
Gabryel duduk terdiam di dalam ruangannya. Semua rasa bersalah yang selalu menghantuinya tidak bisa membuatnya tenang. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi sambil terus membayangkan wajah Naura.
"Aku harus menemui Naura, Aku harus meminta maaf kepadanya," gumam Gabryel bangkit dari duduknya.
Dia melangkahkan kakinya menelusuri koridor kantornya dengan tatapan kosong. Tidak berpikir panjang, Gabryel langsung masuk ke mobilnya dan melajukannya menuju restoran Naura. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, rasanya dia ingin meminta maaf kepada Naura secepat mungkin.
Suatu keberuntungan untuk Gabryel, sesampainya di restoran Naura dia melihat Naura yang berjalan seorang diri memasuki restorannya. Dengan cepat Gabryel turun dari mobilnya dan berlari mengejar Naura.
"Naura!" teriak Gabryel sedikit meninggikan suaranya.
Mendengar namanya disebut, Naura langsung menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah sumber suara itu. Naura berlahan mengerutkan keningnya binggung ketika melihat Gabryel yang berlari kecil ke arahnya.
"Naura! Bisa kita bicara sebentar? Aku mohon," ucap Gabryel menatap Naura dengan penuh permohonan.
Melihat tatapan Gabryel, Naura berlahan membuang napasnya kasar. Sebenarnya dia sudah sangat malas berdekatan dengan Gabryel. Rasa bencinya kepada Gabryel membuatnya tidak ingin melihat wajah Gabryel lagi. Tapi, melihat keadaan Gabryel yang sekarang berlahan rasa iba di hati kecil Naura tiba-tiba muncul.
Dia menatap penampialan Gabryel yang berantakan tidak terus. Bahkan tubuh Gabryel terlihat semakin kurus. Wajahnya sedikit pucat dan juga tatapanya yang memancarkan penyesalan, membuat Naura menjadi merasa kasihan melihatnya.
"Baiklah! Kita bicara di sana saja," ucap Naura menunjuk ke arah kursi yang berada di taman tidak jauh dari restorannya.
"Baik, ayo!" ucap Gabryel tersenyum lalu mempersilahkan Naura untuk jalan terlebih dulu.
Naura langsung melangkahkan kakinya dan terus fokus menatap ke depan. Sedangkan Gabryel mengikutinya dari belakang, sambil terus menatap kagum kecantikan Naura yang semkin terpancar. Cantik! Hanya itu yang ada di pikiran Gabryel ketika melihat penampilan Naura saat ini.
Tubuhnya semakin putih terawat, wajahnya selalu memancarkan kebahagiaan. Tubuhnya semakin berisi dan juga penampilannya yang semakin modis. Sehingga kecantikan Naura semakin terlibat dengan jelas.
"Ayo duduk," ucap Gabryel menyuruh Naura untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Naura dingin tanpa menatap Gabryel yang duduk di sampingnya.
"Apa kau sangat membenciku?" tanya Gabryel menatap lekat wajah Naura.
Mendengar pertanyaan Gabryel, Naura langsung terkekeh kecil. Berlahan dia menatap Gabryel yang duduk di sampingnya dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.
"Tidak perlu ku jawab. Karna kau sudah pasti tau jawabannya," ucap Naura tersenyum sinis lalu kembali mengalihkan tatapannya dari Gabryel.
"Kau membenciku," ucap Gabryel menganguk kecil sambil menahan air matanya.
"Aku minta maaf! Aku tau kau akan sulit untuk memaafkanku. Tapi, aku tidak akan merasa tenang sebelum kau memaafkanku," ucap Gabryel menatap Naura dengan tatapan penuh penyesalan.
"Aku menyesal karna pernah menyakitimu. Aku sadar jika aku sudah sangat keterlaluan. Aku selalu menjadikanmu sebagai tempat pelampiasan amarahku. Bahkan aku tidak pernah menghargai semua yang kau lakukan untukku. Tapi, sekarang aku sadar. Aku sadar jika sikapku selama ini telah menyakitimu. Aku mohon maafkan aku, Ra," ucap Gabryel kembali sambil terus menatap Naura.
"Aku sudah memaafkanmu. Aku sudah memaafkanmu sebelum kau meminta maaf kepadaku. Aku justru ingin berterima kasih kepadamu. Karna perlakuanmu yang sangat buruk kepadaku, malah menjadikanku semakin kuat," ucap Naura tersenyum kecil.
