Sistem Melayani Suami

Sistem Melayani Suami
Part 10


__ADS_3

Naura duduk bersandar di bansalnya. Dia menatap ke arah kaca jendela sambil termenung seorang diri. Dia melihat burung-burung yang terbang bebas kemanapun yang mereka sukai. Ingin sekali rasanya Naura seperti burung-burung itu, yang bisa terbang kemanapun yang mereka sukai.


"Hay, Sayang! Kau sedang melihat apa?" ucap Gabryel tiba-tiba datang bersama Elissa.


"Tidak ada." ucap Naura singkat sambil melirik Elissa yang berdiri di samping Gabryel.


"Elissa ingin menjengukmu." ucap Gabryel mengerti dengan tatapan Naura.


"Hai, Kak! Aku dengar kau sakit. Jadi aku bawa buah-buahan untukmu. Semoga kau cepat sembuh ya." ucap Elissa meletakkan keranjang buah yang dia bawa untuk Naura.


"Kebetulan! Kau harus banyak makan buah, Sayang. Agar kau bisa cepat sehat dan tidak lesu seperti ini." ucap Gabryel mengambil buah yang di bawa Elissa dan mengupasnya.


Gabryel dengan telaten memotong buah itu lalu menyuapinya kepada Naura. Melihat sikap Gabryel bukannya senang Naura malah menjadi curiga. Dia melihat raut wajah Gabryel yang sangat senang. Bahkan Gabryel terus bercanda ria dengan Elissa.


"Mungkin dia seperti ini karna Elissa ada di sini. Sudahlah, aku tidak perlu membuka suara di depannya." batin Naura menatap Gabryel yang terus tersenyum kepadanya.


"Kak! Kenapa tubuh Kak Naura banyak luka lembam?" ucap Elissa melihat luka lembab di tubuh Naura.


"Mungkin ini karna terkena benturan saat kecelakaan tadi." ucap Naura singkat.


"Benarkah! Tapi kenapa bisa seperti itu? Seperti terkena pukulan."


"Sudahlah! Hari sudah mulai malam. Apa kau ingin tetap di sini?" ucap Gabryel melirik Naura.


"Tidak mungkin ada orang yang berani memukulku. Pasti dia akan terkena hukuman dari suamiku." ucap Naura tersenyum sambil melirik Gabryel.


"Kakak benar! Mana mungkin ada yang berani menyentuh istri orang terpandang seperti Kak Gabryel." ucap Elissa tersenyum.


"Oh ia! Aku pamit dulu ya, Kak. Besok aku kemari lagi." ucap Elissa menatap matahari yang mulai terbenam.

__ADS_1


"Ya sudah! Kau hati-hati ya." ucap Naura tersenyum.


"Sayang! Aku mengantar Elissa sampai kedepan dulu ya." ucap Gabryel membelai lembut rambut Naura.


Mendengar ucapan Gabryel Naura hanya mampu tersenyum mengangguk. Dia menatap punggung Elissa dan Gabryel yang berlahan menjauhinya. Ntah mengapa Naura tiba-tiba merasa ada yang aneh dengan kedekatan Elissa dan Gabryel. Dengan cepat Naura menepis semua pikirannya lalu mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas meja.


Karna merasa jenuh Naura memilih untuk memainkan ponselnya dengan membuka aplikasi misinya. Dia melihat begitu banyak tugas yang sudah dia kerjakan. Mulai dari yang mudah hingga yang sulit. Naura tidak menyangka jika dia bisa melewati semuanya walaupun harus menyiksa batinnya dan membuatnya frustasi.


"Tinggal selangkah lagi aku akan terbebas dari misi ini. Aku harus bisa." batin Naura memberikan kekuatan kepada dirinya sendiri.


Setelah selesai mengantar Elissa, Gabryel kembali ke kamar Naura. Dia melihat Naura yang sedang bermain ponselnya lalu berjalan mendekatinya.


"Kau sedang apa, Sayang?" ucap Gabryel mengelus rambut Naura.


"Ma...maaf! Aku terlalu sibuk memainkan ponselku. Maafkan aku." ucap Naura ketakuta lalu meletakkan ponselnya ke sembarang arah.


"Kau kenapa? Aku tidak akan memarahimu. Maafkan aku karna selama ini terus menyakitimu." ucap Gabryel duduk di samping Naura sambil mengengan tangan Naura.


