
Raygan duduk terdiam di dalam ruangannya. Kerinduannya kepada Naura membuat dia menjadi sangat berbeda. Raygan selalu menghabiskan waktunya sendiri sambil terus memandangi foto Naura.
Hingga akhirnya dia tersadar ketika mendengar ponselnya yang berbunyi. Raygan berlahan menatap layar ponselnya yang tertera nomor yang tidak di kenal, sambil mengerutkan keningnya binggung. Tidak mau berpikir panjang, Raygan langsung menekan tombol hijau lalu meletakkan benda pipih itu ke telinganya.
"Hallo! Siapa ini?" ucap Raygan dengan suara dinginnya.
"Kau tidak perlu tau siapa aku! aku hanya ingin memberikan kesepakatan besar untukmu," ucap seorang pria yang terdengar sangat menyeramkan di sebrang sana.
"Maaf! aku tidak punya waktu untuk melayani orang yang tidak jelas sepertimu," ucap Raygan dingin lalu mencoba mematikan sambungan telefonnya.
"Apa kau tidak ingin tau di mana kekasihmu?" ucap pria itu tiba-tiba sehingga membuat Raygan langsung mengurungkan niatnya.
"Maksudmu apa? apa kau yang telah menculiki wanitaku?" ucap Raygan penuh amarah sambil mengepalkan tangannya geram.
"Ha... ha... kau terdengar sangat marah! apa seberharga itu Naura di matamu?"
"Kau jangan sekali-kali berani menyentuhnya. Atau tidak! akan aku pastikan kau akan menyesal,"
"Hou! santai dulu. Aku ingin tau apa yang akan kau lakukan jika aku menyentuh tubuh indah kekasihmu itu?"
"Sialan kau! sekali saja kau menyentuhnya, akanku pastikan aku akan mematahkan tanganmu itu"
"Apa kau ingin menemuinya?"
"Dimana dia?"
"Kau tenang saja! dia baik-baik saja! aku akan mempertemukan kau dengannya setelah kau membuktikan kau memang pantas untuknya,"
"Maksudmu apa?"
"Tunjukkan jika kau pantas bersanding dengannya. Tunjukkan seberapa besar kau mencintainya. Kau harus membuktikan jika kau bisa menjaganya dengan baik. Aku tunggu pembuktiannya, sampai jumpa," ucap pria itu lalu mematikan sambungan telefonnya.
"Hallo!" ucap Raygan namun sambungan teleponnya sudah terlebih dulu di matikan oleh pria misterius itu.
"Arghh! sial. Siapa pria itu? kenapa dia menculik Naura?" gumam Raygan frustasi.
Raygan mencoba berpikir keras. Dia mengambil laptopnya lalu mencari data pria misterius itu melalui nomor ponselnya. Namun, sudah begitu lama dia mengotak atik leptopnya, tapi hasilnya sia-sia. Dia tidak menemukan informasi apapun dari nomor ponsel itu. Semua data yang ada di nomor itu terkunci dan memiliki keamanaan yang sangat kuat. Hingga Raygan tidak bisa membobol satupun data-data yang ada di dalamnya.
"Arghh! siapa dia sebenarnya," teriak Raygan memukul meja sebagai pelepas amarahnya.
__ADS_1
"Ada apa tuan?" ucap Mbara langsung masuk ke ruangan Raygan ketika mendengar suara teriakan Raygan yang sangat keras.
"Tidak ada!" ucap Raygan dingin lalu berusaha mengontrol emosinya.
"Apa tuan baik-baik saja?" ucap Mbara cemas ketika melihat raut wajah Raygan yang merah padam.
"Aku baik-baik saja! lebih baik kau keluar," ucap Raygan dingin dengan wajah datar tanpa ekspresinya.
"Tapi saya ingin memberikan informasi jika pengawal kita sudah berhasil menculik Elissa. Mereka sudah menyekap Elissa di tempat yang tuan perintahkan," jelas Mbara langsung menyampaikan pesan para pengawalnya.
"Bagus! Sekarang rasakan penderitaanmu wanita iblis," ucap Raygan mengeluarkan senyuman iblisnya.
"Kenapa aura ruangan ini sangat menakutkan. Bahkan jauh lebih menakutkan di bandingkan ruang mayat," batin Mbara sambil mengusap bulu kuduknya yang merinding.
...----------------...
