Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
76.


__ADS_3

Gio menggebrak meja kerjanya, urat urat wajahnya nampak menyembul terlihat dari permukaan kulitnya, ia masih tak mengerti kenapa putranya masih juga tergoda untuk memiliki seorang kekasih, padahal ia sudah melarang dengan jelas, dan tegas, bahwa seorang wanita, hanya bisa memberi luka dan pengkhianatan. 


Hanya dirinya seorang saja yang mampu memberi nya cinta tulus sepenuh hati, bukannya para wanita yang berkeliaran di sekitar Abimana sang putra.


Akibat trauma pengkhianatan dari istrinya, Sergio Fernandez membenci sosok mahluk yang bernama wanita, sejak saat itu pula, tak sedikitpun ia menginginkan wanita dalam hidupnya, bahkan ia juga membatasi pergaulan putra angkatnya, sebisa mungkin ia menjauhkan Abimana dari yang namanya wanita, Sampai hari itu tiba, hari dimana memasuki dunia baru sebagai pria dewasa, hari ketika Abimana melanjutkan pendidikannya ke jenjang universitas, sejak saat itu juga, Abimana bergaul dengan banyak orang baik pria maupun wanita, hingga akhirnya ia jatuh cinta pada gadis bernama Rebecca, Gio tak rela putra kesayangannya memiliki wanita, ia takut Abimana akan terluka seperti dirinya.


Baru saja ia mendapat laporan dari orang kepercayaan Gio, sepertinya Abimana lagi lagi tertarik pada seorang wanita, dan kali ini ia pun seorang dokter, bukan sembarang dokter, dia adalah salah satu dokter bedah paling diandalkan di William Medical Center Singapura.


"Haruskah, kali ini aku manfaatkan dokter itu?" Gio tertawa bengis.


Tanpa Abimana ketahui, bahwa sejak lama Sergio Fernandez menekuni bisnis ilegal penjualan organ manusia, tentunya selain bisnis narkoba mereka yang jaringannya sudah menggurita di seluruh dunia.


Dan kali ini dokter yang dicintai Abimana mungkin bisa dimanfaatkan sebagai dokter di klinik ilegalnya.


"Gerry bersiaplah, sewaktu-waktu aku bisa memerintahkan padamu untuk segera bertindak," perintah Gio.


"Baik tuan," jawab Gerry patuh.


Wajah Gerry pun tak kalah bengis dari Gio, sejak ia dikalahkan Stella beberapa bulan lalu, Gerry menyimpan dendam pribadi pada Stella, ia kini sedang menunggu membalaskan sakit hatinya.


✨✨✨


Alex menggenggam erat tangan Stella, wanita yang sudah memberinya 2 orang putra mahkota itu, nampak sedikit grogi, karena ini pertama kalinya mereka kembali tampil di muka publik setelah perceraian mereka 14 tahun silam.


"Grogi? Santai saja…" bisik Alex, tangan Stella ia genggam erat seolah ingin mengatakan bahwa 'ada aku yang akan menemanimu seumur hidupmu'.


Stella tersenyum, "iya, aku rasa" jawab Stella.


"Malam ini kamu akan membuat banyak wanita patah hati." Bisiknya.


Stella mencebik. "Harusnya aku bawa si kembar, biar kakak tidak besar kepala." 


"Hahahaha, baiklah kalau begitu aku balik saja, malam ini aku membuat para pria patah hati." 


"Aku tidak seistimewa itu," 


"Bagiku kamu istimewa, semua yang ada pada dirimu istimewa, tak hanya rupa, tapi juga kecantikan hatimu terlalu memikat, hingga membuatku tak bisa berpaling." Kemudian Alex mendaratkan kecupan kilat.


"Bos … ada aku disini, tolong hargai aku yang masih jomblo." Gerutu Dimas, yang mulai gerah mendengar rayuan gombal sang bos.

__ADS_1


"Tutup saja matamu," 


"Aku mengemudi bos, kita bisa kecelakaan bersama." 


"Kalau begitu kamu turun saja," 


"Mana bisa bos, kita sedang di jalur cepat." 


"STOP!!" Stella menengahi, dalam sekejap, suasana kembali senyap.


Akhirnya mereka tiba di Ballroom Diamond hotel.


Resepsi pernikahan Haris dan Elena (Menanti Cinta Elena 😘).


Istimewanya lagi, ini juga pertama kalinya bagi sang duda membawa seorang wanita ke acara resmi, selama ini ia selalu sendiri, terkadang ia didampingi Dimas sebagai asistennya, dan jika sudah demikian, para rekan bisnisnya akan langsung kasak kusuk menarik perhatian nya, apa lagi jika bukan untuk urusan pernikahan bisnis, perjodohan dengan keponakan, anak, atau bahkan tak jarang rekan bisnis wanita akan menawarkan pernikahan padanya, bahkan penawaran nikah kontrak pun pernah ia dapatkan.


