Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
106. Oh, Dimas.


__ADS_3


Oh, Dimas.



Alex berlari kencang menghampiri mobilnya, kepanikan, rasa takut sekaligus cemas tengah merayapi dirinya, ia merasa seperti de javu, yah ia pernah mengalami  kejadian serupa, manakala mengejar Stella yang hendak pergi meninggalkannya empat belas tahun silam, kini ia kembali merasakan kepanikan itu, bahkan air matanya kembali mengalir tanpa permisi, ia takut sangat takut jika peristiwa yang dahulu meluluh lantakkan hati dan perasaannya akan kembali terulang, ia baru saja mulai merasakan bahagia setelah sekian lama tenggelam dalam duka kesendirian, susah payah ia berjuang kembali membawa sang wanita ke pelukannya, dan kini dalam waktu singkat seseorang tega hendak merusak apa yang telah lama ia perjuangkan.


“Siapapun kalian yang berani menyebarkan kebohongan ini, aku tidak akan memaafkan kalian, akan ku kejar kalian sampai ke lubang semut sekalipun.” desis Alex geram, ia menggenggam erat kemudi mobilnya hingga buku buku jarinya memutih.


Alex terus memacu kencang mobilnya, ramainya kendaraan tak membuatnya ragu untuk semakin dalam menginjak pedal gas mobilnya, ia bahkan tak lagi peduli dengan keselamatan nya, yang ia pikirkan hanyalah Stella seorang dan tujuan utamanya adalah William Medical Center.


Alex memarkirkan mobilnya dengan asal asalan, kemudian berjalan cepat memasuki Lobi utama, sayup sayup telinganya mendengar suara yang sangat akrab di telinganya, suara yang belakangan menghantarkan tidur lelapnya, sungguh merdu terdengar bagaikan simfoni musim semi, pandangannya terhenti manakala menatap layar lebar yang ada di lobi rumah sakit, itu adalah Stella tengah tampil  di layar kaca di acara Talk Show.


Tak perlu lagi melanjutkan perjalanan menuju ruangan istrinya, Alex berbalik pergi, dan kembali memacu kuda besinya menembus ramainya jalanan ibu kota.

__ADS_1


***


Usai acara Doktor Talk berakhir, Stella diantar sang produser meninggalkan lokasi pengambilan gambar, “dokter, kalau anda tidak keberatan, bisakah anda mengisi acara kami kembali minggu depan?” tanya Wira sang produser.


“mmm bisakah saya memikirkannya dahulu pak Wira?” jawab Stella bijak.


“Tentu dok, tapi besar sekali harapan kami anda bersedia tampil kembali di acara kami, bila perlu kami akan membuat kontrak tertulis untuk anda,” Wira terlihat sangat jelas tengah mendesak Stella agar kembali menjadi pendongkrak rating acara yang kini sedang dalam tanggung jawabnya tersebut.


Stella kembali menarik nafas dalam, “saya tidak bisa memberikan jawaban saat ini, dengan berbagai alasan, yang pertama, hari ini saya jadi pengisi acara karena menggantikan salah seorang kawan baik saya, yang kedua, saya perlu izin khusus dari suami dan anak anak saya, karena saat ini mereka adalah prioritas utama, yang ketiga, terkadang saya harus melakukan operasi darurat, apa anda tidak keberatan jika suatu saat, di tengah tengah acara saya harus pergi meninggalkan lokasi syuting?” 


“A hahahaha … baiklah dok, saya tidak akan memaksa, tapi tolong pikirkan baik baik dan segera beri kami kabar.” Wira tersenyum canggung.


Ternyata sungguh diluar dugaan, tepat ketika Stella membuka pintu Studio tempat acara berlangsung, para wartawan sudah berkerumun menunggu kehadirannya, merasa tak siap dengan apa yang kini tersaji di hadapannya, Stella reflek menutup wajahnya dengan menggunakan lengannya, puluhan kilatan blitz kamera dan  cahaya lampu. untuk sesaat menyilaukan matanya, selanjutnya, rentetan kalimat mulai terdengar, dan sungguh memaksa untuk di beri jawaban.


“dok, apakah berita itu benar adanya?”

__ADS_1


“dok, tolong berikan komentar anda.”


“dok, apakah anda mengenal Meta Permana?”


“dok, benarkah suami anda memang memiliki hubungan spesial dengan Meta permana?” 


Dan entah apa lagi pertanyaan para wartawan, Stella tak begitu peduli, rentetan pertanyaan itu hanya membuat Stella semakin sakit kepala, ditengah kebingungannya mencari jalan keluar dari kerumunan wartawan, tiba tiba seseorang mendesak masuk ke kerumunan, dan dengan sigap melingkarkan lengannya di pinggang Stella, siapa lagi jika bukan si aktor utama yang kini tengah jadi perbincangan.


Hembusan angin sore menerpa wajah keduanya, dan Stella selalu terbius oleh pesona pria yang kini kembali menjadi suaminya, getar getar cinta di hatinya, masihlah sama seperti dahulu, manakala ia mulai merasakan jantungnya berdebar hebat ketika ia menyerahkan diri seutuhnya pada pria ini.


Alex mengecup kening Stella sesaat sebelum memberikan pernyataan.


"Saya hanya berbicara sekali, jadi dengarkan baik baik," Alex menatap satu persatu wartawan yang kini ada di hadapannya.


"Saya, Alexander Geraldy," suara Alex bergetar, terlihat sekali ia tengah menahan amarahnya, Stella menggenggam erat tangan Alex, mencoba menyalurkan kekuatan dan dukungannya, "saya tekankan kepada siapa saja yang sudah menyebarkan fitnah tak berdasar, jika sampai dua puluh empat jam kedepan saya masih melihat ada pemberitaan ini, maka siapapun anda, kita akan bertemu di pengadilan, asal anda tahu," Alex menjeda kalimatnya sesaat, kini ia menatap wajah Stella yang juga tengah menatapnya dengan pandangan berbinar penuh cinta, "saya sangat mencintai wanita ini, dan dia juga adalah satu satunya alasan saya menduda selama empat belas tahun," Alex kembali menatap para wartawan. "Gaun itu saya beli, sebagai hadiah untuk calon istri asisten saya, jika anda sang pemilik gaun ingin menuntut ganti rugi, dengan senang hati akan saya berikan kompensasi."

__ADS_1


Tak lama ia membawa Stella meninggalkan kerumunan wartawan, kilat cahaya kamera dan lampu mengiringi langkah mereka hingga menghilang di balik pintu mobil, tak lama mobil pun bergerak meninggalkan kerumunan wartawan.


Sesampainya di jalanan yang lengang, Alex menghentikan mobilnya, sejak mesin mobil dihidupkan, Stella tak melepaskan pandangannya dari sang suami, ia seakan tak ingin melewatkan kesempatan menyaksikan wajah Alex yang sedang frustasi, takut kehilangan dan juga amarah yang ia tahan mati matian agar tak meledak di tempat yang tidak seharusnya.


__ADS_2