Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
37


__ADS_3

Sore itu sesuai keinginannya, Alex menunggu di gerbang sekolah Kevin, Rapat selesai lebih awal, jadi dia bisa mengusir Dimas untuk segera bersiap ke Singapura, dan Alex bisa segera menemui Kevin.


International School sudah banyak berubah sejak Alex lulus dari sana, pintu gerbang pun sudah di renovasi dan kini di lengkapi dengan banyak CCTV, agar meminimalisir siswa siswa yang hendak kabur dari sekolah.


Alex tersenyum sendiri ketika melewati pagar tak jauh dari pintu gerbang utama, tempat ia dan Stella pertama berkenalan, tiba tiba ia meraba perut nya, seakan bekas sikutan Stella dulu kembali terasa, 'bagaimana mungkin seorang gadis bisa memiliki pukulan sekuat itu?' pikir Alex, apa karena itu dia berhasil meraih medali emas di pertandingan taekwondo POS saat itu.


Hah kenangan itu justru semakin membuat dadanya berdenyut nyeri, ia justru berhenti tak sanggup lagi melangkah kesamping gedung, tempat ia kembali menyelinap ke asrama usai kabur, takut akan perasaan rindunya, Alex berbalik kembali menuju gerbang utama, jam pulang sekolah tinggal beberapa menit lagi.


Semilir angin sore menyapu dedaunan, sang waktu begitu cepat berlalu, dahulu ia masih menikmati masa remaja nya di sekolah ini, empat tahun setelah lulus, dia di jodohkan dengan Stella, dan ternyata rumah tangga itu hanya bertahan dua tahun, masa masa berharga nya sebagai laki laki dan sebagai kepala rumah tangga, justru hancur tersapu badai karena keegoisannya sendiri.


Seringkali Alex berfikir, apakah kelak Kevin akan memaafkannya, jika tahu penyebab sebenarnya dari perceraian kedua orang tuanya adalah karena ulah papi yang begitu ia banggakan, itulah sebabnya hingga detik ini Alex tidak berani berterus terang pada Kevin kenapa mommy nya tak juga kembali, bukan karena mommy tak merindukannya, melainkan mommy nya tak ingin lagi bertemu dengan masa lalu yang menyakitkan.


Bel sekolah berbunyi, tak lama kemudian para siswa berlarian keluar dari gerbang sekolah, Andre dan beberapa temannya tampak tertawa lebar, beberapa diantara para murid sudah ditunggu oleh sopir atau para ibu mereka, Andre nampak kebingungan mencari cari sopir yang biasa menjemput nya ketika pulang sekolah, ia nampak panik, kalau sopir tidak menjemput ia tak akan bisa pulang, karena ia belum hafal jalanan Jakarta.


Namun kepanikannya sirna seketika, manakala ia melihat Alex melambai dari seberang jalan, "papi ... " teriaknya riang berlari menuju mobil tempat Alex menunggu.


Andre segera memeluk erat Alex, akhirnya salah satu keinginannya terwujud, ingin di jemput daddy ketika pulang sekolah, lagi lagi ia menghirup aroma tubuh pria yang teramat dirindukannya tersebut, Alex pun tak segan menghujani kepala Andre dengan ciuman.


"Tumben papi jemput,"


"Iya, ayo kita main ke mall"


Andre mengangguk antusias, kemudian berjalan mengitari mobil untuk membuka pintu.


"Apa ada sesuatu tang menyenangkan? kenapa kamu terus tersenyum?"


"Aku hanya senang, karena papi yang menjemputku"


Jawaban singkat yang cukup membuat Alex terharu, memang selama ini yang selalu menjemput Kevin adalah, Dimas atau sopir mereka, entah kenapa sejak kembali dari Swiss ia merasakan perasaan berbeda, termasuk keinginan untuk menjemput Kevin ke sekolah.


"Maafkan papi yah, karena papi selalu sibuk."

__ADS_1


"Gak papa pi, kalau papi tidak sibuk bekerja, mana mungkin aku punya julukan anak sultan yang sudah kaya sejak belum lahir."


"Hahahahaha ..." Alex tertawa keras, bagaimana mungkin kalimat sederhana Kevin bisa membuatnya tak terlalu merasa bersalah, karena sering meninggalkannya untuk urusan pekerjaan.


Andre pun tertawa riang, tiba tiba tawanya berhenti, manakala melewati sebuah Bakery shop, teringatlah ia pada Japanese soft cake yang kemarin ia cicipi, tart lembut yang di berikan pengasuhnya itu sungguh menggoda, membuat ia ingin kembali memakannya.