Elissa terus mengoceh kesal sambil menatap ruangan tempatnya di sekap. Tidak ada sofa lembut, dan juga kasur besar dan empuk. Yang ada hanya sebuah karton bekas yang bisa Elissa gunakan untuk duduk.
"Apa tidak ada tempat penyekapan yang lebih mewah gitu? nyulik orang tapi tidak mau keluar modal. Kalau mau menculik seseorang apa salahnya menyewa apartement mewah, ataupun kamar hotel untuk di jadikan tempat penyekapan. Ini tidak! penjahat tidak punya modal," oceh Elissa kesal.
"Aku mau pipis lagi. Pipis di mana ya?" ucap Elissa menatap ruangan itu, tapi tidak ada toilet di dalamnya.
Karena tidak toilet, Elissa mencoba memangil para penjaga yang sedang berada di luar. Dia mengedor-gedor pintu sambil berteriak dengan kencang.
"Ada apa?" ucap seorang pria berbadan tegap membuka pintu.
"Aku mau pipis. Di sini apa tidak ada toilet?" tanya Elissa.
"Kau pipis saja di sana," ucap pria itu mengendus kesal.
"is! jorok amat sih. Mana mungkin saya pipis di sini. Bisa-bisa ruangan ini jadi bau," ucap Elissa kesal.
"Kau ini jadi wanita kok banyak sekali protesnya,"
"Aku tidak protes! aku hanya ingin ke kamar mandi,"
"Baiklah! kau cepatlah. Awas kalau kau kabur. Sekali kau kabur maka aku tidak akan memperdulikan kehamilanmu lagi," ancam pria itu menatap tajam Elissa.
"Ia! aku tidak akan kabur. Lagian kalian kenapa menculikku? apa tidak ada wanita lain yang bisa kalian culik gitu," ucap Elissa kesal.
__ADS_1
"Kalau tidak di perintahkan tuan muda, Aku juga najis menculikmu. Bukannya senang malah membuatku pusing tujuh turunan,"
Mendengar ucapan pria itu, Elissa hanya menatapnya dengan penuh kekesalan. Karena dia tidak tahan lagi mau ke toilet, Elissa langsung berlari kecil menuju ke toilet yang ada di rumah kosong itu.
"Rumahnya cukup besar. Sebenarnya siapa mereka?" gumam Elissa mencoba untuk mencari jalan keluar setelah selesai dari toilet.
"Mau ke mana kau?" ucap pria tadi tiba-tiba muncul di belakang Elissa.
"Astaga! kau macam jelangkung saja. Tiba-tiba muncul. Tiba-tiba menghilangan," ucap Elissa kesal.
"Jangan banyak bicara! cepat masuk ke ruanganmu," ucap pria itu menatap tajam Elissa.
"Baiklah!"
"Aku heran kenapa ada wanita segila dirimu. Lagi hamil besar, bukannya membuat kebaikan untuk keselamatanmu. Kau malah mau mengali kuburanmu sendiri. Apa kau tidak kasihan kepada bayimu?" tanya pria itu mengelengkan kepalanya pelan sambil menatap Elissa.
"Maksudmu?" ucap Elissa tidak mengerti apa yang di ucapkan pria itu.
"Kau salah karena mencari masalah dengan nyonya Naura. Apa kau tau jika kau sudah membangunkan singa lapar tanpa menyediakan makanan untuknya terlebih dulu,"
"Jadi kau!" ucap Elissa menunjuk pria itu.
"Ia! aku adalah pengawal keluarga Wilona. Awalnya aku merasa kasihan kepadamu. Tapi setelah aku tau siapa kau aku malah jadi membencimu," ucap pria itu menatap geram Elissa.
"Jika kau tidak sedang mengandung. Aku pasti sudah memberi pelajaran kepadamu terlebih dulu,"
"Tuan muda sudah datang," ucap seorang pria menghampiri Elissa dan pria itu.
Mendengar itu, Elissa langsung menelan ludahnya kasar. Dia menatap Raygan yang datang mendekatinya dengan wajah datar dan juga tatapannya yang sangat menyeramkan.
"Ra... Ray!" gumam Elissa gugup melihat wajah menyeramkan Raygan.
"Kau! kau salah kerena berani menyentuh wanitaku," ucap Raygan mencengkram keras rahang Elissa.
"Ra.. Ray!"
Plakkk.....
Arghhh....
__ADS_1
Bersambung....