
Elisa terdiam di dalam kamarnya. Sudah beberapa kali dia menghubungi Rini namun ponsel Rini tidak bisa di hubungi sama sekali. Sudah satu hari, satu malam dia tidak mendengar kabar dari mertuanya. Gabryel juga tidak pulang ke menssion mereka sehingga membuat Elisa semakin cemas.
"Mama kemana? kenapa tiba-tiba dia menghilang seperti di telan bumi? Gabryel juga! kenapa dia tidak pulang?" gumam Elisa bertanya pada dirinya sendiri.
Sejuta pertanyaan terus berputar di pikiran Elisa sehingga membuatnya menjadi kebingungan sendiri. Kedua mertuanya tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Gabryel suaminya juga tidak pulang dan tidak memberi kabar sama sekali.
"Aku harus menemui mama. Dia pasti di menssionnya," gumam Elisa mengambil tas selempangnya lalu melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Elisa langsung menuju ke mobilnya. Dengan cepat dia melajukan mobilnya menuju mension mertuanya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil terus mencoba menghubungi Rini. Namun, saat melewati jalanan sepi tiba-tiba mobilnya seperti menabrak sesuatu dan mengakibatkan mobilnya sedikit oleng.
"Argh... sepertinya ban mobilku bocor," gumam Elisa ketika dia berhasil menghentikan mobilnya.
Elisa berlahan turun dari mobil untuk memastikan jika dugaannya benar. Benar saja, Elisa melihat ban depan mobilnya telah kempis dan sudah kehabisan angin. Elisa langsung mengacak-acak rambutnya frustasi sambil menendang kecil ban mobilnya.
"Sial! dasar mobil sialan. Apa tidak bisa kau di ajak kompromi sedikit saja. Sudah jalanan ini sangat sepi lagi," ucap Elisa kesal sambil menatap ke sekitaran jalan itu.
Di saat Elisa sedang mencari bantuan, tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depannya. Elisa menatap seorang pria berbadan tegap dan di lengkapi balutan setelan jas lengkap keluar dari mobil itu.
"Ada apa, nyonya?" tanya pria itu menatap mobil Elisa.
"Ini, Tuan. Ban mobilku bocor. Aku coba menghubungi montir tapi tidak bisa," ucap Elisa membuang napasnya pelan.
"Coba aku periksa dulu ya, Nyonya," ucap pria itu berjongkok untuk melihat keadaan mobil Elisa.
Namun, tanpa Elisa sadari seorang pria yang berada dimobil turun dan mendekati Elisa. Pria itu menutup mulut Elisa dengan sapu tangan. Dengan seketika Elisa langsung pingsan karena obat bius yang ada di sapu tangan itu.
Melihat Elisa yang sudah tidak sadarkan diri. Para pria itu langsung bergerak cepat. Mereka langsung membawa tubuh Elisa kedalam mobil dan membawanya ke suatu tempat.
...----------------...
Saat membuka matanya, Elisa kini berada di sebuah ruangan gelap. Dia dapat melihat setiap isi ruangan itu secara remang-remang karena cahaya yang masuk dari celah-celah ruangan itu. Dia mencoba bangkit dan menatap ke setiap sudut ruangan ini. Dia berlahan memegang kepalanya yang terasa berat akibat efek obat bius yang di berikan para pria itu.
__ADS_1
"Dimana aku? kenapa kepalaku terasa sangat pusing," gumam Elisa sambil berusaha mencari jalan keluar.
Elisa berlahan berjalan menuju pintu keluar dan mencoba untuk membukanya. Namun, pintu itu sepertinya terkunci dari luar sehingga dia tidak bisa membukanya. Elisa terus berusaha menekan handle pintu dengan harapan ada seseorang di luar sana yang bisa membantunya.
"Sial! kenapa aku tiba-tiba berada di sini," ucap Elisa kesal sambil menendang pintu kokoh di depannya.
"Aw! siap. Kenapa malah kakiku yang sakit," pekik Elisa ketika kakinya yang terasa berdenyut karena berciuman dengan pintu kokoh itu.