Mendengar ucapan Naura, Gabryel menunduk sedih. Dia menayadari jika perbuatannya selama ini sangat menyakiti Naura. Bahkan dia dapat melihat kebencian yang besar di mata Naura. Namun, niatnya telah bulat. Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Naura. Dia juga sangat yakin jika Naura akan mau menerimanya kembali.
"Ra, maukah kau rujuk denganku?" ucap Gabryel memberanikan diri untuk mengengam tangan Naura.
Mendengar ucapan Gabryel, Naura langsung tersenyum sinis. Dia tidak meyangka jika Gabryel berani meminta rujuk dengannya, setelah apa yang dilakukan Gabryel kepadanya selama ini.
"Aku tau aku salah! Aku tau kau sangat benci dan marah kepadaku. Tapi, tolong berikan kesempatan untukku. Aku berjanji akan memperbaiki hubungan kita agar lebih baik lagi. Aku berjanji akan berubah dan tidak mengulangi perbuatanku lagi. Ra, aku mohon! Kembalilah kepadaku. Kembalilah ke istana kita," ucap Gabryel menatap Naura penuh permohonan.
"Setelah kau menjadikanku sebagai bantalan tinjumu. Bahkan kau juga memperlakukanku layaknya seperti binatang. Sekarang dengan mudahnya kau meminta rujuk denganku," ucap Naura tersenyum sinis.
"Pakai inimu sebelum berbicara," ucap Naura menunjuk kepalanya lalu bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Ra, tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," ucap Gabryel berlutut di kaki Naura.
"Maaf! Kesemparan untukmu sudah habis. Aku telah bersabar menunggumu selama dua tahun. Tapi, kau tidak pernah menghargai kesempatan yang aku berikan. Jadi, jangan salahkan aku jika aku telah menutup pintu kesempatan untukmu," ucap Naura melangkahkan kakinya meninggalkan Gabryel.
Melihat Naura yang tidak memberikan kesempatan lagi dengannya, Gabryel langsung menjatuhkan air matanya. Dia mentap Naura dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajah tampannya.
Namun, baru beberapa langkah Naura menghentikan langkahnya. Dia menatap Gabryel yang duduk bersimpuh di tanah sambil menangis menyesal.
"Tidak ada artinya kau larut penyesalanmu. Karna masa lalu tidak akan bisa diubah kembali. Lebih baik kau belajar dari masa lalu dan memperbaiki hidupmu kedepannya. Jangan pernah kau ulangi kesalahan yang sama lagi, atau kau akan kembali terpuruk dalam penyesalan. Perbaikilah hidupmu dan carilah kebahagiaanmu sendiri. Mungkin takdir kita memang cukup sampai di sini. Selamat tinggal," ucap Naura menatap Gabryel lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Gabryel.
Mendengar ucapan Naura, Gabryel berlahan menghapus air matanya. Dia menatap lekat punggung Naura yang semakin menjauh. Dari ucapan Naura, Gabryel tau jika tidak ada kesempatan lagi untuknya.
"Arghhh....." teriak Gabryel meluapkan emosinya.
"Kenpaa? Kenapa aku sebodoh ini? Kenapa aku baru menyadari jika dia wanita yang tepat untukku, setelah dia pergi meninggalkanku?" gumam Gabryel duduk bersimpuh di tanah sambil meneteskan air matanya.
Saat Gabryel sedang meratapi nasibnya, tiba-tiba seseorang memegang pundaknya. Sadar ada yang menyentuh pundaknya. Gabryel berlahan mengangkat kepalanya dan menatap seorang pria paru baya yang berdiri di depannya.
"Ayo, Nak! Bangkitlah. Tidak ada artinya kau terus berada di dalam penyesalan seperti ini. Sekarang bangkitlah dan buka lembaran baru dalam hidupmu," ucap Ronal menatap iba putranya itu.
"Papa! Maafkan Gabryel. Maafkan Gabryel yang tidak pernah mendengarkan ucapanmu," ucap Gabryel langsung memeluk Ronal dan menangis di dalam pelukannya.
"Tidak apa-apa, Nak. Sekarang kita pulang ya. Mungkin takdirmu bersama Naura memang cukup sampai di sini saja. Jika kau memang mencintainya, Biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Kau cukup berdoa untuk kebaikannya. Karna hal yang paling bahagia di dalam hidup kita adalah melihat orang yang kita cintai bahagia. Walaupun kebahagiaannya bukan bersama kita,"
Bersambung....
******
__ADS_1