"Papi ... aku ingin itu ... " kevin menunjuk Will Bakery shop.


"Kamu mau kue?"


Iya pi, kemarin kakak Ima membelikan aku soft cake dari toko itu, sekarang aku mau lagi."


"Baiklah, soft cake untuk anak sultan." Alex pun memutar kembali arah mobilnya.


Toko kue itu sudah lama berdiri, Alex dan keluarganya bahkan mengenal Wilona sang pemilik Bakery, Karena mama Lani adalah pelanggan setia mereka.


Bunyi lonceng terdengar ketika Alex menggeser pintu masuknya, suasana nyaman dan tenang, sungguh terasa, pandangan Alex beredar ke seluruh ruangan, kemudian langsung berjalan mendekati etalase.


Tangan wanita itu terulur menyentuh pundak Alex.


Alex yang merasa pundaknya di sentuh seseorang pun menoleh, dan menatap tak percaya, tertegun sesaat "mmm ... ma ... mama?" kalimat itu susah payah terucap dari bibirnya.


Wanita paruh baya itu menatapnya dengan mata berkaca kaca, "Apa kabar Alex, lama mama tak melihatmu,"


Sementara Andre yang berada disamping Alex tiba tiba menyembunyikan dirinya, bukan karena apa, dia takut ketahuan tengah bertukar tempat dengan Kevin.


"Baik ma ... " Jawab Alex "mama lagi di jakarta? kapan kembali?"


"Belum lama, baru sekitar dua mingguan" jawab Anna.


Yah dialah mama Anna Nathaniel, mama Stella, mantan mertua Alex.

__ADS_1


"Apa dia Kevin?" sapa Anna pada sosok yang kini bersembunyi di balik punggung Alex.


"Ah ... iya, ini Kevin." Jawab Alex, seraya menarik lengan Andre yang tampak malu, Andre pun menampakkan wajah nya.


Anna memeluk cucunya tersebut, mengusap punggung kevin sesaat, seperti kebiasaannya ketika memeluk Andre, "Sudah besar sekali, mama bahkan hanya bertemu dia ketika masih bayi," Kedua mata Anna kini meneteskan air mata.


"Kevin, ini Grand mama," ucap Anna di sela pelukannya.


"Grand mama?" Andre pura pura bertanya.


"Iya sama seperti oma, beliau mamanya mommy kamu." Alex menjelaskan.


Andre hanya mengangguk, dan tersenyum kaku, "Gawat, bagaimana kalau grand mama tahu penyamaran ku?" Andre berbicara dalam hati.


"Ayo ma, Nisa sudah selesai," Nisa yang datang dari arah belakang nampak terkejut "Oh kevin yah ... wah sudah besar rupanya, sudah lama bibi tidak melihatmu," Nisa mengacak rambut Kevin, sebenarnya ingin sekali dia memeluk keponakan nya tersebut, namun ia tak sanggup membayangkan kemurkaan Richard.


"Ah iya ..." dengan berat hati Anna melepaskan pelukannya, "Lain kali kita bertemu lagi yah?" pesan Anna ketika hendak berlalu pergi.


"Hati hati, dan jaga kesehatan ma." Ucap Alex ketika Anna tiba tiba memberinya pelukan.


"Iya, kamu juga yah." Balas Anna ketika mengurai pelukannya.


Andre melambai ketika Anna dan Nisa berjalan menuju pintu keluar.


Alex memeluk pundak Andre, "Jadi beli Japanese Softcake?" Alex bertanya untuk mengurai kecanggungan.


Andre tersenyum menatap Alex, "Iya pi, jadi."


Papi dan anak itu pun kembali melihat lihat Etalase tempat beraneka kue berjajar.


Sementara itu, di tengah perjalanan kembali ke rumah, Anna nampak masih termenung, firasatnya mengatakan, bahwa yang baru saja ia jumpai bukan Kevin melainkan Andre, sorot matanya, Ekspresi wajah dan pelukannya pun sama persis dengan Andre, yah memang Andre dan Kevin kembar, tapi mereka tetap dua orang yang berbeda, apa Alex tidak merasakan perbedaan mereka?.

__ADS_1


Anna mendesah pelan, ia tak berani mengungkapkan keraguannya, sebelum menemukan bukti bukti yang meyakinkan.


__ADS_2