Sistem Melayani Suami

Sistem Melayani Suami
Part 13


__ADS_3

"Jalan, Pak." ucap Naura melihat Gabryel tidak mengejarnya sama sekali.


Melihat Naura telah kembali, supir itu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia melirik Naura yang terus menangis dari kaca spion depan. Dari raut wajah Naura, supir itu bisa tau jika saat ini perasaan Naura sedang tidak baik-baik saja.


"Kita mau kemana lagi, Nyonya?" ucap sang supir menatap Naura dari kaca spion depan.


"Kita kembali ke mension saja." ucap Naura sambil terus menatap ke kaca jendela.


"Baik, Nyonya." ucap supir itu patuh sambil terus menatap iba Naura.


Jujur saja sebagai sesama manusia dia merasa kasihan kepada Naura. Andai saja dia punya kekuasaan sudah pasti dia akan membantu Naura terbebas dari jerat Gabryel yang sangat mengerikan.


Naura terus menatap ponselnya dan tidak melihat ada pemberitahuan misi yang harus dia lakukan dari aplikasi itu. Naura berusaha menghapus air matanya sambil mencoba menguatkan hatinya. Selama di perjalanan Naura terus meneteskan air matanya mengingat penghianatan Gabryel kepadanya.


"Kenapa hidupku semenderita ini? Apa dosaku sehingga kau memberikan cobaan yang sangat berat kepadaku? Apakah kau percaya jika pundakku sekuat itu? Jika ia, kuatkanlah ragaku agar aku bisa tetap berdiri kokoh walaupun begitu banyak beban yang harus aku pikul seorang diri." batin Naura menatap langit yang sudah hitam dan di taburi begitu banyak bintang-bintang.


Sesampainya di perkarangan mension, supir itu langsung menepikan mobilnya. Dia dengan sigap membukakan pintu untuk Naura sambil menatap Naura yang terus menangis.


"Apa nyonya baik-baik saja?" ucap supir itu menatap Naura dengan penuh rasa iba.


"Aku baik-baik saja. Bapak istirahatlah. Besok masih banyak pekerjaan yang akan menanti bapak." ucap Naura tersenyum lalu melangkahkan kakinya memasuki mension.


Naura berjalan memasuki mension Gabryel yang sangat luas. Dia berjalan dengan tatapan kosong ke depan tanpa memperdulikan para pelayan yang dia lewati. Sakit sunguh sakit, hancur hati Naura telah hancur berkeping-keping.


Penghianatan Gabryel sangatlah melukai Naura. Bahkan luka di sekujur tubuhnya akibat ulah Gabryel, tidak sebanding dengan luka di hatinya akibat penghianatan Gabryel. Yang lebih menyakiti hati Naura, Rini mama mertuanya juga mengetahui penghianatan Gabryel dan malah merestui hubungan mereka.


Sesampainya di kamar Naura menghempaskan bokongnya di tepi ranjang. Dia membuka kaca mata dan juga kain yang menutupi kepalanya. Naura menatap foto pernikahannya yang terpajang di dinding kamar mereka. Berlahan air mata Naura menetes dengan derasnya mengingat perlakuan Gabryel selama ini.

__ADS_1


"Apa belum cukup kau menyakiti fisik dan juga mentalku, Mas? Kenapa sekarang kau malah menambah luka dengan menyakiti hatiku? Jika boleh aku memilih takdirku maka aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalmu di dalam hidupku." ucap Naura berbicara dengan foto Gabryel sambil meneteskan air matanya.


Naura mengepalkan tangannya geram mengingat semua perlakuan Gabryel dan Rini kepadanya. Naura berusaha menguatkan hatinya dan mencoba mencari jalan keluar untuk masalah rumah tangganya. Sudah cukup! Sudah cukup Naura bertahan dengan siksaan yang selalu di berikan Gabryel kepadanya.


Naura mencari buku nikahnya dengan Gabryel dan mencoba mengumpulkannya bersama data-data dirinya dan juga Gabryel. Tapi, setelah mengambil keputusan untuk bercerai dengan Gabryel tiba-tiba ponsel Naura berbunyi. Dia melihat ada pesan misi selanjutnya yang harus dia selesaikan.


"Misi selanjutnya, kau harus memaafkan suamimu. Kau harus mengatakan aku memaafkanmu kepada suamimu. Jika kau berhasil maka tingal satu misi lagi dan setelah itu kau terbebas dari ikatan misi ini."


