengisi sedang sakit, jadi saya diminta menggantikan beliau."
"Apa dokter juga akan praktek di sini?" Tanya Abimana lagi.
"Iya, rencananya seperti itu … tapi saya belum konfirmasi jadwal,"
"Kalau begitu, saya harus segera mendaftar jadi pasien pertama anda."
__ADS_1
Stella hanya menanggapinya dengan senyuman.
kemudian Abimana pamit, karena memiliki urusan yang harus ia selesaikan dengan segera.
Sementara itu, dari jauh ada sepasang mata elang mengawasi dengan geram, ia tak rela wanitanya didekati pria lain, terlebih lagi pria itu adalah musuh bebuyutan nya.
✨✨✨
Ternyata peserta seminar medis yang dihadiri Stella, adalah para mahasiswa kedokteran, ada beberapa dokter senior yang menghadiri acara tersebut sebagai pembicara, termasuk dirinya dan orang yang sama sekali tidak ia duga, dokter Alan.
(Hahaha … othor tertawa jahad, baru sebentar bos duda di kasih yang manis manis, sekarang langsung di buat cemburu dengan kedatangan dua orang rival 🤪🤪 sabar ya bos, kalau jodoh pasti ketemu)
Siang itu usai materi pertama usai, Stella tampak terlibat obrolan dengan Alan di sela sela coffee break, bukan obrolan tentang seminar, hanya sedikit membicarakan masa lalu.
"Apa kabar kak?" Tanya Stella.
"Yah seperti yang kamu lihat." Jawab Alan.
Mereka Pun terdiam, sambil menatap kopi di gelas masing masing. "Kakak sudah menikah?"
Alan tersenyum samar, saat ini pertanyaan seputar pernikahan adalah momok yang memuakkan baginya, sejak dirinya resmi menjadi dokter muda, sudah dihadapkan dengan pertanyaan seputar pernikahan, tak pernah ada yang mengertikan hatinya, bahwa ia patah hati dengan seorang wanita, dan wanita itu kini ada di dekatnya.
"Sejujurnya, aku masih mengharapkanmu." Ucap Alan tanpa ragu, "waktu itu aku melepasmu karena Alex mengatakan ia akan menjagamu seumur hidupnya, walau ia belum memiliki rasa padamu, dan sekarang? Kamu bahkan sudah 14 tahun bercerai darinya, kenapa waktu itu kamu tak kembali padaku?"
Stella pun tak tahu, saat ia bercerai,yang ia pikirkan hanya satu, yaitu melanjutkan pendidikannya, tak terpikir lagi untuk menikah, "karena aku hanya mencintai nya, walau terlalu sakit."
Alan tersenyum pahit. "Ternyata di situ letaknya, cintamu sudah berpaling."
"Berbahagialah kak, aku yakin ada seorang wanita yang sedang tulus menantikan mu, kakak hanya perlu membuka hati dan pikiran."
Alan tertawa, namun hatinya muram, ia bersahabat dengan Alex sejak di junior High School, namun menguap begitu saja karena seorang Stella, pada awalnya Alex yang memperkenalkan Stella padanya, gadis yang tangguh, cantik, sekaligus baik hati, sungguh perpaduan sempurna, yang membuatnya jatuh cinta untuk kali pertama pada seorang gadis, beberapa bulan kemudian mereka resmi berpacaran, bahkan Alan rela mengubah jalur pendidikan nya demi bisa selalu bersama Stella.
Namun badai itu datang menerpa, tiga tahun setelah ia berpacaran dengan Stella, tiba tiba Alex mengatakan padanya, bahwa keluarga Geraldy dan keluarga William, sepakat menjodohkan mereka.
__ADS_1
Mimpi mimpi yang sudah ia persiapkan untuk gadis pujaannya pun sirna sudah, tak ada lagi hari hari indah, yang ada hanyalah duka, Alan melepaskan Stella karena ia sangat mencintai nya, tak ada yang bisa ia lakukan karena saat itu ia pun bukan siapa siapa, namun kini di seantero William Medical Center siapa yang tak kenal dokter Alan, dia termasuk dokter senior yang sangat diperhitungkan prestasi dan jam terbangnya di ruang operasi.