
Anindita nampak mengerutkan keningnya, manakala menatap wajah Kevin, 'kenapa aku familiar dengan wajah anak ini?' tanyanya dalam hati, wajah ini seperti sudah sangat lama tidak ia jumpai, 'apa jangan jangan dia? Apa dia anaknya Alex?'
'Lalu, jika dia adalah salah satu dari si kembar, apakah dokter Risa adalah …' Anindita tak mampu melanjutkan kalimatnya, jadi selama ini mereka bercerai, apakah kehadiranku yang membuat mereka berpisa? Oh ya tuhan, salah apa istri Alex, hingga ia harus menyendiri selama 14 tahun, apakah Alex sudah menikah lagi? Kenapa mereka tak berbaikan? Aku bahkan sudah meninggalkan Alex, aku berharap ia bahagia dengan keluarganya, kenapa mereka justru terpisah.
Sepenggal rasa bersalah itu menyeruak memenuhi rongga dada Anindita, ia juga seorang wanita, dan jika di posisi istri Alex mungkin ia tak akan bisa setegar dokter Risa, air mata Anindita mendadak meluncur begitu saja, mungkin sangat terlambat ia menyesali ini, dan ia bahkan sudah dibully para readers sepasang mantan, tapi Alex tak pernah memberitahunya bahwa ia dan istrinya bercerai.
Stella menyadari Anindita berlinang air mata, sudah bisa ia tebak, mungkin karena melihat wajah Kevin, anindita jadi bisa menebak kemudian menyimpulkan, "everything its okay, semua sudah berlalu, kita tak akan bisa kembali ke masa lalu, dan kini kami ingin mencoba kembali." Ucap Stella dengan senyum tulusnya, bagaimanapun masa lalu tak akan bisa terulang lagi, yang terbaik adalah mengikhlaskan masa lalu, agar bisa terus melangkah ke depan.
"Mom … " belum selesai keterkejutan Anin, tiba tiba sebuah suara kembali mengagetkannya, kali ini seorang lagi berwajah 99 persen sama dengan Yang pertama.
"Lho Kevin bilang kalian datang bersama papi?" Tanya Stella yang tak melihat kehadiran Alex.
"Daddy menunggu di lobi, karena sedang menerima telepon penting." Jawab Andre
"Oh baiklah, mommy harus ganti pakaian dulu, apa kalian bisa menunggu?"
"Mom, aku ingin ke toilet," Andre.
"Baiklah, ayo ikut mommy, Kev apa kamu mau menunggu di sini? Atau mau ikut mommy?" Tanya Stella pada Kevin yang masih terdiam tanpa suara.
"Aku akan menunggu di sini," jawabnya penuh maksud.
(Modusmu bang, bilang aja mau kenalan😁🤪)
Stella pun berlalu, ia meninggalkan Kevin bersama suster Anindita dan Gadisya.
Anindita menatap wajh Kevin, semakin di tatap, semakin mirip dengan Alex, hanya warna mata dan rambutnya saja yang berbeda.
"Sya … apa kalian satu sekolah?" Tanya Anindita, ketika menyadari warna seragam sekolah Gadisya sama dengan si kembar.
Gadisya hanya mengangguk, sejujurnya ia bingung, kenapa sejak tadi Kevin terus menatapnya, ia jadi risih sendiri, jika ia adalah Amelia atau Karin teman sekelasnya, pastilah sudah bahagia, tapi selama ini ia sama sekali tidak tertarik memperhatikan si anak sultan di hadapannya kini.
Maklumlah, sudah jadi rahasia umum jika Kevin memang tampan dan lagi dia memiliki julukan anak sultan, karena kesuksesan Alex dalam mengelola Twenty Five Hotel, hotel mewah milik keluarga Geraldy, karena itulah, di Junior High School, Kevin adalah idola teman teman perempuan di kelas Gadisya, bahkan di kelas sebelah sebelah nya juga.
Dan belakangan sekolah mereka semakin heboh karena ternyata, si anak sultan bukan cuma 1, mereka 2 bersaudara dan kembar, sama sama tampannya, seantero sekolah benar benar heboh karena keberadaan mereka, sampai sampai berita mereka bertukar tempat beberapa minggu lalu pun, menjadi perbincangan viral.
