Sistem Melayani Suami

Sistem Melayani Suami
Part 11


__ADS_3

Setelah di nyatakan sembuh akhirnya Naura di perbolehkan untuk pulang. Setelah pulang dari rumah sakit Gabryel merawat Naura di mensionnya seorang diri. Dia menatap luka lembab di tubuh Naura yang berlahan memudar.


"Sayang." ucap Gabryel sambil mengoleskan obat ke tubuh Naura.


"Ya."


"Maaf jika selama ini aku telah menyakitimu. Walaupun aku sering menyakitimu tapi, kau selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku."


"Itu sudah kenjadi kewajibanku menjadi istrimu."


"Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku ya. Aku tidak mau melihatmu menderita di luar sana."


Mendengar ucapan Gabryel berlahan Naura tersenyum sinis. Walaupun Gabryel kini telah berubah tapi, dia bisa merasakan sindiran halus yang keluar dari mulut Gabryel.


"Apa kau tau jika seorang istri itu seperti burung yang ada di dalam sangkarnya. Dia akan tetap beryanyi dan berkicau ria walaupun sedang terkurung di dalam sangkar yang belum tentu dia inginkan. Tapi, coba saja sekali kau melepaskannya dia pasti terbang dengan bebasnya dan engan untuk kembali."


"Tapi, seekor burung jika di lepaskan dia akan terbang di sekitaran sangkarnya. Dia tidak akan bisa pergi jauh karna selama ini hidupnya telah ketergantungan dengan majikannya." ucap Gabryel tersenyum lalu mencium lembut kening Naura.


"Tapi, aku tau kau tidak akan pernah pergi meningalkanku." ucap Gabryel kembali sambil mendorong pelan tubuh Naura untuk berbaring di ranjang mereka.


Dengan lembut Gabryel menjajah tubuh Naura dan melepaskan pakaian Naura yang menutupi tubuh Naura. Melihat kelakuan Gabryel Naura hanya diam dan tetap terlihat tenang. Selama ini Naura memang sengaja memasang pengaman agar benih Gabryel tidak sampai berhasil membuahi rahimnya.


Bukannya Naura tidak mau memberikan keturunan kepada Gabryel. Tapi, dia tidak mau menambah penderitaannya dengan kehadiran anak di tengah-tengah rumah tangganya dengan Gabryel yang selalu di penuhi siksaan.


...----------------...


Hari ini adalah jadwal Naura untuk melakukan trapi. Dia secara diam-diam menemui psikolog yang selama ini memeriksa keadaannya. Walaupun terlihat baik-baik saja tapi, Naura masih menyimpan trauma atas perbuatan Gabryel yang selalu menyiksanya selama ini.


"Keadaan nyonya sudah mulai membaik. Sebagai seorang psikolog aku bangga dengan semangat nyonya. Nyonya bisa sembuh dari trauma nyonya secepat ini." ucap Psikolog yang menangani Naura.


"Ada saatnya dimana kita harus bangkit seorang diri, Dok. Jika kita mengharapkan perhatian dari orang sekitar kita yang tidak pernah perduli dengan keadaan kita. Maka, kita tidak akan pernah bangkit. Karna bahu yang paling kuat untuk menopang kesedihan kita hanyalah bahu kita sendiri."

__ADS_1


Mendengar ucapan Naura, Psikolog itu langsung tersenyum. Dia dapat melihat semangat yang begitu besar di mata Naura. Dia yakin Naura akan segera terbebas dari penderitaannya dan mendapatkan kebahagiaan sebagai hadiah atas kesabarannya selama ini.


"Ini resep obatnya, Nyonya. Jangan lupa di minum dengan teratur ya." ucap psikolog itu memberikan resep obat kepada Naura.


"Terima kasih, Dok." ucap Naura tersenyum.


"Apa nyonya mau menerima bantuan dariku. Aku akan membantu nyonya terbebas dari siksaan iblis itu." ucap psikolog itu penuh amarah mengingat kelakuan Gabryel kepada Naura.


"Tidak perlu! Aku bisa menanganinya seorang diri. Aku tidak mau Dokter terlibat dalam masalah ini." ucap Naura langsung menolak tawaran psikolog itu.


"Aku mohon jangan beritau siapapun tentang semua ini. Biar aku yang menghadapinya sendiri." ucap Naura penuh permohonan.


"Baik, Nyonya. Jika itu yang nyonya inginkan. Tapi, jika nyonya butuh bantuan katakan saja kepadaku. Aku akan dengan senang hati membantu nyonya." ucap psikolog itu menatap Naura penuh rasa iba.


