
"Permisi, Tuan." ucap sekertaris Gabryel tiba-tiba masuk ke ruangannya.
"Ada apa?" ucap Gabryel dingin sambil terus menatap dokument di depannya.
"Maaf, Tuan. Nanti malam anda di undang ke pesta ulang tahun pernikahan Tuan dan Nyonya Wilona."
"Oh, ia! Saya hampir lupa. Tolong kau belikan gaun terbagus untuk istriku. Aku mau dia terlihat cantik malam ini."
"Baik, Tuan. Nyonya muda memang sangat beruntung bisa memiliki anda." ucap sekertarinya menatap kagum Gabryel.
"Terima kasih. Itu sudah menjadi kewajibanku untuk membuat istriku selalu tampil istimewa." ucap Gabryel tersenyum penuh keangkuhan.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Tuan. Saya akan langsung pergi ke butik untuk membeli gaun untuk, Nyonya."
"Baiklah! Pakai ini." ucap Gabryel memberikan kartu credit tanpa batas kepada asistennya.
"Kau beli jugalah gaun untukmu. Pasti kau di undang juga'kan malam ini."
"Terima kasih banyak, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." ucap sekertarisnya tersenyum lalu keluar dari ruangan Gabryel.
Gabryel menatap kepergian sekertarisnya sambil tersenyum manis. Setelah melihat sekertarisnya pergi Gabryel meraih saku celananya dan mengambil ponselnya di dalam sana. Dengan cepat Gabryel mencari nomer Naura dan segera menghubunginya.
"Hello! ada apa, Mas?" ucap Naura dari sebrang sana.
"Kau pergilah ke salon. Sebentar lagi sekertarisku akan mengirimkan gaun untukmu." ucap Gabryel tegas.
"Ada acara apa? Kenapa tiba-tiba kau menyuruhku ke salon?"
"Nanti malam kita akan menghadiri pesta ulang tahun pernikahan Tuan Wilona. Aku harap kau menjaga sikapmu selama di sana. Ingat jika tanpa aku kau tidak ada apa-apanya." ucap Gabryel mengancam Naura.
"Baik, Mas." ucap Naura lirih.
"Gitu dong. Jika kau selalu menurut dan patuh kepadaku aku tidak akan pernah menyakitimu." ucap Gabryel tersenyum sinis.
"Ya, sudah. Kau pergilah ke salon secepatnya. Ingat luka yang ada di tubuhmu jangan sampai ada yang tau itu karnaku. Kau ingat itu?" ucap Gabryel menginta luka lembab yang ada di tubuh Naura karna ulahnya.
"I.. Ia, Mas." ucap Naura gugup.
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan Naura, Gabryel langsung mematikan pangilannya secara sepihak. Dia tersenyum sinis mengingat Naura berangsur-angsur bisa dia kendalikan. Bahkan Naura tidak pernah membantah ataupun melawannya walaupun dia selalu menyiksa Naura setiap harinya.
"Naura! Akhirnya kau sadar juga siapa dirimu." gumam Gabryel tersenyum sinis.
...----------------...
Naura duduk di meja riasnya sambil menatap beberapa bagian tubuhnya yang membiru karna ulah Gabryel. Melihat Naura selalu diam dengan perlakuannya Gabryel malah semakin menjadi. Bahkan dia selalu membesar-besarkan masalah kecil dan tanpa ada rasa iba dia juga memukuli Naura secara habis-habisan.
"Nyonya, ini cream yang Nyonya minta." ucap Bi Tini memberikan Cream untuk menutupi luka lembab pada tubuh Naura.
"Tolong bibi oleskan di pungungku ya. Aku tidak bisa melihatnya." ucap Naura tersenyum.
"Baik, Nyonya. Sampai kapan Nyonya bertahan dengan perlakuan Den Gabryel, yang semakin hari semakin mengila?" ucap Bi Tini menitikkan air matanya melihat tubuh Naura yang di penuhi tato biru.
"Ada saatnya di mana seorang istri mulai lelah, di situlah dia akan mengambil keputusan yang sangat besar dalam kehidupannya. Selagi seorang istri merasa sangup menghadapi semua perlakuan buruk suaminya, pasti dia akan memilih untuk bertahan. Tapi, ada saatnya seorang istri mulai merasa lelah. Di situlah dia akan menunjukkan kekuatannya yang sebenarnya." ucap Naura menatap patulan dirinya dengan tatapan kosong.
Mendengar ucapan Naura, Bi Tini hanya bisa diam. Dia membantu Naura untuk menutupi luka lembab di tubuhnya. Bi Tini melihat jika sebenarnya Naura sangat kesakitan. Tapi, Naura tetap berusaha terlihat tegar dan tidak meneteskan air matanya sedikitpun.
