Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
116. Menanti kelahiran.


__ADS_3


Menanti kelahiran.



Morning sick, yang dikira Stella akan hilang Setelah usia kehamilan empat bulan, nyatanya tidak terbukti, ia masih terus mual dan muntah walau kini usia kehamilannya sudah menginjak bulan ke lima, dan akhirnya Stella memilih cuti dari rumah sakit, hingga waktu yang belum bisa ia tentukan.


Dan Alex benar benar membuktikan kata katanya, untuk sering berada di rumah, dan menemani istrinya, namun hal itu tak membuat mualnya berkurang, kini Stella justru merasa semakin manja, dan hanya ingin berdekatan dengan suaminya, jika suaminya terpaksa pergi pergi karena ada urusan pekerjaan penting yang tak bisa digantikan, Stella akan menangis sendiri karena Alex tak kunjung datang.


Mengerti dengan keadaan sang mommy yang sedang sensitif karena kehamilannya, Kevin dan Andre justru sering menemani mommy nya yang kini sering berada di rumah, bahkan mereka dengan setia ada di samping sang mommy sampai Alex kembali tiba di rumah, walau mereka yang justru ingin dipeluk Stella, tapi Stella tetap bahagia karena kedua putranya sungguh sungguh memperhatikan nya.


"Maaf kan mommy yah, karena mommy jadi lebih manja sekarang,"


"No … no … mom, jangan minta maaf, kami yang menginginkan adik, maka jika sekarang mommy jadi manja, tak masalah bagi kami," Andre mengusap perut Stella.


"Iya mom, lagi pula kami sedang santai karena ujian sudah usai." Kevin menambahkan, ia sejak tadi merebahkan kepalanya di pangkuan Stella, sambil mencium sayang perut sang mommy.


"Oh iya, mommy hampir lupa, kapan acara kelulusannya?" 


"Dua minggu dari sekarang mom, di aula sekolah." 


"Ah senangnya, anak mommy sebentar lagi menjadi pria dewasa, kalian pasti akan memiliki kekasih, dan mommy hanya akan di rumah menunggu kalian pergi kencan." 


Tiba tiba Stella tersenyum, mengingat masa ketika dulu ia dan Alex pun demikian, hingga memilih kabur dari karantina, demi menuruti gelora remaja mereka yang masih membara, walau tak jelas apa gerangan yang mereka lakukan di luar asrama.


Membicarakan masalah kencan dan kekasih, Kevin hanya diam, berpura pura memejamkan mata, mengingat hatinya yang telah patah bahkan sebelum sempat ia mengungkapkan rasa.


"Andre tuh mom, banyak penggemarnya." Celoteh Kevin menutupi rasa kecewa yang tumbuh di hatinya.


"Dih Kevin juga mom." Jawab Andre tak terima.


"Aku gak selera, sepertinya kamu yang paling menikmati teriakan para gadis." 


"Yah … kan aku menghargai mereka, jadi tiap mereka memanggil, aku melambaikan tangan, apa salahnya bersikap ramah." Elaknya.


(Emang kok, bibit penebar pesona udah dimulai sejak dini)


Stella tersenyum menikmati percakapan kedua putranya, bahkan kedua telapak tangannya kini mengusap kepala Andre dan Kevin, yang kini tengah merebahkan kepala mereka di pangkuan Stella. 


"Aku akan menemani mommy di rumah, selama Andre pergi kencan, mommy jangan khawatir." 


"Baiklah, kalau kamu tak mau pergi kencan, aku akan cari pacar untuk kuajak kencan." Jawab Andre penuh semangat.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak pergi kencan juga? Mommy akan baik baik saja di rumah, bersama papi dan adik kalian." Stella mencoba menyelami apa yang tengah dirasakan Kevin, sungguh tak mudah, karena Kevin sangatlah tertutup.


Wajah Kevin nampak muram, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, hari di mana sang mommy Menyelamatkan nya dari peristiwa penembakan, hari itu pula ia berjanji pada dirinya, bahwa jika mommy Stella selamat, ia tak akan lagi mengungkit masa lalu keluarga mereka, tak mengapa jika harus mulai melupakan Gadisya, karena kini pun Gadisya sudah pindah sekolah, jadi mereka tak akan pernah bertemu, semoga saja.


(Hahaha bakal ketemu lagi gak yah?😁)


"Tidak mom, lagi pula tak ada gadis yang menarik perhatian ku." Jawab Kevin muram.


Stella tak lagi berucap, biarlah kelak tuhan yang mengatur jodoh untuk anak anak nya, doa nya dalam hati.


