
Pria itu nampak sangat menikmati sinar matahari pagi ini, karena sudah beberapa hari ia tak bertemu sinar matahari, akibat luka yang dia derita, ia harus rela berhari hari bed rest.
Berkat kesabaran dan ketelatenan dokter Risa, Luka luka bekas operasinya kini mulai mengering.
Tak mudah menghadapi pria seperti dirinya, sangat pemarah dan tidak sabaran, saat itu ia begitu murka pada anak buahnya karena membiarkan seorang dokter wanita menangani nya, tapi ketika ia mendengar bahwa dokter Risa bukan wanita sembarangan, ia jadi sedikit melunak, bagaimana tidak, menurut cerita Andy, dokter Risa bahkan berhasil mengalahkan Gerry, asistennya yang berwajah seram dengan postur tubuh tinggi besar, benar benar bukan dokter sembarangan.
Malam itu ketika tiba tiba ia diserang orang tak dikenal, dokter Risa pula yang menyelamatkannya, bahkan dokter Risa berjaga di meja perawat sampai menjelang pagi, sungguh pengabdian luar biasa.
Abimana jadi semakin ingin mengenal dokter Risa lebih dekat, karena seumur hidupnya belum pernah ia bertemu dokter wanita seperti dokter Risa, padahal seorang Abimana, keluar masuk rumah sakit, sudah seperti minum air putih, kapan pun ingin, dia bisa meminumnya, begitu juga dengan rumah sakit, kapan pun ia terluka, ia bisa segera masuk rumah sakit, bahkan seringnya, sebelum sembuh total ia sudah memaksa pulang, karena merasa tidak cocok dengan dokternya.
Tapi dokter Risa benar benar berbeda, dia menunjukkan sisi profesional nya sebagai dokter, sisi pemberani nya sebagai seorang wanita tangguh, sekaligus memiliki pribadi yang hangat, semuanya terlihat semakin mempesona di mata Abimana.
Andy mendekat kearah nya, "tuan, sebentar lagi jam kunjungan dokter, mari kita kembali ke kamar."
Tatapan Abimana mendadak berbinar, "Baik, ayo kita kembali ke kamar."
Andy melepas pengaman kursi roda, kemudian kembali mendorong kursi roda tersebut tersebut, untuk kembali ke kamar.
Ketika melewati meja perawat, Andy menghentikan perjalanan mereka, "permisi," perawat itu pun menghentikan aktivitasnya, "apa dokter Risa sudah datang?" tanya nya pada salah seorang perawat yang berjaga.
"Dokter Risa sedang ada operasi darurat pasien kecelakaan, mungkin nanti setelah jam praktek, barulah beliau berkunjung kemari."
"Baiklah, terima kasih suster."
Perawat itu mengangguk ramah. Andy pun kembali mendorong kursi roda menuju kamar mereka, beberapa pria berpakaian hitam kembali bersiaga di depan pintu.
Setelah kembali ke kamar nya, Abimana memilih duduk di sofa sambil menikmati sarapannya, "mana ponselku?"
Andy berjalan menuju meja, kemudian mengambil ponsel Abimana, pandangannya tanpa sengaja menatap layar ponsel miliknya sendiri.
...✨✨✨...
Kediaman keluarga Geraldy.
Melani tengah bersiap untuk acara arisan sosialitanya, ia tengah berjalan menuruni tangga, matanya mengawasi setiap sudut rumah yang terasa sepi, seandainya Alex tidak bercerai, mungkin rumah ini akan ramai dengan canda tawa anak anak, sungguh waktu cepat sekali berlalu.
Rasa bersalah nya pada Stella masih ia simpan hingga detik ini, dulu mendiang Kenzo William sendiri yang menitipkan Stella untuk di jadikan menantu keluarga Geraldy, namun siapa sangka justru Alex yang berkhianat pada Stella.
Namun suka atau tidak, tiap yang bernyawa harus mengakui bahwa sang waktu tak mungkin berulang, kerapkali ia menangis sendiri manakala melihat cucu kesayangannya tumbuh tanpa belaian seorang ibu, walau Kevin tumbuh dengan baik, tapi Melani yakin, ada lubang besar dalam diri Kevin, lubang yang seharusnya terisi dengan cinta dan kasih sayang seorang ibu.
__ADS_1
"Oma, kok melamun," sebuah suara membuyarkan lamunannya, Andre tengah menatap sang oma dengan pandangan Heran.
"Hai sayang, kok tumben jam segini sudah bangun, biasanya di hari libur kamu tidur sampai jam 10?" Tanya Melani heran, karena biasanya Kevin paling susah bangun pagi jika sedang libur sekolah.
