
Melihat tanggan Raygan yang terus mengeluarkan darah. Rocky langsung menyuruh suster untuk mengobati luka itu. Raygan terus diam sambil menatap Rocky yang duduk di sofa sambil terus menatap dirinya dengan sejuta pertanyaan.
"Sudah, Tuan!" ucap suster setelah selesai mengobati luka di tangan Raygan.
"Baiklah! kau boleh pergi," ucap Raygan datar.
"Baik, Tuan!" ucap suster itu lalu keluar dari ruang rawat Naura.
"Siapa kau? kenapa kau menyembunyikan Naura dariku?" tanya Raygan datar sambil menatap tajam Rocky.
Mendengar ucapan Raygan. Rocky hanya tersenyum sinis lalu bangkit dari duduknya. Dia berlahan melangkahkan kakinya mendekati Naura lalu duduk di tepi bangsal Naura.
"Aku hanya ingin Nyonya muda di dampingi oleh pria yang tepat. Maaf! karena aku sempat meragukanmu," ucap Rocky sambil mengengam tangan Naura dan menatap wajah teduh Naura dengan lekat.
"Nyonya muda!" ucap Raygan mengerutkan keningnya binggung.
"Ia! dia adalah nyonya muda keluarga Leonard. Dia putri tunggal keluarga Leonard yang telah lama di asingkan demi keselamatannya," jelas Rocky tersenyum.
"Apa kau yang mengirim aplikasi misi itu kepadanya?"
"Ia! aku yang mengirimnya,"
Mendengar ucapan Rocky, Raygan langsung membulatkan matanya terkejut. Dia tidak tau harus berbuat apa. Namun, jujur dia sangat membenci Rocky. Karena aplikasi itu, membuat wanita yang dia cintai pernah masuk ke dalam jurang penderitaan yang sangat dalam.
"Kau gila! karena kau Naura hampir mati. Karena kau Naura menjadi depresi. Apa kau tidak perpikir dulu sebelum kau memberikan misi gila itu kepadanya?" Tanya Raygan menatap kesal Rocky.
__ADS_1
"Aku sudah memikirkan itu secara matang-matang. Aku juga melakukan itu karena alasan yang kuat. Karena nyonya muda akan menjadi penerus kekayaan keluarga Leonard. Kau tau sendiri 'kan? bagaimana kejamnya dunia bisnis" tanya Rocky menatap Raygan.
"Aku tau! tapi tidak selayaknya kau melakukan itu. Masih banyak cara lain untuk mengajari Naura menghadapi dunia bisnis yang sangat kejam," ucap Raygan.
Mendengar ucapan Raygan, Rocky hanya mampu membuang napasnya kasar. Karena apa yang di katakan Raygan benar apa adanya. Tidak seharusnya dia memberikan didikan yang sangat kejam seperti itu kepada Naura. Bahkan Naura sempat depresi dan hampir menghilangkan nyawanya sendiri.
"Maaf! saya ingin memeriksa keadaan nyonya muda," ucap dokter tiba-tiba datang.
"Baik, Dok!" ucap Raygan dan Rocky serentak dan sedikit menjauh dari bangsal Naura.
Raygan terus menatap Naura dengan tatapan berkaca-kaca. Dia merasa gagal melindungi Naura. Tidak ada henti-hentinya dia mencaci dirinya sendiri. Hingga tanpa dia sadari air matanya kini berhasil lolos dan membasahi wajah tampannya.
Melihat Raygan yang terus meneteskan air matanya, Rocky langsung menatapnya dengan penuh kekaguman. Dia dapat melihat cinta yang sangat besar dari Raygan. Dia menjadi sangat yakin jika Raygan adalah pria yang pantas untuk mendapingi Naura.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Raygan langsung mendekati dokter yang telah selesai memeriksa keadaan Naura.
"Baik, Dok! aku mohon lakukan yang terbaik untuk Naura. Berikan semua pengobatan terbaik untuknya. Jika kalian bisa menyembuhkan Naura, aku akan membayar sebesar apapun yang kalian minta," ucap Raygan penuh permohonan.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk nyonya. Kami akan berusaha sekuat tenaga kami untuk menyembuhkan Nyonya. Hanya saja dukungan dan doa dari kalianlah yang paling utama," ucap dokter itu menepuk punggung Raygan pelan.
