
Rocky dan beberapa anak buahnya akhirnya mendarat di bandara kota. Ronal yang tidak bisa menjemput kedatangan rekan kerjanya itu, menyuruh para anak buahnya untuk menjemput Rocky ke bandara. Rocky melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dan berjalan ke luar bandara dengan arogantnya.
"Di mana Ronal?" tanya Rocky kepada anak buah Ronal.
"Tuan Ronal sedang menemui nyonya muda di panti asuhan, Tuan. Sesuai perintah tuan, Tuan Ronal sudah menjelaskan semuanya kepada nyonya muda," jelas pria itu.
"Baguslah! Dengan begitu kita bisa membawa nyonya muda secepatnya," ucap Rocky tersenyum kecil lalu melangkahkan kakinya menuju mobil.
Rocky duduk di samping supir sambil menatap ke indahan kota yang baru dia temui. Dia terus tersenyum sambil membayangkan kecantikan Naura. Dia sudah tidak sabar melihat Naura dengan mata kepalanya sendiri. Walaupun Ronal selalu mengirimkan foto Naura, tapi Rocky belum merasa puas jika dia belum bisa melihat Naura secara langsung.
Saat melewati jalanan sepi, Rocky dan anak buahnya melihat ada beberapa mobil dan sekelompok pria yang sedang berkumpul dari kejauhan. Rocky mengerutkan keningnya ketika melihat posisi semua mobil itu. Dia bisa melihat semua mobil itu sedang menghalangi mobil yang ada di tengah.
"Ada apa itu?" tanya Rocky menatap sopir yang ada di sampingnya.
"Jalanan ini adalah jalanan sepi, Tuan. Jadi para penjahat sering memanfaatkan keadaan jalanan ini untuk melancarkan aksi mereka," jelas sopir.
"Cepat lajukan mobilnya," ucap Rocky tiba-tiba merasakan kecemasan yang tidak menentu.
Tolong.... Tolong....
Suara rintihan seorang wanita langsung terdengar jelas di telinga Rocky. Mendengar suara itu darah Rocky langsung mengalir dengan deras sehingga membuatnya langsung gemetar.
"Berhenti," ucap Rocky seketika lalu turun dari mobilnya.
Mata Rocky langsung membulat ketika melihat Naura berdiri menatap ke arahnya dengan tatapan meminta pertolongan.
"Siapa kalian?" tanya Rocky berlari ke arah Naura sambil menodongkan senjatanya.
Melihat Rocky yang keluar dari mobil. Semua anak buahnya langsung turun dari mobil mereka dan menyerang kelompok brandalan yang sedang menyiksa Naura. Melihat kelompok Rocky yang datang menyerang mereka ketua brandal itu langsung mengeluarkan belatinya dan menusuk perut Naura.
Naura yang merasakan belati itu telah menembus perutnya. Dia berusaha menahan tangan pria itu agar belati itu tidak melukai perutnya terlalu dalam. Bayangan Raygan dan semua orang-orang yang menyanginya langsung melintas di ingatan Naura. Terlebih lagi janjinya kepada Yulia membuat tenanga Naura semakin kuat. Dia berusaha sekuat tenanganya menahan tangan pria itu agar tidak menusukkan belatinya lebih dalam lagi.
"Nyonya muda!" teriak Rocky sehingga membuat para berandal itu langsung tercengang.
__ADS_1
Ketua berandal itu dengan cepat melepaskan Naura lalu pergi untuk menyelamatkan dirinya. Ketua brandal itu tidak tau jika menyakiti Naura akan membuat mereka masuk kedalam siksaan neraka dunia yang sangat menyakitkan.
"Tangkap mereka! Jangan sampai mereka lolos," perintah Rocky penuh amarah kepada seluruh anak buahnya.
Dor... Dor...
Anak buah Rocky langsung meluncurkan tembakannya. Mereka menembak semua brandal yang belum sempat melarikan diri. Melihat ketua brandal beserta beberapa anak buahnya telah kabur mengunakan mobil mereka. Anak buah Rocky langsung mengejarnya dengan cepat. Bagi mereka pantang mundur sampai mendapatkan seluruh musuh dengan tangan mereka sendiri. Apalagi kali ini musuh mereka telah melukai nyonya muda mereka.
"Nyonya muda! Nyonya harus kuat," ucap Rocky menitikkan air matanya lalu memeluk tubuh Naura dengan erat.