Ibu dan anak itu terus berbincang, semua hal mereka perbincangkan, walau lebih banyak hal tidak penting dan candaan, tapi Stella bahagia, inilah momen yang ia rindukan, ketika mereka terpisah dahulu, walau ia melewatkan masa keemasan Kevin, tapi ia tak ingin melepaskan masa remaja anak anaknya, Stella berharap, anak anak akan menjadikannya tempat mencurahkan isi hati, tanpa malu atau takut, rahasia mereka terbongkar.


Ketika sang waktu mulai menunjuk ke angka sepuluh, Stella mengantar si kembar ke kamarnya, karena tak tega manakala melihat anak anaknya mulai menguap menahan kantuk.


Stella tak lagi menunggu di ruang tengah, ia sudah berpindah ke kamar, menatap muram pada jam yang berdetak di dinding kamarnya, memikirkan apa gerangan yang menahan sang suami, hingga di jam ini belum juga kembali ke rumah.


Sebenarnya Stella sangat mengantuk, tapi semenjak ia cuti dari rumah sakit, ia bahkan tak bisa tidur nyenyak jika tak menghirup aroma tubuh suaminya, hingga ia sendiri pun keheranan, mungkinkah bayinya memang ingin selalu dekat dengan papi nya?


Stella mengusap si kecil yang kini tumbuh di dalam perutnya, karena usia kandungannya sudah lima bulan, beberapa kali Stella merasakan pergerakan aktif dari dalam sana, "apa kamu merindukan papi nak?" Ujar Stella ketika mulai bicara, "kenapa diam, tadi bergerak gerak, atau kamu lebih suka panggilan daddy?" Tanya Stella lagi, seolah menjawab pertanyaan sang mommy, bayi kecil itu merespon pertanyaan Stella dengan sebuah tendangan. "Wah … hahaha ternyata kamu ingin seperti kakak kedua mu, baiklah tak masalah, apapun panggilanmu untuk daddy, daddy pasti suka." 


"Jadi apa kamu juga ingin tetap terjaga sampai daddy pulang?" Bayi di perut Stella kembali menendang, tanda ia merespon perkataan sang mommy.


Jika beberapa saat yang lalu, Stella menemani si kembar bercerita, kali ini dia menemani si bayi yang juga sedang menemani nya menunggu sang suami pulang.


Jam sebelas malam pintu kamar terbuka, pandangan Stella berbinar bahagia sekaligus bertanya tanya, apa gerangan yang menyebabkan Alex baru pulang di saat hari menjelang berganti.


Stella mengangguk, mulailah matanya berkaca kaca, karena sudah lama sekali sejak Alex mengirimkan kabar terakhir.


Menyadari perubahan raut wajah Stella, Alex pun ikut duduk dengannya di sofa, dengan lembut dipeluknya wanita yang kini tengah mengandung buah cinta mereka, kemudian Alex mengusap perut Stella, "hai baby, apa kamu juga menunggu papi?"


"Bukan papi, tapi daddy." 


"Kenapa?" 


"Baru saja si baby memberitahuku, jika dia ingin memanggil papinya dengan sebutan daddy." 


"Benarkah, bagaimana caranya memberitahumu, sementara dia bahkan belum bisa bicara." 


"Lakukan saja, nanti juga kakak akan tahu." 


Alex kembali mengusap perut Stella. "Baby … apa kamu menunggu daddy?" 


Alex merasakan tendangan dari dalam perut istrinya, wajahnya mendadak berbinar bahagia, "waaahhh bayi kecil ini menendangku." Ujarnya.

__ADS_1


"Apa kamu juga seperti mommy? Ingin tidur di pelukan daddy?" Sekali lagi Alex merasakan tendangan, Alex tertawa keras, ia benar benar bahagia, tidak menyangka bayi kecil nya merespon dengan baik apa yang ia katakan, bayi kecilnya ini benar benar pengobat lelah untuknya yang seharian ini penat dengan urusan pekerjaan.


Stella pun hanya tersenyum melihat raut bahagia di wajah suaminya, bahkan setahun yang lalu ia tak membayangkan akan menikmati momen indah ini bersama pria yang masih sangat ia cintai, 'Tuhan, terima kasih karena engkau memberiku rasa bahagia ini, bahkan membuat pria ini kembali menjadi suami bagiku, aku tahu waktu tak akan kembali terulang, tapi jika itu terjadi, aku akan memilih memberikan kesempatan kedua padanya, ketika dahulu dia memintanya'.


.


.


.


.


.


menjelang tamat ya gaes ... 🤗


.


.


.


.


plis like komen dan vote seikhlasnya 🥰


.


.


.


.


.


ramaikan kolom komentarnya juga 📝🤓 agar othor tetap semangad menulis 🤓📝


.


.


.

__ADS_1


.


sarangeeeeee 💟❤️


__ADS_2