Tiba-tiba Elisa mendengar ada suara dari luar yang sedang membuka kunci pintu itu. Berlahan Dia menjauh agar tubuhnya tidak terkena pintu. Dia melihat dia orang pria berbadan tegap masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah yang sangat menyeramkan.
"Kau? Kenapa kau menculikku?" tanya Elisa menatap tajam pria yang ingin membantunya tadi.
"Kami hanya menjalankan tugas kami. Jika tidak! kami tidak akan sudi membuang-buang waktu kami untuk mencilik wanita ular sepertimu," jelas pria itu menatap kesal Elisa.
"Memang siapa yang menyuruh kalian? pasti bos kalian deretan orang tidak mampu 'kan? Makanya dia mengurungku di tempat kumuh dan bau ini," ucap Elisa mengipas-ngipas hidungnya mengunakan tangannya.
Dia menatap ke seluruh ruangan itu dengan tatapan jijik. Bahkan udara di sana cukup panas sehingga membuat Elisa merasa gerah.
"Kau nikmati saja ruangan ini. Masih untuk kami menyekapmu di sini. Jika kami mau kami bisa memindahkanmu ke gudang yang di penuhi kecoa dan tikus. Apa kau mau di pindahkan ke sana?" ucap kedua pria itu membuang napasnya kasar.
"Idiih! gitu saja marah. Saya hanya meminta keriganan. Lagian aku sedang hamil, apa kalian tidak kasihan pada bayiku? Dia pasti tidak nyaman berada di ruangan ini. Karena biasanya di berada di ruangan mewah dan juga steril. Sekarang kalian malah meletakkannya di sini," ucap Elisa terus mengeluh.
"Yang ada bayimu merasa tidak nyaman karena ada di kandungan wanita iblis sepertimu. Sekarang kau nikmati saja hari-harimu di ruangan ini. Sebelum tuan muda kami datang dan memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatanmu," ucap pria itu kesal lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
"Dasar! Kalian memang pria tidak punya hati. Masa sama wanita hamil saja kejam sekali. Apa kalian lupa kalian juga lahir dari rahim wanita. Kalian itu harus menghormati wanita, apalagi wanita hamil sepertiku,"
Mendengar ocehan Elisa yang tidak ada hentinya kedua pria itu langsung mengacak-acak rambut mereka frustasi. Untuk saja Elisa seorang wanita, bahkan dia sedang hamil besar. Jika tidak, sudah di pastikan mereka akan menjahit mulut Elissa agar tidak bisa mengoceh lagi.
"Diam kau! jika sekali lagi kami dengar kau mengoceh, jangan salahkan kami jika kami menjahi mulutmu itu," ucap kedua pria itu kesal.
"Baik! aku akan diam. Tapi apa boleh aku meminta minum. Aku sangat haus," ucap Elissa penuh permohonan karena kerongkongan nya yang terasa sangat kering.
__ADS_1
"Baiklah! aku akan mengambilkanna. Tapi! kau harus diam," ucap pria itu menunjuk wajah Elissa sambil menatapnya penuh kekesalan.
"Baik! tapi aku mau minuman dingin ya. Jika boleh sekalian makanannya. Aku lapar," ucap Elissa tersenyum kecil.
"Baiklah! kau tunggu saja," ucap kedua pria itu lalu kembali mengunci pintu ruangan itu.
Tak berselang lama kedua pria itu kembali sambil membawa air mineral dan juga nasi bungkus di tangannya.
"Ini!" ucap kedua pria itu memberikannya kepada Elissa.
"Hanya ini?" ucap Elissa menatap nasi bungkus dan juga air mineral itu.
"jadi?"
"Aku tidak biasa makan makanan seperti ini.Kalian saja yang memakannya,"
"Kau mau makan atau tidak?"
"Tidak! aku mau makanan dari restoran bintang lima,"
Melihat Elissa yang terus protes. Salah satu pria itu langsung mengambil ponselnya dan menghubungi bos mereka.
"Bos! wanita ini mau di apakan? apa perlu kami melemparkannya ke perkarangan buaya? kepala kami sangat pusing di buatnya,"
"What's! kalian kira aku ini kebo apa? pakai mau di kasi sama buaya"
"Diam kau!"
"Oke! aku diam,"
Bersambung.....
__ADS_1