
Oh, Dimas.
Beberapa saat setelah Stella berlalu, dari arah berlawanan, Alan berjalan dengan langkah tergesa gesa menuju ruang praktek dokter Elga.
"Apa ibuku, ada di dalam?" Tanyanya dengan nada khawatir.
"Benar dok, beberapa saat yang lalu, dokter Risa tang mengantar ibu anda kemari." Jawab perawat tersebut dengan ramah.
Kelegaan nampak terpancar dari wajah Alan.
Dan tanpa permisi atau mengetuk pintu terlebih ia membuka pintu dan masuk ke ruangan dokter Elga, seolah olah itu ruangannya sendiri.
Tentu saja dua orang wanita yang berada di dalam ruangan tersebut otomatis menoleh ke pintu dengan pandangan kaget.
Dokter Elga tampaknya tak peduli dengan kehadiran dokter Alan, ia sudah terbiasa dengan sikap pria itu semenjak mereka sama sama masih mahasiswa.
"Jadi bagaimana kabar ibu?" Tanya dokter Elga seraya membuka amplop hasil laboratorium bu Tyas.
__ADS_1
"Pagi ini ibu bangun dengan perasaan bahagia, karena akan bertemu denganmu dok." Jawab bu Tyas ramah, sejak beberapa bulan melakukan check up rutin ke poli obgyn, membuat bu Tyas merasa ada yang berbeda dengan dokter Elga dan putranya, karena itulah, kadang kadang bubTyaa sengaja mencari cari alasan agar bisa bertemu dokter Elga.
"Tak usah banyak basa basi, cepat katakan bagaimana hasil laboratorium ibuku?" Tanya dokter Alan tak sabar, bahkan tak sedikitpun wajahnya menunjukkan keramahan.
Tentu saja hal itu membuat bu Tyas semakin gemas melihat tingkah putra nya. "Apa kamu tak bisa bersikap sopan pada wanita ini, bagaimanapun dia dokter yang merawat ibumu, tunjukkanlah sikap manismu, bahkan pada mantan kekasih mu saja kamu masih bisa tersenyum, kenapa pada wanita baik ini kami tak bisa tersenyum?" bu Tyas tak dapat menahan emosinya, jadi ia pun melontarkan banyak kalimat tak menyenangkan pada Putranya.
Dalam sekejap, dokter Alan seperti terhipnotis, jika semula ia garang seperti harimau, kini ia jinak seperti kucing kecil manakala mendengar ucapan ibunya.
Dokter Elga tak mampu menahan senyumnya, bertahun tahun ia mengenal pria menyebalkan bernama Alan, baru kali ini ia melihat sisi lain seorang Alan Mahendra, teman, rival, sekaligus musuhnya semasa mereka masih menempuh pendidikan dokternya.
"Tidak ada masalah, hasil lab terakhir juga masih sama dengan bulan lalu, ibu anda seratus persen sehat dok." Dengan ramah dokter Elga menyampaikan hasil pemeriksaan bu Tyas.
"Tuh kan apa aku bilang, ibu tuh sehat, kenapa juga harus ke rumah sakit lagi, padahal baru satu bulan yang lalu ibu menjalani pemeriksaan." Ujar Alan tak bisa menyembunyikan apa yang ada di benaknya.
"Dokter … jangan hiraukan Alan, di memang seperti ini, karena itulah, sampai sekarang dia belum menikah, suamimu pasti senang sekali memiliki wanita baik hati di sisi nya." Entah sudah berapa kali bu Tyas mencurahkan isi hatinya perihal kesedihannya melihat sang putra yang hingga usia sekarang ini belum mau menikah.
Deg …
Ada secercah harapan baginya untuk membuat dokter Alan benar benar menjadi miliknya, yah walau terkesan bersaing dan bermusuhan, namun diam diam dokter Elga sudah sejak lama memendam perasaannya pada dokter Alan, mereka memang rival selama di bangku kuliah, namun rival dalam artian yang positif, persaingan nilai dan berebut perhatian dosen pengampu mata kuliah, tak pernah saling menjatuhkan, Bahkan dalam belajar pun mereka tak sembarangan memberikan informasi, mereka melakukannya dengan timbal balik, saling menguntungkan.
Sejak dulu Alan memang terkenal jutek, namun kejutekannya semakin bertambah parah setelah Stella dan Alex menikah, dari sanalah, Alan berubah menjadi pria dingin yang enggan berdekatan dengan para gadis.
__ADS_1
"Santai saja bu, toh dokter Alan laki laki, akan ada banyak wanita yang mengidolakan dia, saya seorang wanita yang sudah di cap sebagai perawan tua, justru akan lebih susah bagi saya jika ingin mencari jodoh." Jawab dokter Elga, bermaksud meredakan keresahan bu Tyas perihal Alan.
Tanpa diduga sorot mata bu Tyas berubah, semula ada kesedihan di matanya, kini nampak cerah berseri.
Alan pun melihat perubahan tersebut, ia benar benar tak bisa memahami isi hati seorang ibu, apalagi para wanita, benar benar tipe yang tidak peka.
(Makanya jadi perjaka tua 😅 akibat gagal memahami Stella, dan gagal memahami Elga)
"Cocok kalau begitu," bu Tyas tersenyum bahagia, "jadi menantu ku saja dok, biar status perjaka tua tak menempel lagi pada putraku,"
Jedeeeeerrr
"Buuuuu … " rengek dokter Alan, ia benar benar tak menyangka ibunya lagi lagi mengucapkan mantra andalannya manakala bertemu wanita yang belum menikah, Alan menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia benar benar frustasi dan malu dengan tingkah ibunya.
"Kami permisi dulu dokter Elga." Pamit Alan.
Dengan wajah menahan malu, Alan membantu Bu Tyas berdiri, dan memapahnya keluar dari ruangan dokter Elga.
Sementara itu, dokter Elga nampak mengulum senyumya mendengar permintaan bu Tyas.
"Kalau mendapatkanmu semudah ini, kenapa tak sejak dulu saja ku dekati ibumu."
__ADS_1
Tak bisa lagi berbohong, Elga tersenyum bahagia, bahkan bersorak dalam hatinya, mendengar pernyataan bu Tyas.