Degh....


Jantung Naura rasanya berhenti berdetak setelah mengetahui misi apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Bagaimana mungkin dia bisa memaafkan suaminya yang telah tega menghianatinya. Bahkan Gabryel telah menikahi Elissa secara diam-diam di belakangnya.


"Tidak! Aku tidak bisa melakukan misi ini. Aku tidak sangup." gumam Naura menitikkan air matanya seperti orang kebingungan.


"Ingat tingal dua misi lagi. Setelah itu kau akan mendapatkan imbalanmu dan juga bonus untukmu. Dua milyar akan segera di tanganmu jika kau berhasil melakukan misi ini dengan baik. Jika tidak, kau akan mendapatkan hukuman yang tidak bisa kau bayangkan." tiba-tiba ancaman dari aplikasi itu masuk ke ponsel Naura.


"Kenapa kau memberikan misi yang sangat menyiksaku! Apa belum cukup penderitaanku selama ini?" teriak Naura frustasi sambil melemparkan ponselnya ke atas ranjangnya.


Naura duduk bersimpuh di lantai sambil menangis histeris. Seperti air yang mengalir, air mata Naura terus mengalir dengan derasnya membasahi wajahnya. Ketika sedang menangis meringkuk di lantai Naura mendengar suara hentakan sepatu berlahan mendekatinya.


"Apa kau kecewa kepadaku, Sayang?" ucap Gabryel mengelus rambut panjang Naura.


Naura menatap Gabryel yang sedang duduk di tepi ranjang sambil metapnya. Mulut Naura rasanya seperti di kunci sehinga dia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Hanya air mata Naura yang terus menetes sebagai wakil untuk menyampaikan bagaimana perasaannya saat ini.


Gabryel berlahan meletakkan kedua tangannya di wajah Naura. Dia menghapus air mata Naura dengan ibu jarinya sambil menatap Naura dengan tatapan kosongnya. Ntah Gabryel juga bisa merasakan rasa sakit di hati Naura saat ini, atau dia malah merasa senang karna berhasil menyakiti Naura sampai seperti ini? Hanya Gabryellah yang tau apa yang ada di dalam hatinya saat ini.


"Sayang, maafkan aku. Aku terpaksa menikah dengan Elissa karna kemauan mama. Kau tau sendirikan jika mama sangat menginginkan cucu?" ucap Gabryel lirih sambil terus menatap Naura.

__ADS_1


"Apa kau mencintaiku, Mas?" ucap Naura menatap tajam Gabryel.


"Kenapa kau bicara seperti itu?"


"Karna kau dulu menikahiku bukan karna cinta."


"lalu kenapa kau mempertanyakan itu sekarang?"


"Jika kau tidak mencintaiku maka untuk apa aku terus bertahan dan mengharapkan cinta darimu?"


"Jika aku mencintaimu?" ucap Gabryel tersenyum lalu membantu Naura untuk duduk di sampingnya.


Mendengar pertanyaan Gabryel, Naura hanya bisa diam. Jujur saja sebagai seorang wanita dia tau jika Gabryel selama ini tidak mencintainya. Jika memang Gabryel mencintainya tidak mungkin Gabryel berani memperlakukanya layaknya binatang.


"Aku tau selama ini aku telah menyakitimu. Aku sadar jika apa yang aku lakukan kepadamu selama ini adalah kesalahan yang sangat besar. Tapi, setelah kau memilih untuk mengakhiri hidupmu aku menjadi sadar jika aku tidak akan bisa hidup tanpamu." ucap Gabryel menatap lekat wajah Naura.


"Sayang, aku mohon maafkan aku. Aku mau kita menjalin hubungan dari awal lagi. Aku berjanji aku akan berlaku adil kepadamu dan juga Elissa." ucap Gabryel menatap Naura penuh permohonan.


"Apa kau akan menjadikanku sebagai bantalan tinjumu lagi?" ucap Naura menatap Gabryel dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak! Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku menyesal karna pernah menyakitimu. Tapi, aku mohon maafkan aku."


"Baiklah! Aku memaafkanmu, Mas" ucap Naura menitikkan air matanya lalu membuang wajahnya seakan dia tidak mau melihat wajah Gabryel lagi.


"Terima kasih, Sayang. Aku tau kau tidak akan bisa hidup tanpaku." ucap Gabryel tersenyum lalu menciumi seluruh wajah Naura.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2