
Kesibukan para karyawan, mewarnai pagi di Twenty Five Hotel, masing masing karyawan bertugas dengan tertib dan teratur, Cleaning service memastikan semua tempat bersih dan mengkilap, bahkan jika memungkinkan debu debu tak di izinkan untuk kembali masuk ke celah celah sempit, bagian dapur menyiapkan sarapan terbaik untuk menyambut pagi hari para tamu, petugas laundry berkeliling, untuk membersihkan kamar para tamu, termasuk mengganti sprei dan peralatan di dalam kamar mandi, dan Front office memasang senyum terbaik untuk menyambut kedatangan para tamu.
Semuanya bekerja dengan irama yang tertib dan teratur setiap hari nya, itu semua karena kini Twenty Five Hotel adalah hotel bintang lima dengan Standard internasional, maka Alex pun menggaji mereka dengan nominal yang tidak main main jumlahnya, sebagai ganti dari dedikasi dan kesungguhan para karyawan yang bekerja di bawah naungannya.
Menjelang siang Alex baru menginjakkan kaki di Twenty Five Hotel, itu semua karena paksaan Andre yang masih ingin berlama dengan Alex, berenang dan sarapan pagi bersama daddy.
Alex tersenyum sendiri mengingat tingkah lucu putra nya, Kevin bahkan meminta di suapi, Alex sendiri sudah lupa kapan terakhir kali menyuapi Kevin.
Sementara Dimas yang duduk di belakang kemudi, hanya tersenyum melihat tingkah Alex yang terus tertawa sendiri, di tengah kegiatan nya memeriksa beberapa dokumen penting.
"Dimas ... malam nanti pergilah ke Singapura, dan serahkan dokumen ini langsung pada manager." perintah Alex.
Dimas terkejut, biasanya jika hanya ke Singapura Alex selalu pergi sendiri, "Kita bisa mengirimnya via email bos, atau anda bisa pergi dan saya akan menemani anda dengan senang hati." Dimas menyarankan, berharap agar setidaknya Alex berpapasan dengan Stella, yang bahkan berada sangat dekat dengannya, namun entah kenapa mereka tak pernah bertemu.
(hahahaha ... rasain, ini semua ulah othor Dim, kamu tak akan mampu menghentikan othor berbuat jahil pada Alex๐)
"Tidak, aku tak ingin meninggalkan Kevin lagi, baru kemarin aku pulang dari bepergian, lagi pula aku ingin kamu kesana langsung, untuk memastikan kondisi Abimana."
"Baiklah Bos," Dimas menjawab patuh.
"Jam berapa Kevin pulang sekolah? Aku ingin menjemputnya," tanya Alex.
"Jam 3 sore bos, dan sayangnya anda tak bisa menjemput, karena anda ada janji dengan nona Isabela."
"Bisakah di batalkan saja, aku malas bertemu dia." Alex mendesah malas mengingat kelakuan Isabela yang semakin keterlaluan jika di dekatnya.
"Anda sudah menundanya sejak sebulan yang lalu, anda bilang akan menemuinya sepulang dari Swiss."
__ADS_1
Alex pun diam tanpa lagi menjawab, sebenarnya dia ingin mengajak Kevin main di mall usai kevin pulang sekolah, namun sayangnya semua itu harus ia tunda, karena urusan pekerjaan.
Alex berjalan keluar dari mobilnya, duda mapan itu tampak gagah dengan setelan jas mahalnya, dan sepertinya sudah hal yang biasa jika Alex melewati lobi utama hotel, para karyawan nya langsung berdiri memberi hormat, dan para karyawan wanita buru buru merapikan penampilan mereka berharap si duda tampan itu bersedia melirik kearah mereka, namun harapan mereka sia sia belaka, karena Alex tidak pernah melirik mereka, kecuali ketika sedang berbicara, ia akan dengan intens memandang lawan bicaranya, Alex bahkan tidak pernah terlibat hubungan dengan wanita manapun. Ia benar benar mengubur dirinya dalam kesendirian dan kesepian yang panjang.
3 tahun setelah kepergian Stella, Melani sang mama sempat beberapa kali ingin mengenalkannya pada beberapa gadis yang ia kenal, namun Alex bahkan tidak pernah menghadiri undangan kencan tersebut, hingga lama lama Melani pun menyerah.