Setelah selesai menutupi luka di tubuh Naura pergi ke salon langanannya. Dia sengaja menaruh cream di wajahnya terlebih dulu agar pemilik salon yang meriasnya nanti tidak melihat luka di wajahnya.
Setelah selesai Gabryel menjemput Naura. Dengan penuh tipu daya dia menjemput Naura dengan sangat romantis, sehingga tidak ada yang tau jika dia memilikk kejam yang sangat mengerikan.
"Sudah, Sayang. Ayo kita berangkat. Pestanya sebentar lagi akan di mulai."
"Ayo!"
Gabryel dan Naura bejalan keluar salon dengan begitu mesranya. Gabryel merangkul mesra pingang Naura lalu membukakan pintu untuk Naura. Setelah melihat Naura duduk dengan nyaman Gabryel menutup pintu lalu berjalan menuju bangku pengemudi.
"Bagus! Ingat jangan pernah perlihatkan wajah sedihmu di depan umum." ucap Gabryel tersenyum sinis.
"Tanpa kau katakan aku tau apa yang harus aku lakukan. Kau tenang saja, aku tidak akan membuat namamu buruk. Karna sebagai seorang istri tidak boleh mengumbar keburukan suaminya sendiri." ucap Naura menatap Gabryel dengan tatapan penuh kebencian.
"Baiklah! Kau memang pintar." ucap Gabryel melajukan mobilnya.
Sesampainya di lokasi pesta Gabryel memperlakukan Naura dengan sangat baik. Dia merangkul Naura dengan penuh mesra memasuki lokasi pesta itu. Melihat pasangan yang selalu terlihat romantis para wartawan langsung datang mengerumuni mereka.
Tidak mau membuang kesempatan para wartawan mengambil foto Nuara dan Gabryel. Mereka langsung menyebarkannya kesuluruh penjuru dunia. Pasangan paling romantis dan selalu terlihat harmonis. Itulah yang semua wartawan dan orang luar lihat.
__ADS_1
"Hai, Tuan Gabryel dan Nyonya Wi. Terima kasih sudah menyempatkan waktumu untuk menghadiri pesta kami." ucap Tuan Wilona menyambut Naura dan Gabryel.
"Tidak masalah, Tuan. Mana mungkin kami melewatkan undangan spesial dari anda." ucap Gabryel tersenyum.
"Kalau begitu ayo masuk. Tuan dan Nyonya Patrick juga sudah ada di dalam."
"Baik, Tuan." ucap Gabriyel tersenyum.
"Ayo, Sayang." ucap Gabryel merangkul mesra pingang Naura lalu bergabung dengan para tamu lainnya.
"Hai, Kak Gabryel. Maukah kau berdansa denganku?" ucap Elissa langsung menghampiri Gabryel dan Naura.
Tidak mau membuat pandangan buruk, Gabryel menatap Naura untuk meminta persetujuan.
"Kak! Boleh aku pinjam suamimu sebentar. Aku mau berdansa tapi, aku tidak punya pasangan." ucap Elissa dengan penuh permohonan.
"Boleh! Kau berdansa saja dengannya." ucap Naura tersenyum.
"Apa kakak tidak marah?"
"Untuk apa aku marah. Aku percaya kepada suamiku. Dia pasti bisa menjaga cinta kami." ucap Naura tersenyum.
"Terima kasih ya, Sayang. Kau memang istriku yang paling cerdas." ucap Gabryel tersenyum sambil mencium lembut wajah Naura.
Mendengar ucapan Naura, semua orang semakin kagum kepadanya. Kepercayaan adalaha kunci teguh kehormanisan dalam berumah tangga. Melihat sikap Naura yang sangat dewasa semua orang langsung memujinya dan semakin kagum dengan pernikahannya dengan Gabryel.
"Bagus! Semakin hari kau semakin pintar saja." bisik Rini mendekati Naura.
Mendengar ucapan mertuanya Naura hanya tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju toilet. Sakit memang sakit ketika melihat suamimu berdansa dengan wanita lain. Tapi, kau tidak punya kekuatan untuk berbicara. Mulutmu seperti di kunci sehingga kau tidak bisa mengucapkan semua kepedihan yang terus kau pendam. Itulah yang di rasakan Naura saat ini.
"Aw!" pekik Naura ketika seorang pria berbadan tega tidak segaja menyengolnya dan mengenai luka yang ada di tubuhnya.
"Maaf! Aku tidak sengaja. Tapi, kenapa lenganmu biru seperti itu?" ucap pria itu melihat lengan Naura yang membiru.
"Tidak apa-apa." ucap Naura panik lalu berlari kedalam toilet.
Pria itu menatap aneh Naura. Dia melihat ada noda cream wajah di kemejanya. Cream yang sengaja Naura gunakan untuk menutupi lukanya ternyata mengenai kemeja pria itu sehingga luka Naura terlihat dengan jelas.
__ADS_1
Bersambung....