Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
92.


__ADS_3

Jika ada beberapa keluarga pasien yang bertanya, kenapa ruangan VVIP itu selalu ramai? Jawabannya adalah karena penghuni nya spesial, mereka adalah keluarga dari pemilik rumah sakit, dan lagi Keluarga dekat bahkan beberapa rekan kerja Stella di Singapura datang berkunjung tanpa mengenal waktu.


Bahkan Mama Lani dan Mama Anna yang selalu ada dikamar Stella, mereka bahkan tidak mau pulang, walau untuk beristirahat sejenak, mereka terlampau bahagia karena sebentar lagi akan kembali berbesan.


Stella senang sekali dengan keberadaan kedua wanita tersebut, kehadiran mereka teramat sangat membantu, rasanya ia seperti kembali kemasa 15 tahun yang lalu, hari di mana ia melahirkan si kembar, kala itu ia menjalani proses kelahiran secara cesar, karena kondisi si kembar yang semakin besar, sementara usia kehamilan masih 36 minggu.


Tentu saat itu Alex tak ingin mengambil resiko dengan obat yang memicu kontraksi, jadi ia memilih cesar, lagi pula ia kasihan pada sang istri yang sudah membawa beban berat selama berbulan bulan.


Jika Stella menyukai kehadiran mama Anna dan mama Lani, Alex justru sebaliknya, ia cemberut, karena kedua wanita itu mengambil perannya, bahkan mama Lani menyuruhnya tetap bekerja seperti biasa, karena mama Lani kasihan melihat Dimas berkali kali mendatangi rumah sakit hanya untuk sekedar meminta tanda tangan Alex.


Pagi itu Stella sedang menikmati sarapannya ketika mama Lani memaksa Alex untuk pergi mengurus pekerjaan.


"Pergilah … dan percayakan Stella pada kami," 


Alex tak bergeming, ia justru diam dan menatap Stella yang sedang menghabiskan makanannya. "Kakak mau sarapan juga, makanan pasien gak enak loh." Kata Stella yang heran dengan Alex yang sejak tadi menatap nya. 


"Jangan Stella, nanti dia tidak jadi pergi kalau kamu menyuruh nya sarapan di sini," potong mama Lani.


Stella mengangguk paham, lalu memberi kode pada mama Lani bahwa ia akan membujuk Alex agar pergi bekerja.


Mama Lani pun paham, lalu kembali duduk di sofa bersama Mama Anna yang tengah menikmati kudapan.


"Kalian para wanita, benar benar mengerikan,"


Gumam Alex, yang otomatis mendapatkan hadiah pukulan di lengannya.


"Jangan bicara begitu pada mama, bagaimana kalau anak anak menirukan perkataan mu?" 


Alex mengangguk, "buka mulut," perintah Stella.


Alex pun menurut, lalu stella menyuapkan makanan pada Alex, sesaat setelah mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya, ekspresi Alex nampak aneh, "ini tidak ada rasanya." Protes Alex.


"Iya aku tahu, karena itulah kakak harus pergi kerja, nanti pulang kerja belikan sup daging untukku, oke?" 

__ADS_1


Dengan terpaksa Alex menyetujui permintaan Stella, karena ia sudah terlanjur masuk dalam jebakan wanita itu.


"Tapi, kalau kakak tidak mau, biar Dimas saja yang belikan, lagi pula sepertinya Dimas lebih paham apa yang ku inginkan." Pancing Stella, yang otomatis membuat Alex cemburu.


"Mana mungkin, tentu saja aku lebih memahamimu." Sungutnya, "ya sudah aku pergi kerja dulu yah, jangan nakal, atau kabur lagi seperti kemarin." Pesannya.


Stella Ingin tertawa rasanya jika melihat tingkah Alex. "Iya, aku akan disini sampai kakak kembali, jangan lupa jemput si kembar juga, kasihan mereka, karena setiap hari hanya diantar jemput oleh sopir." Pesan Stella.


"Mah … Alex pergi kerja dulu yah," pamit Alex pada mama Anna dan mama Lani.


"Iya hati hati yah." Jawab keduanya 


Stella melambai, ketika Alex kembali menatapnya sebelum membuka pintu.


"Jika tahu kalian akan bersikap semanis ini, harusnya sejak dulu saja kalian rujuk." Kata mama Anna.


"Jika terus bicara, seandainya, bila saja, atau seharusnya … tidak akan pernah selesai ma, tapi lama nya waktu perpisahan kami, membuat kami belajar mencintai dengan tulus, saling memaafkan, Kami sama sama bersalah, Papi nya anak anak yang terlalu lambat mengambil keputusan, sedangkan saya terlalu cepat memutuskan, tanpa memikirkan akibatnya." Wajah Stella tersenyum samar.


"Sekarang lupakan masa lalu kalian di dan mulailah kehidupan yang lebih baik, semoga tuhan selalu melimpahi kalian dengan kebahagiaan." 


Stella mengaminkan doa mama Lani.


✨✨✨


Malam itu, suasana kamar kembali ramai, Stella yang sudah mulai bisa bergerak leluasa dan berjalan, ikut bergabung duduk di sofa, semua orang tertawa bahagia, Dimas dan Steven sedang menemani si kembar bermain kartu, sangat seru sampai sampai wajah mereka penuh dengan coretan spidol, karena masing masing tak ingin mengalah.


Stella yang baru saja menghabiskan seporsi sup daging favorit nya, kini duduk di sofa bersandar dengan nyaman di pelukan Alex, mereka tersenyum mengamati si kembar bersama para uncle bermain kartu.


Karena para lelaki yang kini bersiaga menemani Stella, maka mama Anna dan mama Lani pun memutuskan untuk pulang dan beristirahat.


"Sayang kamu ingin kita bulan madu kemana?" Bisik Alex ketika mencium belakang kepala Stella.


Stella mendongak menata wajah Alex. "Haruskah kita bicarakan itu sekarang? Ada banyak orang di sini." Jawab Stella malu.

__ADS_1


"Tentu saja ini penting dan harus diperjelas, aku tak sabar ingin membuatmu terjebak denganku selama beberapa waktu, beberapa bulan jika perlu." 


Stella cemberut, tak menyukai ide Alex, "bagaimana nasib pasien pasienku? Bisa bisa mereka menghembuskan nafas terakhir, sebelum sempat bertemu denganku." Protes Stella.


"Jadi kamu lebih rela aku menderita?" Tanya Alex cemberut, si bos sedang mode merajuk.


"Bukan begitu maksudku, tapi … kalau aku terlalu lama cuti, kasihan para pasienku,kita bisa tetap pergi bulan madu, tapi jangan terlalu lama." Stella mencoba membuat penawaran, tentu saja hal itu membuat Alex makin cemberut. "Kita bisa pergi 5 hari atau paling lama seminggu, bagaimana?" 


Alex mendorong Stella menjauh, kemudian melipat kedua lengannya di dada, diam tak menatap dan juga tak menjawab.


"Hei jangan marah," bujuk Stella, ia mengusap pipi Alex.


"Kamu seharusnya tahu, kalau aku terlalu merindukanmu, karena itulah aku ingin bersamamu tanpa ada gangguan." Gerutu Alex. 


"Iya aku tahu, tapi menilik usia kita saat ini, sangatlah wajar kalau kita sibuk dengan pekerjaan, ada anak anak, yang tak mungkin kita tinggal terlalu lama,"


"Dua minggu, iya atau tidak sama sekali." Ujar Alex tak ingin lagi di bantah.


"Baiklah dua minggu oke, tapi Indonesia aja yah, aku bosan dengan suasana di luar negeri."


"Bali?"


"Raja Ampat?" 


Alex menawarkan kedua tempat itu, karena dulu mereka pernah berencana mendatangi kedua tempat itu, namun tak pernah terlaksana, karena kesibukan mereka, disusul kemudian Stella hamil, dan si kembar pun lahir, dan begitulah, rencana mereka hanya tinggal di angan angan, tak pernah terlaksana.


"Atau kamu ingin yang lain?" 


"Kalau keduanya boleh?" Stella memilih kedua wisata favorit nya tersebut.


"Sangat boleh," jawab Alex dengan wajah berseri seri. 


Keduanya berbalas senyuman, menanti datang nya cerita baru dalam kehidupan mereka.

__ADS_1


__ADS_2