Gabryel bisa merasakan tangan Naura yang dingin dan berkeringat karna ketakutan. Karna perlakuan Gabryel yang terus menyiksanya Naura menjadi sangat trauma dan merasakan ketakutan yang berlebihan saat bersama Gabryel.


"Maafkan aku ya, Sayang. Maaf karna selama ini aku selalu menyakitimu. Sampai-sampai kau berpikir untuk mengakhiri hidupmu agar bisa terbebas dariku. Apa kau tidak memikirkan bagaimana hidupku tanpamu?" ucap Gabryel menatap lekat wajah Naura.


"Sayang, aku mohon jangan lakukan itu lagi ya. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu." ucap Gabryel sambil menciumi tangan Naura.


Melihat sikap Gabryel bukannya merasa bahagia, Naura malah semakin curinga. Dia bisa merasakan jika kata-kata Gabryel hanyalah bualan semata. Tapi, Naura bersuha terlihat biasa saja dan memikirkan caranya sendiri untuk mengetahui apa niat di balik perubahan Gabryel.


Selama di rumah sakit Naura di perlakukan sangat baik oleh Gabryel. Dia juga mau merawat Naura sampai sembuh. Bahkan dia juga sangat perhatian kepada Naura dan selalu mengamburkan perhatiannya kepada Naura.


Seperti pagi ini, dengan telatennya Gabryel menyuapi bubur untuk Naura. Dia meyuapi Naura dengan sangat lembut sambil berbincang hangat dengan Naura. Naura yang masih trauma dengan perlakuan Gabryel selama ini hanya bisa diam sambil menerima suapan yang di berikan Gabryel kepadanya.

__ADS_1


"Selamat pagi!" ucap Dokter yang menagani Naura.


"Pagi, Dok!" ucap Gabryel meletakkan mangkok bubur Naura.


"Pagi, Nyonya. Apa keadaan nyonya lebih baik?" ucap Dokter itu menatap Naura yang seperti orang ketakutan.


"A...aku baik-baik saja." ucap Naura terus menunduk tidak berani menatap orang di sekitarnya.


"Aku periksa keadaan nyonya dulu ya." ucap Dokter itu belahan mendekati Naura.


"Nyonya tenang saja. Aku akan tetap membantu nyonya." ucap Dokter itu pelan sambil memeriksa keadaan Naura.


Mendengar ucapan Dokter itu, Naura langsung menatapnya dengan lekat. Dokter itu dapat melihat pancaran ketakutan, permohonan, dan juga tersimpan banyak kesedihan di mata Naura. Melihat keadaan Naura saat pertama kali masuk rumah sakit, tiba-tiba hati nurani dokter itu seperti tertarik untuk membantu Naura.


Bahkan setelah mendengar ancama dari Rini, Dokter itu tidak ada berpikir untuk mengurungkan niatnya untuk berhenti membantu Naura. Dia juga membawa psikolog secara diam-diam untuk menghilangkan trauma Naura.


"Keadaan Nyonya sudah semakin membaik. Jika seperti ini besok dia sudah bisa pulang." ucap Dokter itu tersenyum.


"Baiklah! Terima kasih banyak, Dok." ucap Gabryel tersenyum lalu mencium lembut kening Naura.


Melihat sikap Gabryel yang sangat peduli kepada Naura di depannya. Dokter itu malah mengumpat Gabryel dengan cacian di dalam batinnya. Dia tidak menyangka jika Gabryel bisa memperlakukan Naura seperti binantang. Padahal di depan umum Gabryel memperlakukan Naura layaknya seorang ratu.


Melihat sikap Gabryel yang tiba-tiba berubah, Naura malah secara diam-diam menyelidiki apa penyebab perubahan Gabryel. Dia menatap ponsep Gabryel yang tergeletak di atas meja. Dengan cepat Naura mengambil ponsel Gabryel dan mencoba memeriksanya.


Tapi, sangat di sayangkan Naura tidak melihat ada hal mencurigakan di dalam ponsel Gabryel. Dia melirik ke arah kamar mandi di mana Gabryel sedang mandi di dalamnya. Tidak mau membuang kesempatan Naura langsung menyadap whatshap Gabryel dan menghubungkannya ke ponselnya.


Setelah mendengar Gabryel membuka pintu dengan cepat Naura meletakkan ponsel Gabryel ke tempat semula. Dia juga membaringkan tubuhnya dan pura-pura tidur agar Gabryel tidak curiga kepadanya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2