Stella yang malam itu memakai Gaun biru pucat nampak langsung mencuri perhatian, senyum menawan tak lepas dari bibir nya, rasa grogi yang beberapa saat lalu sempat mampir, kini sirna, lantaran Alex benar benar tak melepaskan genggaman tangannya.


"Tuan Alex … apa kabar? Dan siapa wanita beruntung yang berhasil memikat hati anda?" Tanya salah satu koleganya.


Alex hanya tersenyum menanggapinya. "Wahhh wajah ini menandakan sebentar lagi ada kabar baik, apa benar tebakanku?" 


Dan begitu seterusnya, setiap kali bertemu kolega bisnisnya, mereka semua menanyakan pertanyaan yang sama, namun baik Stella maupun Alex hanya menanggapinya dengan senyuman, padahal sesungguhnya hati mereka tengah dipenuhi dengan bunga bunga cinta yang kini terus bermekaran.


Hingga mereka tiba di singgasana kedua mempelai, barulah genggaman tangan mereka terlepas.


"Waaaahhh aku kedatangan tamu istimewa," Sambut Harun Sebastian, "dan ini … bukan kah dia putri tuan Kenzo?" Tanya nya kemudian.


"Benar sekali om," jawab Alex.


Harun Sebastian tertawa bahagia sembari berpelukan dengan Alex, " Selamat nak, semoga kalian bahagia, kenapa baru sekarang, jika akhirnya kembali pada mantan istrimu, harusnya sejak dulu kamu lakukan." 


"Hahaha, om Harun bisa saja."


Begitu pula Marisa, istri Harun Sebastian, yang juga tak kalah bahagia dari suaminya, ia memeluk erat Stella, "selamat nak, doa tante sama seperti om Harun, semoga kalian selalu dilimpahi kebahagiaan," 


"Terima kasih tante…" jawab Stella.


Bergeser ke hadapan kedua mempelai, "om Alex … " Teriak Elena 

__ADS_1


"Tutup mulutmu!!" Ujar Alex tak terima. "Jangan panggil aku dengan sebutan Om, usia kita hanya selisih 6 tahun."


Kedua mempelai tersenyum, mendengar gerutuan Alex.


"Kan aku mengikuti panggilan Fero," ujar Elena tak terima.


"Kamu dan Fero berbeda, Fero keponakanku, kalau kamu …" 


"Temannya Fero, jadi bagiku Om Alex, adalah pamanku juga, hahahaha." 


Tentu saja hal itu membuat Alex semakin bersungut sungut.


"Sayang kenalkan, ini Elena Sebastian, tempo hari kita bertemu dia ruang tunggu kamar operasi." 


Stella mencoba mengingat, "oh yang waktu itu? Apakah dia yang saat itu ada di dalam ruang operasi?" Tanya Stella yang langsung mengingat kejadian saat itu.


"Benar sekali," jawab Haris ramah.


"Bang, beliau berdua ini, kawan baik dokter Alan." Bisik Elena di telinga suaminya.


"Oh benarkah, ternyata dunia halu ini begitu sempit, senang berkenalan dengan anda berdua, dan mohon dimaklumi, karena istri saya memang suka ceplas ceplos apa adanya." pandangan mata Haris nampak berbinar manakala menatap istrinya.


Stella memperhatikan kedua mempelai, pandangan mata keduanya sama sama menampakkan bahasa cinta yang penuh dengan ketulusan.


"Kenapa? Apa kamu iri melihat mereka?" Tanya Alex ketika mereka meninggalkan altar kedua mempelai.


Stella mengulum senyuman. "Iya…" 


"Sebentar lagi, kita yang berada di singgasana mempelai, sama seperti mereka, kamu akan jadi ratu di hatiku, selamanya." 


Keduanya saling bertatapan penuh makna, "apa aku sedang bermimpi?" 


"Kalaupun iya, ini adalah mimpi indah kita, dan aku harap di dunia nyata pun, kita akan selalu saling mencintai dan saling membutuhkan." 


Stella kembali mengeratkan genggaman tangannya, kini ia ingin percaya kembali, dengan sepenuh hatinya ingin memulai kembali apa yang dulu sempat mereka rajut bersama, namun tercerai berai akibat perceraian, "kak … aku mencintaimu." 


Alex tertawa bahagia mendengarnya, justru ia lebih mencintai wanita ini, "I love you more," balasnya. "Besok kita mulai persiapan pernikahan kita, bagaimana?" 


Stella menggigit bibirnya dan mengangguk malu.

__ADS_1


__ADS_2