__ADS_1
"Iya bu, kami satu sekolah, tapi Kevin di tingkat 3" jawab Gadisya berbisik.
"Oooh namanya Kevin?" Tanya Anindita.
Gadisya mengangguk, "saudara kembarnya namanya Andre,"
Kali ini Anindita yang mengangguk, mereka bicara berbisik, seolah Kevin adalah makhluk langka.
"Bisakah kalian tidak berbisik? Aku jadi seperti makhluk asing dari planet *krypton." Ujar Kevin dengan wajah jutek nya.
(Bang kepin, kapan hari menjuluki teman temannya dari planet Namek, dan sekarang dia sendiri dari planet Krypton🤭)
Anindita terkekeh, "ups maaf," ucap Anin.
"Sya, tunggu ibu di sini yah, ibu ada perlu sebentar."
"Iya bu," jawab Gadisya," ia pun duduk di kursi panjang tak jauh dari Kevin.
Keduanya terdiam, sama sama tak tahu harus berkata apa, jika di sekolah Kevin tak berani terang terangan menatap Gadisya, beberapa saat lalu ia bahkan tak mengalihkan pandangannya, wajah ayu itu benar benar membuatnya penasaran, ia satu satu nya gadis yang terlihat biasa saja ketika melihat nya, apakah dirinya tak cukup tampan di mata gadis ini, Kevin sungguh penasaran, tapi lagi lagi ia tak tak cukup bernyali untuk berucap.
Lain Kevin lain pula Gadisya, gadis ayu itu memang tak pernah tertarik dengan hal lain selain belajar dan belajar, sadar bahwa sang ibu sudah bekerja sangat keras demi bisa mewujudkan cita cita nya, dan lagi ibunya pernah mengatakan bahwa 'harta benda bisa di curi, tapi ilmu, sampai kapanpun tak akan ada yang bisa mencurinya', karena itulah, ia hanya peduli dengan belajar belajar dan belajar, agar ibunya bisa bangga terhadap dirinya.
Gadisya tersenyum canggung, "hai juga," balasnya.
Suasana kembali sunyi, nampak sekali keduanya malu malu.
🌻🌻🌻
Gerry membuka loker nya, seperangkat senapan dan pistol kini terpampang di hadapannya, wajah bengisnya menyeringai, ketika ia memilih 3 buah pistol favoritnya, ia pun menyelipkan sebuah pistol di balik jas, kemudian satu lagi di pinggang dan satu lagi di betis, sudah ada sarung pistol yang melingkar di betisnya, kemudian ia menurunkan celananya, menutupi pistol tersebut.
Misi kali ini, ia tak boleh gagal, selain karena dendam pribadi, ia sudah membayangkan upah dari Gio yang berjumlah fantastis seperti biasa.
Yah, sejak dulu tanpa sepengetahuan Abimana, Gerry selalu diam diam menerima tugas dari Gio, demi memenuhi pundi pundi keuangannya, salah satu tugas dengan honor fantastis yang pernah ia terima adalah, merekayasa kecelakaan mobil Abimana dan Kekasihnya, yang sebenarnya tujuan utamanya adalah menghabisi Rebecca, dan ia berhasil, sejak itulah ia semakin dipercaya oleh Gio untuk melakukan tugas berbahaya lainnya.
Rasanya ia sudah merasa jadi seseorang yang hebat, tapi kebanggaanya hanya berlangsung sesaat, semuanya seakan sirna manakala ia dikalahkan seorang wanita di rumah sakit tempo hari, hingga saat ini ia masih menyimpan dendam pada wanita tersebut.
__ADS_1
Akhirnya, dengan sedikit siasat, ia meracuni pikiran Gio, hingga Gio kini menugaskannya untuk menangkap wanita tersebut, tentu Gerry membutuhkan pancingan agar wanita itu mau datang dengan sukarela kepadanya.
Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.
Tuan, tempat persembunyiannya sudah siap.
Baguslah, sebentar lagi kita jalankan misi nya, apa kamu masih mengawasi anak itu?.
Masih tuan, tapi dia selalu dikawal ketat oleh orang orang khusus.
Pasti ada celah, tetap awasi dia.
Baik tuan.
.
.
.
.
.
*planet Krypton, tempat asal Superman.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Sampai jumpa esok di jam kunti 👻👻👻