
Gabryel berlahan berjalan menuju ruang rawat Elissa. Dia melihat Elissa yang terbaring lemah di atas bangsalnya. Berlahan mata Gabryel tertuju pada box bayi yang ada di samping Elissa. Dia menatap bayi perempuan yang munggil dan cantik itu sambil tersenyum.
"Gabryel! akhirnya kau datang juga," ucap Elissa lemah sambil menatap Gabryel dengan mata berkaca-kaca.
"Aku ada di sini!" ucap Gabryel menatap lekat wajah Elissa yang terlihat sangat lemah.
"Apa kau sudah melihat bayi kita? Dia sangat cantik," ucap Elissa kembali.
Berlahan Gabryel mendekati box bayi itu. Dia membawa bayi mungil itu ke dalam pelukannya. Gabryel berlahan mengumandangkan adzan di telinga bayi munggil itu. Ronal yang melihat itu hanya mampu menahan tangisnya. Dia merasa bahagia dan sedih sekaligus. Dia akhirnya bisa melihat cucunya lahir kedunia ini. Namun, di saat itu juga menantunya akan mendapatkan hukuman atas perbuatannya.
"Gabryel! apa bisa aku meminta sesuatu kepadamu?" tanya Elissa menatap sedih Gabryel.
"Apa?" tanya Gabryel.
"Aku mohon rawat anak kita dengan baik. Aku titipkan dia kepadamu. Aku tau kau sangat membenciku, tapi aku mohon jangan benci anak kita. Dia tidak tau apa-apa," ucap Elissa menitikkan air matanya.
Dia berlahan mengelus lembut puncak kepala bayinya yang ada di gendongan Gabryel. Gabryel menatap lekat bayinya lalu menatap nanar Elissa.
"Aku akan merawatnya dengan baik. Karena dia adalah darah dagingku juga," ucap Gabryel tersenyum.
"Bagaimana keadaan Naura? apa boleh aku menemuinya?" tanya Elissa menatap Ronal yang berdiri di samping Gabryel.
"Aku ada di sini," ucap Naura datang mengunakan kursi roda dengan di dorong oleh Raygan.
"Naura! maafkan aku. Aku minta maaf atas semua perbuatanku kepadamu," ucap Elissa mencoba bangkit dari tidurnya dengan susah payah.
"Kau tidur saja. Kau baru saja melahirkan," ucap Naura kembali membaringkan tubuh Elissa.
"Naura! aku minta maaf. Aku terlalu banyak berbuat salah kepadamu. Aku telah dihantui rasa iri sehingga membuatku menjadi gelap mata. Aku mohon maafkan aku. Aku tidak mau pergi dengan membawa rasa penyesalanku kepadamu," ucap Elissa meneteskan air mata penyesalannya.
"Aku sudah memaafkanmu. Sebelum kau meminta maaf aku sudah memaafkanmu terlebih dulu," ucap Naura tersenyum.
"Kau memang sangat baik Naura. Pantas saja kau selalu mendapatkan kebahagiaan. Semakin aku ingin menjatuhkanmu kamu malah semakin bangkit. Bahkan kau malah mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah," ucap Elissa tersenyum sambil menahan napasnya yang terasa sesak.
__ADS_1
"Elissa! kau kenapa?" tanya Naura panik.
"Maafkan aku Naura. Aku minta maaf karena aku telah membayar orang untuk membunuhmu. Aku menyesal," ucap Elissa mengengam tangan Naura.
Mendengar ucapan Elissa, Naura hanya diam. Dia menatap Elissa dengan penuh rasa tidak percaya. Dia tidak menyangka jika para pria brandalan itu adalah orang-orang suruhan Elissa.
"Aku mohon maafkan aku Naura. Aku mohon maafkan aku," ucap Elissa dengan gagal karena dadanya yang terasa sesak.
"Pa! pangilkan dokter," ucap Naura panik melihat keadaan Elissa yang semakin panik.
"Tidak! aku tidak butuh dokter. Aku hanya butuh maaf darimu," ucap Elissa dengan tegas.
"Baik! aku memaafkanmu. Aku telah memaafkan semua kesalahanmu," ucap Naura tersenyum sambil meneteskan air matanya.
"Terima kasih! selamat tinggal. Tolong jaga bayiku," ucap Elissa tersenyum lalu berlahan menutup matanya.
"Elissa! Dokter!" teriak Naura memangil dokter.
"Dokter! menanti saya dok," ucap Ronal panik sambil berlari keluar.
"Maaf! saya periksa dulu," ucap dokter berlahan mendekati Elissa dan memeriksa keadaannya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Naura menatap Elissa dengan tatapan penuh kesedihan.