Rocky berusaha melepaskan belati yang menusuk perut Naura dengan hati- hati. Melihat darah yang mengalir dari perut Naura. Rocky langsung melepaskan kemejanya lalu mengikat perut Naura. Dengan cepat dia mengendong tubuh Naura dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Cari rumah sakit terdekat," perintah Rocky pada supirnya.
Mendengar perintah Rocky supir itu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju rumah sakit terdekat di lokasi mereka. Rocky menatap tubuh Naura yang di penuhi luka dengan penuh amarah. Dia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena telah gagal melindungi Naura.
"Kau yang kuat! Paman tidak akan bisa hidup tenang jika terjadi sesuatu padamu," ucap Rocky menitikkan air matanya sambil memeluk tubuh Naura.
Melihat Rocky yang meneteskan air matanya, supir yang sedang melajukan mobilnya itu langsung mengusap bulu kuduknya yang merinding. Dia merasa jika para musuh itu telah membangunkan iblis yang sedang bersemayam secara terang-terangan.
Prakk....
Raygan yang sedang melakukan rapat penting bersama kliennya, tidak segaja menyengol gelas yang ada di sampingnya. Tiba-tiba dia mengingat Naura dan merasakan kecemasan yang sangat besar. Mbara yang melihat kecemasan Raygan langsung bergerak dengan cepat. Dia mendekati Raygan dan berusaha menenangkan Raygan.
"Ada apa, Tuan?" tanya Mbara sedikit berbisik agar tidak terdengar oleh para kliennya.
"Aku merasa terjadi sesuatu yang buruk kepada Naura. Tolong kau hubungi dia," bisik Raygan berusaha mengatur dirinya.
"Baik, Tuan. Lebih baik tuan selesaikan rapat ini secepatnya," ucap Mbara mengerti dengan keadaan Raygan saat ini.
"Baik!" ucap Raygan lalu kembali melakukan rapat bersama para kliennya.
Dia berusaha terlihat propesional walaupun para kliennya dapat melihat kecemasan yang terpancar di wajah Raygan. Candra yang melihat raut wajah Raygan mencoba membantunya agar rapat bisa selesai dengan cepat.
__ADS_1
"Kalau begitu rapat kita hari ini telah selesai. Mohon maaf karna saya menjelaskan tentang produk ini sedikit terburu-buru. Karena ada situasi yang buruk yang sedang mempengaruhi pikiran saya. Saya harap kalian bisa memakluminya dan tidak kecewa dengan ketidak propesionalan saja," ucap Raygan penuh permohonan.
"Tidak apa-apa, Tuan. Kami dapat mengerti posisi anda saat ini," ucap para klien Raygan dengan penuh pengertian.
Mendengar ucapan para kliennya Raygan langsung tersenyum lalu menyalami para kliennya. Setelah para kliennya keluar dari ruang rapat Candra langsung menatap putranya itu dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa?" tanya Candra menatap Raygan.
"Ray merasa terjadi sesuatu yang buruk pada Naura, Pa. Tapi Ray tidak tau apa itu," ucap Raygan mengusap wajahnya kasar.
"Tuan! Nyonya sudah pulang dari panti asuhan satu jam yang lalu. Tapi saya tanya kepada tante dia belum pulang juga," jelas Mbara menghampiri Raygan.
"Apa kau sudah menghubunginya?" tanya Raygan.
"Sudah, Tuan! Tapi nomornya tidak aktip," ucap Mbara.
"Ya Allah! Dimana kau Naura?" ucap Raygan mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Apa kau sudah menghubungi ke restoran. Mana tau Naura pergi ke restoran terlebih dulu," ucap Candra.
"Sudah, Tuan. Tapi mereka bilang Naura tidak ada ke restoran satu hari ini," jelas Mbara.
"Apa kau sudah melacak GPS mobilnya?" tanya Raygan.
"belum, Tuan. Saya akan mencobanya," ucap Mbara meraih leptop Raygan.
Dengan cepat Mbara mengotak atik leptop Raygan. Hingga akhirnya mata mereka membulat ketikan melihat lokasi mobil Naura yang berada di jalan sepi dan berhenti tanpa ada gerakan sedikitpun.
"Mobilnya sudah ada di sini sejak tiga puluh menit yang lalu. Tapi kenapa tidak ada pergerakan sama sekali?" guman Mbara menatap lokasi mobil Naura.
"Ada beberapa mobil juga di sini," ucap Candra menatap layar leptop itu.
"Jangan-jangan Naura," ucap Raygan panik lalu berlari keluar ruang rapat itu.
__ADS_1
Bersambung.....