Bagi Melani sendiri, melupakan mantan menantunya merupakan hal yang teramat sulit, pasalnya, Selain Stella adalah menantu yang baik, ia juga putri dari kawan baiknya, bagaimana dengan Alex yang bahkan pernah tinggal bersama Stella, dan merasakan kedekatan secara fisik dan emosional, pasti lebih berat lagi untuk menghapus jejak Stella, karena itulah Melani hanya berharap semoga kelak Stella bersedia menerima Alex kembali.
Lantai 17
"Selamat pagi menjelang siang bos," Bu wanda Sekertaris Alex berdiri menyambut kedatangannya, "Maaf Bos, tapi Nona Isabela sudah menunggu anda di dalam, beliau bilang sudah membuat janji temu,"
Alex mengangguk, kemudian berjalan masuk keruangan nya, seperti biasa dimas ikut menemani si dalam ruangan jika Isabela datang.
"Selamat siang Nona Isabela, maaf saya agak sedikit terlambat,"
Wanita bernama Isabela itu pun berdiri menyambut kedatangan sang pemilik ruangan, wajah nya cantik dengan polesan makeup tebal, dia memakai setelan formal, tapi rok span yang ia kenakan memiliki belahan hingga menampakkan setengah paha mulusnya, blouse didalam balutan blazer nya tampak nyaris transparan, belum lagi Isabela sengaja membuka dua kancing bagian atas hingga menampakkan belahan dada nya.
Beberapa kali juga rekan bisnisnya mencoba menjodohkan nya dengan anak gadis mereka, namun tentu saja Alex menolaknya dengan tegas, Alex benar benar menutup hatinya, membiarkan hatinya sedingin kutub, tersiksa dalam kesepian yang panjang, yang entah kapan othor berbaik hati mempertemukannya kembali dengan sang mantan Istri.
(Sabar ya bos, biar si kembar yang bekerja, bos tunggu aja ๐)
"Selamat siang tuan Alex," Senyum menggoda tak lupa ia sematkan.
Alex seperti biasa memberikan tatapan dinginnya, dia sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya wanita, walau dia berpenampilan terbuka sekalipun. "Apa anda membawa proposal kerjasamanya?"
"Tentu tuan, saya sudah menyiapkannya," Isabela menyerahkan map tebal yang dia bawa bersamanya.
__ADS_1
Isabela sengaja menundukkan tubuhnya hingga belahan dadanya terekspos dengan sempurna, Dimas yang tak sengaja melihatnya hanya bisa menelan ludah, "Bos, ada pemandangan indah di depan matamu." Dimas membatin, darah jomblonya bergejolak dan berteriak.
Alex menerima map tersebut, tanpa berminat melirik Isabela, dia membuka dan membacanya sekilas, "Baiklah ... "
Kalimat Alex terputus karena Isabela buru buru menyela ucapannya.
"Tuan, sebentar lagi jam makan siang, bisakah kita membahasnya sambil makan siang? di restoran dekat sini juga tak masalah." Isabela mencoba memanfaatkan situasi.
"Maaf beberapa saat lalu, anak saya memaksa saya makan begitu banyak, jadi saya belum berselera untuk kembali makan," mendengar jawaban Alex, Dimas hanya mengulum senyumnya
"Bilang saja anda menolak bos, jelas jelas tadi anda hanya makan 2 buah apel untuk sarapan." ujar Dimas dalam hati.
Lagi lagi Isabela hanya menelan kecewa, karena triknya kali ini pun tidak berhasil, "Ah ... iya, baiklah."
"Saya akan pelajari dulu proposal anda, jika nanti sudah keluar hasilnya, asisten saya akan memberitahukan pada anda, langkah selanjutnya."
Isabela tertegun, ia begitu terpesona pada duda yang satu ini, dingin sih, tapi sangat tampan dan menggoda hatinya.
"Sudah selesai nona, jadi silahkan," ucap Alex tanpa basa basi, dan seketika membuyarkan lamunan Isabela.
"Maaf ?" tanya Isabela berpura pura tak mengerti.
"Proposal anda sudah saya terima, jadi silahkan pergi, karena saya harus bersiap untuk rapat penting."
"Iya ... oh ... uh ... baiklah..." jawab Isabela gugup, "Dasar Alex 514lan, untung saja kamu kaya dan tampan, jika tidak, aku sudah menendangmu ke lautan." gerutu Isabela.
"Baik lah kalau begitu saya permisi."
__ADS_1
"Hmmmm ... " Jawab Alex tanpa berdiri dari duduknya.
Sikap angkuhnya tersebut, tentu saja membuat Isabela semakin geram. wanita itu meninggalkan ruangan Alex dengan tangan terkepal dan wajah memerah menahan marah. "Awas kamu Alex, aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku."