
Gabryel duduk terdiam di dalam ruangannya. Ntah mengapa beberapa hari ini dia selalu menghawatirkan Naura. Dia merasa jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Naura. Pikirannya menjadi sangat kacau apalagi sudah berapa kali dia menghubungi Naura tapi nomor Naura selalu tidak aktip.
"Kenapa aku sangat mencemaskan Naura? apa terjadi sesuatu padanya?" gumam Gabryel bertanya kepada dirinya sendiri.
Karena lelah berdebat dengan pikirannya sendiri. Gabryel memilih untuk pergi ke restoran Naura, untuk memastikan keadaan Naura dengan mata kepalanya sendiri. Namun saat melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya dia melihat Elissa. Elissa telah berdiri di depan pintu untuk menghalangi langkah Gabryel.
"Mau kemana kau? Sampai kapan kau akan menjauhiku seperti ini?" tanya Elissa menatap tajam Gabryel.
"Aku mau kemana itu bukan urusanmu. Lebih baik kau mingir dari hadapanku sekarang juga," ucap Gabryel dengan suara dingin dan tatapan tajamnya.
"Kenapa kau selalu menjaga dariku? Apa aku sehina itu? sehingga kau tidak sudi untuk menatapku sekali saja,"
Mendengar pertanyaan Elissa, Gabryel hanya tersenyum tipis. Dia menatap Elissa dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Bahkan semenjak kepergian Naura dia tidak pernah lagi tersenyum kepada Elissa sama sekali.
"Apa kau yakin ingin mendengar alasanku untuk menjauhimu?" tanya Gabryel dengan wajah datarnya.
"Ia! Aku ingin tau. Bahkan aku sangat ingin tau. Karena aku tidak mau terus menjadi pajangan di depan matamu," ucap Elissa penuh keyakinan.
"Baiklah!" ucap Gabryel tersenyum sinis lalu melangkahkan kakinya mendekati Elissa.
"Karena aku merasa jijik kepadamu. Karena dirimu aku harus kehilangan Nauraku. Bahkan aku harus menghabiskan waktu ku bersama wanita hina sepertimu. Aku menyesal pernah menerimamu dalam kehidupanku, jika kau tau malu aku rasa kau tau apa yang harus kau lakukan saat ini," ucap Gabryel lalu kembali melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Gabryel, Elissa langsung terdiam tanpa kata. Dia menatap Gabryel dengan penuh rasa tidak percaya. Dia tidak menyangka jika Gabryel benar-benar membencinya. Bahkan Gabryel secara terang-terangan ingin Elissa pergi dari kehidupannya.
"Jika kau terus memperlakukanku seperti ini. Jangan salahkan aku, jika aku akan bertindak lebih jauh. Jika aku tidak bisa bahagia denganmu. Maka, Naura juga tidak akan bisa hidup dengan bahagia. Aku akan menghancurkan Naura dengan tanganku sendiri," ancam Elissa menatap tajam Gabryel.
"Silahkan saja jika kau berani. Tapi jangan salahkan aku, jika aku akan menghancurkanmu dengan tanganku sendiri. Sekali saja kau melangkah untuk menyakiti Naura. Maka aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja," ucap Gabryel membalas tatapan Elissa.
Setelah selesai mengucapkan perkataannya, Gabryel kembali melangkahkan kakinya meningalkan Elissa. Elissa hanya mampu mengepalkan tangannya geram sambil menatap kepergiaan Gabryel. Dia menghentakkan kakinya kesal lalu pergi kekamarnya. Apalagi yang Elissa lakukan di kamarnya selain menghubungi Rini dan menggadu bagaikan anak kecil.
Setelah menempuh waktu lima belas menit di perjalanan, Gabryel akhirnya sampai di depan restoran Naura. Dia dengan cepat turun dari mobilnya, lalu melangkahkan kakinya memasuki restoran. Gabryel langsung mendekati salah satu karyawan Naura yang sedang melayani para tamu.
"Maaf! Nauranya ada?" tanya Gabryel.
"Apa! Bagaimana mungkin?" tanya Gabryel tidak percaya.
"Maaf, Tuan. Saya mengatakan yang sebenarnya. Tuan Raygan dan juga Tuan Mbara sedang mencari keberadaan nyonya,"
"Baiklah! Terima kasih atas informasinya. Jika ada kabar tentang keberadaan Naura jangan lupa beritahu saya ya. Ini kartu nama saya," ucap Gabryel memberikan kartu namanya kepada pelayan itu.
"Baik, Tuan!"
"Kalau begitu saya pamit dulu ya," ucap Gabryel pamit lalu keluar dari restoran.
__ADS_1
Sesampainya di mobil, Gabryel memijit keningnya pelan. Dia berusaha berpikir apa yang sebenarnya terjadi kepada Naura. Berlahan dia mengingat percakapan antara Rini dan Elissa. Gabryel langsung menduga jika menghilangnya Naura ada hubungannya dengan Elissa dan juga Rini sang mamanya sendiri.
Tidak mau berpikir panjang, Gabryel langsung melajukan mobilnya menuju kantor Raygan. Dia yakin jika Raygan pasti sedang mencari keberadaan Naura. Jika Gabryel dan Raygan bersatu pasti mereka bisa menemukan Naura secepatnya. Karena baginya sekarang ini keselamatan Naura adalah hal yang paling utama.
Gabryel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya dia sampai di depan kantor Raygan. Suatu kebetulan yang sangat besar. Saat dia sampai di depan kantor Raygan, dia melihat Raygan keluar dari kantornya bersama Mbara. Dengan cepat Gabryel turun dari mobilnya lalu berlari kecil kearah Raygan.
"Ray! Tunggu," teriak Gabryel sedikit meningikan suaranya sambil berlari kecil ke arah Raygan.
Raygan yang mendengar namanya di sebut langsung menghentikan langkahnya. Dia menoleh kearah Gabryel sambil mengerutkan keningnya binggung. Dia mencoba berpikir kenapa tiba-tiba Gabryel datang menemuinya.
"Ada apa?" tanya Raygan dengan dinginnya.
"Apa aku boleh ikut mencari Naura?" tanya Gabryel menatap Raygan dengan tatapan penuh permohonan.
"Aku tau kau pasti membenciku. Karena aku selalu menyakiti Naura. Tapi aku sudah menyesali semua perbuatanku. Jadi, aku mohon tolong beri aku kesempatan untuk mencari Naura bersama kalian. Aku berjanji tidak akan menggangu hubungan kalian. Aku akan mengikhlaskan Naura hidup bersamamu," ucap Gabryel kembali.
Mendengar ucapan Gabryel, Mbara langsung mendekati Raygan. Dia membisikkan sesuatu kepada Raygan. Mbara sangat yakin jika Gabryel bergabung bersama mereka pasti mereka akan lebih mudah mencari keberadaan Naura. Karena mereka curiga jika Ronal ada sangkut pautnya dengan aplikasi itu. Jika Gabryel bergabung dengan mereka, sudah dipastikan mereka akan lebih mudah untuk menyelidiki Ronal.
"Baiklah! Kau ikut dengan kami," ucap Raygan dingin lalu masuk kedalam mobilnya.
Bersambung.....
__ADS_1