Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
113. Istri Untuk Alan.


__ADS_3


Istri Untuk Alan.



“Selamat pagi, dokter Risa,” Sapa dokter Elga ramah.


Stella dan Alex mengembangkan senyumnya, “pagi dokter Elga.” sapa Alex dan Stella bersamaan.


“Silahkan dokter, ada yang bisa saya bantu?” tanya Dokter Elga.


“Aku ingin memastikan kehamilanku,” jawab Stella jujur.


“Anda sudah melakukan tes kehamilan pribadi?”


“Belum dok,”


“Baiklah, silahkan dok, mari kita lihat, benarkah anda hamil atau tidak?” Dokter Elga membantu Stella berbaring di ranjang pasien.


“Biarkan saya yang melakukannya dok.” pinta Alex ketika dokter Elga hendak memasang selimut untuk menutupi sebagian tubuh bagian bawah Stella.

__ADS_1


Dengan lembut Alex mengusap perut Stella yang kini terpampang di hadapannya. “apa kamu sudah ada di sini nak, papi dan mommy menantikanmu


“Huuu …. sepertinya kalian sungguh sangat mengharapkan kehadiran bayi ini?” dokter Elga melemparkan candaannya.


Alex tersenyum simpul, “Benar sekali dok, bayi ini adalah wujud kerinduan dan cinta diantara kami,” jawab Alex, matanya menatap wajah Stella. 


“Kalau begitu selamat untuk pernikahan kalian,” ujar dokter Elga tulus, “aku mendengar cerita tentang kalian yang berpisah selama empat belas tahun dan akhirnya kalian memutuskan untuk kembali bersama.” 


“Selamat juga untuk pernikahan anda dengan Alan,” Balas Alex.


“Ah … itu, apa anda mengenal dokter Alan?” 


Alex mengangguk, “kami berkawan sejak senior High School, percayalah dok, Alan pria baik.”


“Sudah cukup tentangku, mari kita periksa apakah istri anda benar benar hamil atau tidak,” dokter Elga menghentikan pembicaraan tentang dirinya, karena sesungguhnya ia tengah merasakan perasaan malu, namun membahagiakan baginya.


Dokter Elga menggerakkan transducer yang sudah di lumuri dengan gel sebelumnya, wajahnya nampak serius ketika mencari cari apa yang dia inginkan, tangan kanannya menggerakkan transducer, sementara tangan kirinya dengan terampil memainkan tombol tombol yang berada di dekat monitor USG, tak lama transducer terhenti tepat di tempat yang ia tuju, wajah dokter Elga tersenyum senang manakala mendapatkan hasil sesuai dengan yang diinginkan pasiennya kali ini.


Hanya dengan menatap senyum di wajah dokter Elga, membuat Stella dan Alex mengetahui jawabannya, sepasang suami istri itu saling berpegangan tangan dengan wajah bahagia. 


“Selamat dokter Risa dan Tuan Alex, kalian akan kembali dianugerahi seorang bayi,” ucap dokter Elga, “baru 4 minggu, jadi tolong jangan terlalu lelah dulu dok.” pesan dokter Elga, tak banyak pesan yang ia sampaikan, karena sebagai sesama dokter Stella pasti tahu apa yang harus ia lakukan agar kandungannya baik baik saja.

__ADS_1


***


huweeeek … 


Sayup sayup Alex mendengar suara yang asing di telinganya, Alex terduduk dan memeriksa jam dari ponselnya, seperti biasa, ia akan meraba tempat lain di sisi nya, ini juga kebiasaan barunya setelah menikah, untuk memastikan bahwa pernikahannya kembali dengan Stella bukanya halusinasi belaka.


Rupanya suara itu adalah suara Stella yang kini berada di toilet, dan memuntahkan isi perutnya.


Tanpa menunggu lama Alex segera berlari menuju toilet, sang istri pasti sedang mengalami gejala morning sick, seperti ketika ia mengandung si kembar dahulu.


Stella tengah berdiri di depan wastafel, tangannya menggenggam erat pinggiran wastafel, dan wajahnya masih menunduk mengeluarkan cairan yang mungkin masih tersisa di lambungnya. 


huweeeek … 


Sekali lagi Stella memuntahkan lendir dari mulut nya, dan dengan gerakan lembut, Alex memijat tengkuk Stella, berharap agar pijatannya ampuh mengurangi derita mual sang istri.


Sesaat kemudian Stella mengangkat wajahnya, mata dan hidungnya memerah, pertanda ia pasti menahan kesakitan akibat tak ada lagi yang mampu ia keluarkan dari lambungnya, semuanya sudah terkuras habis.


Alex menyalakan kran wastafel, kemudian menyiram seluruh cairan yang berada di sana, tak lupa ia membasuh wajah Stella, dari sisa sisa lendir yang masih tertinggal di sudut bibirnya.


“Pasti mual sekali,” Alex mengusap wajah dan rambut Stella, “andai aku bisa menggantikan mualmu,” bisiknya.

__ADS_1


Stella menggeleng lemah, “tidak, dengan adanya kakak disisiku itu sudah cukup.” 


Perkataan singkat, namun menyimpan makna teramat dalam, mengingat apa yang pernah Alex lakukan di masa lalu, kini ia akan mencurahkan seluruh waktunya untuk wanita yang kembali akan melahirkan anak untuknya.


__ADS_2