"Baik, Dok!" ucap Raygan memelas lalu melangkahkan kakinya mendekati bangsal Naura.
Raygan kembali duduk di kursi di samping bangsal Naura. Dia mengengam tangan Naura sambil menciuminya dengan lembut. Dia terus menatap wajah pucat Naura dan berharap Naura bisa segera membuka matanya.
...----------------...
__ADS_1
Terlihat seorang wanita paruh baya sedang meratapi nasibnya, sebagai tahanan orang-orang yang begitu kejam dan keji. Tubuhnya di penuhi luka memar, karena pukulan para pria itu yang menjadikan tubuhnya sebagai bantalan tinju. Dia hanya mampu menangis dalam diam tanpa berani bersuara.
Kesalahannya di masa lalu sangatlah besar sehingga dia pantas mendapatkan itu semua. Bahkan hukuman itu masihlah hukuman awal bagi wanita iblis seperti dia. Dia masih akan menemui hukuman-hukuman yang jauh lebih berat dari itu.
Matanya lembam karena terus menangis. Namun, kini air matanya tidak mampu keluar lagi. Yang ada hanyalah isak tangis yang sangat kecil sehingga membuat keadaan wanita itu semakin terlihat menyedihkan. Hingga akhirnya suara hentakan sepatu yang sangat menyeramkan berlahan mendekatinya.
Wanita itu yang tadinya terbaring lemah kini menatap pemilik sepatu kulit yang kini telah berhenti di depannya. Tubuhnya yang begitu lemah tidak berdaya, tidak membuat pria itu merasakan belas kasihan sedikitpun. Dia menatap wanita itu dengan penuh kebenciaan dan juga kemarahan yang sangat besar.
"Ronal! apa kau sudah puas? apa kau sudah puas melihat keadaanku seperti ini? Aku tidak pernah menyangka. Jika pria yang aku anggap sebagai pelindungku, ternyata adalah iblis yang akan menyiksaku. Aku telah berbaik hati mengeluarkanmu dari kemiskinan, tapi inikah balasanmu?" tanya Rini menatap nanar Ronal yang kini berdiri tegap di depannya.
"Aku telah melakukan yang terbaik untukmu. Tapi! kau sendiri yang telah mengali kubur mu, dan membawamu ke dalam siksaan dunia yang sangat menyakitkan. Kau sangat beruntung karena masih di beri kesempatan untuk hidup. Jika tidak! sudah di pastikan kau akan mati mengenaskan saat aku menangkap waktu itu." ucap Ronal menatap tajam Rini.
"Jika aku memilih lebih baik aku mati saat ini juga. Dari pada aku terus di siksa seperti ini,"
Mendengar ucapan Rini, Ronal langsung tersenyum sinis. Dia berlahan berjongkok di depan Rini, sambil menatap tubuh Rini yang telah di penuhi tato biru. Berlahan dia mengeluarkan belatinya lalu memainkannya tepat di depan Rini.
"Apa kau yakin ingin mati saat ini juga?" tanya Ronal tersenyum sinis menatap wajah pucat Rini.
Berlahan nyali Rini langsung menciut ketika melihat belati yang begitu tajam di depannya. Dia berusaha menelan ludahnya kasar, dan membayangkan jika belati itu berhasil menyentuh tubuhnya.
"Arghhh! tidak! aku mohon maafkan aku. Aku berjanji akan berubah dan memperlakukanmu lebih baik lagi. Maafkan aku karena aku terus menghinamu," ucap Rini penuh permohonan.
Melihat nyali Rini yang langsung menciut, Ronal langsung terkekeh kecil. Dia tidak menyangka jika Rini yang tadinya meminta untuk mati tiba-tiba memohon untuk kehidupannya. Ronal langsung bangkit dari lalu melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Rini.
"Kau masih beruntung karena Rocky masih punya hati nurani kepadamu. Jika tidak! Aku yakin kau sudah berada di tempatmu yang semestinya," ucap Ronal tersenyum sinis, lalu kembali melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Bersambung......