Sistem Melayani Suami

Sistem Melayani Suami
Part 24


__ADS_3

"Ray! Sampai kapan kau terus bekerja seperti ini. Lihat usiamu sudah pantas untuk memiliki anak." ucap Yulia Wilona mommy Raygan melihat Raygan selalu menghabiskan waktunya di kantor.


"Ray lebih suka seperti ini, Mom. Jangan paksa Raygan untuk melakukan apa yang Ray tidak suka." ucap Raygan membuang napasnya kasar sambil terus fokus ke layar leptopnya.


"Ray, kau purtra satu-satunya mommy dan deddy. Jika kau terus seperti ini siapa yang akan menjadi penerus keluarga kita?"


"Itu gampang, Mom. Mommy tingal suruh saja Mbara untuk menikah. Bukankah dia sudah menjadi bagian dari keluarga kita." ucap Raygan asal mengingat Mbara yang sudah menjadi bagian keluarga Wilona.


"Mama tidak mau tau. Pokoknya kau harus menikah dan memberikan cucu kepada mommy."


"Tapi, Mom."


"Tidak ada tapi-tapian. Kau harus menuruti ucapan mommy. Kau harus menikah secepatnya." ucap Raygan tegas.


"Mommy ingin cucu'kan?" ucap Raygan tersenyum kecil.


"Ia"


"Kalau begitu tunggu nanti malam. Raygan akan memberi jalan agar mommy segera punya cucu."


"Kau tidak membohongi mommy'kan?"


"Tidak! Putramu ini tidak akan berani membohongimu, Mom."


"Kalau begitu mommy tunggu kau di mension utama. Jangan sampai kau tidak pulang." ucap Yulia menatap tajam Raygan.


"Siap, Mom." ucap Raygan tersenyum manis lalu kembali menatap layar leptopnya.


Ntah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Dia tidak ingin menjalin hubungan dengan yang namanya wanita. Tapi, dia menjanjikan ingin memberikan cucu kepada sang mommy. Bagaimana caranya? Kalau itu hanya Raygan sendirilah yang tau.

__ADS_1


"Hello Mbar. Kapan kita melakukan pertemuan di restoran Naura?" ucap Raygan menghubungi Mbara.


"Nanti malam kita ada jamuan makan malam bersama klien kita. Aku sudah mengatakan jika kita akan bertemu di restoran Naura pukul tujuh nanti malam."


"Baiklah! Sediakan jas terbaik untukku." ucap Raygan mematikan sambungan teleponnya.


"Dasar tuan muda songong. Main matiin sesuka hatinya saja. Padahal aku belum selesai bicara." oceh Mbara kesal melihat tingkah Raygan yang selalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Sedangkan Raygan kembali menatap layar leptopnya. Bukan melihat dokument tentang perusahaannya tapi, Raygan menatap status foto Naura yang melintas di media sosialnya.


"Kebahagiaan akan muncul dari dirimu sendiri. Jangan berharap kebahagiaan yang di berikan oleh orang lain. Karna itu sama saja kau mengharapkan yang belum pasti." gumam Raygan membaca status Naura.


"Wanita yang sangat unik. Dia sangat berbeda dengan wanita yang lainnya." gumam Raygan tersenyum kecil.


"Tapi, apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahannya dulu? Aku merasa jika pernikahannya tidak sama seperti yang di bicarakan orang-orang selama ini." gumam Raygan kembali mengingat luka lembam yang dia lihat saat pertemuan pertama mereka.


"Permisi, Tuan. Ini ada beberapa dokument yang harus tuan tanda tangani." ucap Mbara tiba-tiba memecahkan lamunan Raygan.


"Tugas apa, Tuan. Apa sangat penting?"


"Ia! Kau harus mencaritau apa alasan Naura berpisah dengan mantan suaminya."


"Apa!" ucap Mbara membulatkan matanya terkejut mendengar tugas yang di berikan Raygan.


Raygan yang tidak pernah mengenal yang namanya wanita. Bahkan begitu banyak gadis yang berusaha untuk mendekatinya. Namun, tidak ada satupun yang berhasil membuatnya menatap mereka. Jangankan menatap melirik para gadis-gadis itu saja Raygan sangat engan. Tapi, kini Raygan menyuruh Mbara untuk mencari tau tentang masa lalu Naura.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh?" ucap Raygan memukul pelan wajah Mbara mengunakan map di depannya.


"Tidak! Kenapa tuan tidak menayakannya kepada Icha saja. Icha pasti tau semuanya karna Naura pernah menjadi pasien Naura." ucap Mbara.

__ADS_1


"Apa! Jadi dia juga pernah menjadi pasien Icha? Berarti dugaanku benar." ucap Raygan membuang napasnya pelan.


Mendengar ucapan Raygan, Mbara mengerutkan keningnya bingung karna tidak mengerti ucapan Raygan.


"Dugaan apa, Tuan?" ucap Mbara menatap Raygan dengan serius.


"Apa kau lupa di saat pesta pernikahan mommy dan deddy, aku mengatakan jika aku bertemu dengan wanita aneh saat keluar dari toilet. Bahkan noda cream yang ada di tubuhnya mengenai kemejaku sehingga aku harus mengantinya waktu itu."


"Jadi wanita itu adalah Naura?"


"Ia, wanita itu adalah Naura. Waktu itu aku melihat ada luka lembam di lengannya. Saat aku tanyakan dia sangat gugup dan seperti orang yang sedang ketakutan. Aku rasa jika pernikahannya dengan Gabryel selama ini tidak seperti yang kita bayangkan."


"Baiklah! Aku akan mencari taunya segera. Lagian aku ingin tau apa sisi buruk pria yang selalu terlihat sempurna itu." ucap Mbara tersenyum sinis.


"Kalau begitu cari tau semuanya secepatnya." perintah Raygan tegas.


"Tapi, kenapa tuan sangat ingin tau tentang kehidupan Naura? Apa jangan-jangan?" ucap Mbara tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


"Jangan-jangan apa? Apa kau jangan-jangan ingin di pecat?" ucap Raygan datar tanpa ekspresi.


"Ya Allah, Tuan. Main asal pecat-pecat saja. Ingat tuan asisten seperti diriku ini tidak akan tuan temukan di manapun."


"Ya tentu saja tidak! Karna yang seperti dirimu hanyalah dirimu sendiri." ucap Raygan kesal.


"Itu tuan tau." ucap Mbara terkekeh kecil.


Mbara dan Raygan memang sangat dekat. Sejak kecil Mbara telah di besarkan oleh keluarga Wilona. Orang tua Mbara adalah orang kepercayaan keluarga Wilona.


Tapi, mereka meningal dunia saat umur Mbara masih sembilan tahun. Karna merasa kasihan Yulia menyuruh Mbara untuk tinggal bersama mereka. Yulia juga memberikan kasih sayang seorang ibu kepada Mbara dan mau membesarkan Mbara dengan lapang dada.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2