"Maaf! dia sudah meninggal. Maafkan saya yang tidak bisa menolongnya," ucap Dokter itu menunduk sedih.
Mendengar ucapan dokter itu, Gabryel dan Ronal langsung meneteskan air matanya. Memang benar mereka tidak menyukai Elissa. Namun, tidak untuk bayinya. Walaupun Elissa sangalah jahat dan licik tapi dia tidak pernah menghianati Gabryel.
"Maafkan papa yang tidak bisa menjaga ibumu. Papa berjanji akan menebus semua kesalahan papa. Papa akan menjadi papa dan ibu yang baik untukmu," ucap Gabryel mencium lembut wajah munggil bayinya.
"Kau yang sabar ya, Mas. Aku yakin atas cobaan ini kau akan segera mendapatkan kebahagiaanmu sendiri," ucap Naura menatap iba Gabryel.
"Terima kasih, Ra. Kau memang sangat baik. Jadi wajar saja kau selalu dilimpahi kebahagiaan," ucap Gabryel menatap Naura dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang di alami Gabryel saat ini. Orang yang dia sangat cintai di lamar oleh pria lain. Di saat yang sama istrinya meninggal dunia dan meninggalkan bayi munggil mereka. Sedangkan nyawa sang mama masih berada di ujung tanduk. Tidak ada yang tau keajaiban apa yang akan datang kepadanya.
"Papa akan mengatur pemakaman Elissa," ucap Ronal.
"Baik, Pa!" ucap Gabryel mengantuk patuh lalu menatap Raygan yang berada di belakang Naura.
"Terima kasih," ucap Gabryel menatap Raygan dengan lekat.
Mendengar ucapan Gabryel, Raygan langsung mengerutkan keningnya bingung.
"Terima kasih kerena memberikan Elissa kesempatan untuk melahirkan bayi kami. Terima kasih juga karena kau memberikan Elissa waktu untuk meminta maaf. Sehingga dia bisa pergi dengan tenang," ucap Gabryel menatap Raygan.
"Jangan berterima kasih kepadaku! Tapi berterima kasihlah kepada Allah. Karena dia yang memberikan kesempatan untuk semua itu," ucap Raygan tersenyum.
Mendengar ucapan Raygan, Gabryel langsung tersenyum kecil. Apa yang di katakan Raygan benar apa adanya, karena keajaiban Allah Naura sadar tepat pada waktunya. Sehinga membuat nyawa dia orang hampir melayang akhirnya tertunda walaupu hanya sebentar.
"Untuk mama, aku serahkan kepada kalian. Kalian boleh memberikan hukuman yang pantas untuknya. Karena yang bersalah tetap bersalah," ucap Gabryel meneteskan air matanya.
"Sayang?" tanya Naura menatap Raygan.
"Aku sudah memberikan hukuman yang pantas untuknya. Tapi kau masih bisa melihatnya dan membujuknya untuk berubah. Walaupun aku rasa itu sangat sulit," ucap Rocky tiba-tiba datang.
"Maksudmu?" ucap Ronal mengerutkan keningnya binggung.
"Karena hari ini hari kebahagiaan kita. Di mana nyonya muda kita telah sadar dari komanya. Dan juga sahabatku yang paling tampan ini telah menjadi kakek. Maka hati nurani ku tiba-tiba bersorak sesuatu. Sehingga aku meringankan hukuman untuk wanita ular itu," ucap Rocky menatap bayi munggil yang ada di gendongan Gabryel.
"Hukuman apa?" tanya Ronal mengerutkan keningnya binggung.
"Aku telah memasukkannya ke dalam penjara. Walaupun dia harus menghabiskan hari-harinya di penjara. Setidaknya dia punya kesempatan untuk hidup," ucap Rocky tersenyum.
"Kalian tidak tau saja. Aku memberikan hukuman yang lebih mengerikan dari pada kematian bagi wanita ular itu. Tapi setidaknya aku tidak perlu mengotori tanganku untuk membunuhnya," batin Rocky tersenyum sinis.
Menghabiskan waktu di balik jeruji besi adalah hukuman yang sangat mengerikan bagi Rini. Bagaimana tidak, biasanya dia akan menikmati hidupnya dengan berpoya-poya menghamburkan semua kekayaannya. Namun, sekarang dia harus menghabiskan masa tuanya di balik dinginnya jeruji besi. Bahkan dia di satukan dengan tahanan yang kejam sehingga membuat hidupnya di penuhi siksaan setiap harinya.
__ADS_1
Bersambung.......