Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
112. Istri Untuk Alan.


__ADS_3


Istri Untuk Alan.



Hari ini Alex sengaja menemani Stella ke rumah sakit, ia ingin memastikan sendiri kecurigaan nya, benarkah Stella memang sudah mengandung buah cinta mereka, sepanjang jalan tak henti hentinya ia mengusap perut istrinya, sementara tangan kanannya memegang kemudi.


Rasanya sungguh berdebar penuh harap, sudah lama sekali ia menantikan si kecil yang akan meramaikan kediaman keluarga Geraldy.


Stella tersenyum geli, rasanya seperti mereka kembali pada masa ketika ia mengandung si kembar.


Hari itu pagi pagi sebelum ke Hotel, dan ia pergi ke kampus, Alex menyempatkan diri mengantarkannya ke dokter kandungan, karena malam sebelumnya Stella memperlihatkan hasil test pack nya yang ternyata positif, Alex bahkan menghujaninya dengan ciuman, manakala mendengar berita kehamilan Stella kala itu, bertambah lagi rasa bahagianya, manakala dokter mengatakan Stella tengah hamil bayi kembar.


Dua titik di layar monitor menandakan bahwa ada dua janin yang sedang tumbuh di rahim Stella, Alex bahkan tak kuasa menahan tangis bahagianya.


Walau saat itu, Alex menyimpan nama wanita lain di hatinya, tapi Stella tetap menempati tempat Spesial di lubuk hatinya.


Stella menggenggam telapak tangan Alex yang tengah mengusap perutnya, sebuah perhatian sederhana yang membuat nya merasa spesial, tak ada kata yang terucap, namun keduanya tahu cinta akan menguatkan hubungan mereka, dan bayi kecil ini akan menjadi pelengkap sekaligus pengikat kuat bagi keduanya.


Mereka tiba di rumah sakit beberapa saat kemudian.


Namun ada yang menggelitik rasa penasaran keduanya, yakni berita pernikahan Alan, baru saja salah seorang asisten Stella menyampaikan berita pernikahan Alan.


Alex dan Stella saling berpandangan tak percaya.


   


"Kenapa Alan tak memberitahuku?" Gumam Alex 

__ADS_1


"Mungkin dia masih sibuk kak, coba kakak telepon Kak Alan sekarang." 


"Ah, iya kamu benar …" Alex pun mengeluarkan ponselnya, hendak menghubungi Alan.


Tapi belum sempat ia melaksanakan niatnya, dari arah berlawanan, Alan menghampiri Stella dan Alex.


"Kenapa kalian menatapku?" Tanya Alan, ketika mendapati tatapan aneh kedua kawan baiknya.


"Seharusnya kami yang bertanya demikian," Alex memeluk Leher Alan seperti kebiasaan mereka dahulu.


"Memang ada masalah apa sih?" Tanya Alan lagi, ia benar benar heran dengan sikap Alex.


"Apa aku bukan kawanmu lagi?" Ujar Alex geram. "Kenapa mau menikah tapi aku adalah orang terakhir yang mengetahui beritanya?" 


"A … hahahaha maaf, aku baru akan mengantar undangan untuk kalian siang ini." Jawab Alan, yang masih belum bisa melepaskan lengan Alex, kini mereka terlihat akrab seperti dulu.


Beberapa saat kemudian, Alex melepaskan pelukannya dari leher Alan.


"Dasar kau …" Alex memukulkan tinjunya ke udara, seakan akan ingin menghadiahkan tinjunya pada Alex. "Siapa dia?, wanita malang yang akan menikahi si perjaka tua."


"Hahaha …" lagi lagi Alan tertawa keras mendengar gurauan Alex.


Stella sengaja tak berbicara, agar kedua sahabat baik itu bisa saling menumpahkan perasaannya.


"Teman kuliahku, kami tidak terlalu dekat sih, lebih seperti rival jika dikelas, dan sebulan yang lalu tiba tiba saja, ibuku meminta dokter Elga Menikah denganku." 


"Oh … dokter kandungan itu, kami akan menemui nya hari ini." Ujar Stella, "bukankah itu dokter yang di temui ibumu hari itu?"


"Dari hari itulah semua bermula, ibuku bahkan mogok makan berhari hari, hanya demi menungguku berkata 'iya'" Alan tersenyum kala mengingat hari itu.

__ADS_1


"Lalu dokter Elga? Di langsung menyetujui nya?" Tanya Stella penasaran.


"Awalnya dia ragu, tapi setelah ibuku menyampaikan niatnya secara langsung pada kedua orang tua dokter Elga, dia pun setuju,"  


Alex dan Stella tersenyum senang kala menatap wajah Alan, dokter muda itu tampak berseri seri ketika mengatakan apa yang terjadi, dibalik berita pernikahan nya.


"Baiklah, kita bicara lagi nanti, aku harus …" Alan menjeda kalimatnya. "Oh iya, ada perlu apa kalian menemui dokter Elga, apa jangan jangan?" 


Alex dan Stella hanya tersenyum simpul. 


Plak … Alan memukul lengan Alex 


"Hei Br3n9s3k, cepat juga kerjamu." Ujar Alan, yang sudah tahu pasti apa penyebab sepasang suami istri tersebut di ruangan dokter Elga, "aku pergi dulu, pasienku menunggu." alan pun pamit.


"Ayo, kita dapat no urut tiga, pasti sekarang sudah dimulai." Stella menggandeng tangan Alex, menuju ruang praktek dokter Elga.


Alex mengikuti kemana langkah kaki Stella membawanya, sekalipun Stella membawanya ke tepi jurang, ia akan menurut, asal bisa bersama sang kekasih hati.


Setibanya di lorong ruang tunggu, dua orang perawat sedang bersiap, "dokter Elga sudah datang?" 


"Oh … sudah dok, anda mau masuk lebih dahulu?" Perawat itu menawarkan.


"Tapi kami dapat antrian ketiga, apa tidak masalah?" 


"Tak masalah dok, lagi pula jam praktek belum lagi di mulai." 


Stella pun mengangguk.


"Silahkan tunggu sebentar, saya temui dokter Elga dulu." 

__ADS_1


"Terima kasih suster."


__ADS_2