"Oh itu ... Kevin gak tahu oma, tadi ada chat dari temen, keterusan deh, malah lupa sama tidur." Andre menjawab asal, terus terang saja bangun siang di hari libur bukan kebiasaannya.
Melani mengusap rambut cucu kesayangannya tersebut, kemudian memeluknya, "Oma mau arisan, apa kamu mau ikut? nanti kenalan sama teman teman oma, sekalian mau pamer kalau oma punya cucu tampan sepertimu ... "
" ... "
Andre membeku sesaat, 'oh tidaaaaak', teriak Andre dalam hati.
"Tidak oma, Kevin mau main sama Spike saja," tolak Kevin halus, seandainya ada om Dimas, dia pasti akan mengajak pria itu untuk ke mall. "Oh iya oma, mana papi?"
"Hari ini jadwal papi dan opa main golf, kamu lupa?"
"hehehe iya oma, aku lupa." Andre tertawa lebar menunjukkan barisan gigi nya.
"Ya sudah oma pergi dulu yah, minta tolong kakak Ima jika kamu ingin sesuatu." Pesan Melani.
"Iya oma," Andre melambai, "Hati hati oma"
teriak Andre kemudian.
Spike nampak lesu, tangan Andre terulur hendak mengusap kepala Spike, namun anjing itu menghindari tangannya, "Tidak bisakah kita berteman, aku adalah saudara kembar majikan mu, jika terus begini orang orang akan tahu kalau aku bukan Kevin." Andre berucap lirih.
Andre pun berjalan menuju gazebo, ah ... ia merindukan Belinda, biasanya setiap akhir pekan Andre mengunjungi keluarga Belinda, karena merasa bosan di apartemen sendirian, dan keluarga Belinda tidak keberatan dengan keberadaannya diantara mereka, Andre sudah seperti bagian dari keluarga mereka.
Ima membawa nampan berisi sarapan, Susu coklat, roti dan selai kacang.
"Sarapan dulu tuan muda," Ima mempersilahkan majikan kecilnya untuk memakan sarapannya.
Andre berbinar menatap susu coklat di hadapannya, ia pun meminumnya terlebih dahulu, hingga tandas tak bersisa, sejak menggantikan kevin, ia nyaris tak menyentuh coklat sama sekali, padahal dirinya penggemar coklat, ini sungguh sebuah siksaan baginya.
Namun Alangkah terkejutnya ia.
Setelah menghabiskan susu coklatnya, ia baru menyadari ada sesuatu yang aneh, Ima menatapnya dengan wajah bahagia.
"Aku tertangkap basah yah?" tanya Andre, wajahnya terlihat murung.
__ADS_1
Namun Ima tetap menunjukkan senyumannya, "Senang berjumpa lagi dengan anda tuan muda."
"Kak Ima ... maaf"
"Kenapa minta maaf, ini juga rumah papi anda, tak ada salahnya jika anda berada disini, anda sangat berhak." Ima mengusap lengan Andre.
Air mata nampak meluncur dari kelopak mata Andre, tanpa bisa ia tahan, "Apa papi akan marah, jika tahu aku bukan Kevin?" tanya Andre ketakutan, kini tangannya mengeluarkan keringat dingin.
Ima tersenyum bijak, kini matanya pun mulai berembun, "Tentu saja tidak, tuan Alex bukan orang seperti itu, dia menyayangi anda dan tuan Kevin, dengan kasih sayang yang sama, seperti itulah orang tua, tak akan pernah membedakan kasih nya."
"Aku harap begitu kak, aku sangat ingin bertemu papi."
"Lalu di mana tuan Kevin?"
"Dia bersama mommy di Singapura, kami bertukar tempat."
"Tak masalah, yang penting kalian baik baik saja, bersama mommy atau papi tak jadi masalah, Kakak Ima ikut senang," Ima menghapus sisa air matanya. "Ayo, sekarang habiskan sarapan tuan muda, kita akan simpan rahasia ini bersama sama."
"Darimana kakak tahu aku bukan Kevin?"
Tanya Andre ditengah aktivitas nya mengunyah roti.
"Tentu saja dari Spike, tuan Kevin selalu menghabiskan waktunya bersama Spike, lalu suatu hari dia diam tak berreaksi padahal anda ada di hadapannya, bukankah itu jawaban yang sangat mudah?"
"Ah ... iya, begitu rupanya, baru saja aku memberitahu Spike, jika dia terus diam dan menghindar, lama kelamaan orang orang di rumah ini akan menyadari, jika aku bukan Kevin."
"Aku bahkan sudah lama menyadarinya." bisik Ima.
"Ah, ternyata benar yang dikatakan Kevin, kakak adalah orang pertama yang mengenaliku."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Next eps ada lagi yang mengetahui rahasia si kembar, siapa dia??? eng ing eng ... 😁😁