"Kau tidak perlu memangilku nyonya. Pangil saja aku Naura." ucap Naura tersenyum manis.


"Baiklah, Kak Naura. Kakak juga tidak perlu memangilku dokter panggil saja Icha." ucap Icha tersenyum manis.


"Bisa aku meminta nomor ponsel kakak?" ucap Icha tersenyum manis.


"Tentu saja!" ucap Naura langsung merasa nyaman bersama Icha.


Naura memberikan nomor ponselnya kepada Icha. Icha dengan semangat menyimpan nomor Naura. Ntah mengapa Naura bisa langsung nyaman dengan Icha. Begitu juga dengan Icha, Icha memang gadis yang sangat ramah dan juga mudah bergaul dengan orang sekitarnya.


Naura melihat jam tangannya, dia melihat hari telah menjelang sore. Dengan cepat Naura pamit kepada Icha dan segera kembali ke mension. Naura tidak mau Gabryel tau jika dia pergi menemui psikolog secara diam-diam. Dengan senang hati Icha mengantar Naura sampai ke mobilnya. Setelah melihat kepergian Naura, Icha langsung membuang napasnya kasar.


"Kak Naura sangat baik. Tapi, kenapa dia bisa di satukan dengan pria iblis seperti Gabryel itu. Jika aku jadi Kak Naura sudah ku ulek tu lakik." ucap Icha penuh kekesalan.


"Kenapa kau?" ucap seorang pria berbadan tegap tiba-tiba muncul di belakang Icha.


"Astaga naga! Kakak." teriak Icha mengelus dadanya pelan.

__ADS_1


"Kau sedang melihat siapa? Serius amat?" ucap Raygan kakak sepupu Icha yang terkenal cuek dan dingin tapi, selalu jahil kepada Icha.


"Tidak ada. Aku baru mendapatkan pasien yang mengalami trauma akibat perbuatan suaminya yang seperti iblis. Apa kakak tau dia sampai ingin bunuh diri karna frustasi." jelas Icha.


"Benarkah! Apa ketika melakukan trapi denganmu dia sembuh? Atau malah semakin frustasi karna melihat wajahmu." ucap Raygan terkekeh kecil.


"Lama-lama aku yang jadi frustasi jika kakak terus mengodaku. Lebih baik kakak cari kakak ipar sana." ucap Icha mendorong kecil tubuh Raygan.


"Tidak! Aku tidak percaya dengan namanya cinta. Bagiku semua wanita itu sama saja. Mencintai karna uang." ucap Raygan ketus lalu pergi ke ruangan Icha.


"Kakak mau kemana?" teriak Icha mengejar Raygan.


"Mau tidur. Ingat ya, jika Mommy menghubungimu katakan aku tidak ada." ucap Raygan membaringkan tubuhnya di sofa lalu memejamkan matanya.


Melihat tingkah kakak sepupunya itu Icha hanya mampu membuang napasnya kasar. Tidak punya pilihan dia hanya bisa diam lalu kembali memeriksa dokument tentang perkembangan pasiennya.


Sedangkan Naura saat menuju ke mensionnya tiba-tiba dia mendapat notif pesan masuk dari whatsapp Gabryel yang telah dia sadap. Dengan cepat Naura membuka pesan itu dan melihat jika nanti malam Gabryel akan mengadakan makan malam bersama seseorang. Dengan cepat Naura menghubungi Gabryel untuk memastikan dugaannya benar.


"Hallo! Ada apa, Sayang?" ucap Gabryel langsung mengangkat pangilan Naura.


"Sayang, kau nanti malam pulang jam berapa?" tanya Naura.


"Oh! Maaf, sayang. Nanti malam aku pulang terlambat. Soalnya ada rapat penting. Kau tidak apa-apa kan?"


"Tidak apa-apa. Apa perlu aku mengantar makan malam untukmu?"


"Tidak usah, Sayang. Kau istirahat saja. Sudah ya, aku masih banyak pekerjaan."


Mendengar ucapan Gabryel Naura hanya berdehem kecil lalu mematikan pangilannya. Dengan cepat Naura kembali ke mension lalu bersiap-siap untuk pergi ke restoran tempat Gabryel mengadakan makan malam.


Sesampainya di restoran itu, Naura langsung di kejutkan dengan penampakan yang sangat menghancurkan hatinya. Tak terasa air matanya langsung mengalir dengan derasnya membasahi wajah cantiknya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2