
Setelah menungu satu minggu akhirnya restoran Naura telah selesai dan hari ini adalah hari pertama di bukanya restoran itu. Naura mengatur semua pekerjanya agar bisa bekerja dengan baik. Dia mau semua tamunya mendapatkan pelayanan yang cukup baik dari para pelayannya.
Dengan bantuan Icha, Naura juga telah mempromosikan restorannya di dunia maya. Icha juga telah memperkenalkan restoran Naura kepada semua teman-temanya dan juga keluarganya.
"Kakak!" teriak Icha berlari mendekati Naura.
"Ada apa? Sepertinya kau sangat bahagia." ucap Naura sambil terus melalukan pekerjaannya membersihkan meja.
"Aku punya kabar gembira untuk kakak."
"Kabar apa?"
"Aku telah menceritakan restoran kakak kepada pamanku. Mendengar ceritaku dia langsung tertarik untuk berkunjung si sini. Bahkan dia ingin memboking satu ruangan VVIP untuk melakukan rapat penting sebentar lagi."
"Apa! Kau tidak bercanda'kan?"
"Apa wajahku terlihat sedang bercanda?"
"Terima kasih. Jika tanpa bantuan aku tidak akan bisa mengembangkan restoran ini." ucap Naura mengengam tangan Icha.
"Kakak tenang saja. Aku sudah mengangap kakak seperti kakak kandungku sendiri. Jadi, kakak tidak perlu sungkan untuk meminta adikmu yang jenius ini." ucap Icha tersenyum manis.
"Kau memang adikku yang paling jenius. Aku bersyukur dengan kehadiranmu aku tidak sendiri lagi dunia ini." ucap Naura mengusap air matanya.
"Kakak jangan sedih seperti itu. Mulai sekarang aku akan selalu ada di samping kakak. Kakak yang kuat ya, buktikan kakak bisa bangkit dan lebih sukses dari keluarga sombong itu." ucap Icha memberi keluatan kepada Naura.
"Kau benar! Aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat dan terus bangkit dan bangkit lagi. Akan aku buktikan jika omongan mereka yang selalu mengangapku tidak bisa hidup tanpa mereka itu salah besar. Akan aku balas hinaan mereka dengan kesuksesanku." ucap Naura penuh keyakinan.
"Benar! Pembalasan yang terbaik itu bukan dengan cara balas dendam. Tapi, dengan kesuksesan. Buktikan yang mereka ucapkan selama ini adalah salah besar. Aku yakin suatu saat nanti mereka akan mendapatkan karma yang setimpal atas perbuatan mereka. Kakak tidak perlu membalas perbuatan merek karn pembalasan alam itu jauh lebih kejam." ucap Icha memancarkan kemarahan ketika mengingat penderitaan Naura selama menjadi istri Gabryel.
"Terima kasih. Kau jika sedang serius ternyata bijak juga ya." ucap Naura tersenyum.
"Siapa dulu! Icha." ucap Icha tersenyum manis.
__ADS_1
"Permisi! Dengan nyonya Naura?" ucap seorang pria tegap dan berjas rapi tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Kak Mbara." ucap Icha langsung memeluk pria itu dengan manja.
"Aechh! Enak aja main langsung peluk-peluk. Minggir." ucap Mbara langsung melepaskan pelukan Icha lalu, mendorong kecil kening Icha mengunakan jari telunjuknya.
"Kak Mbara pelit amat. Aku bilang sama Kak Rey!" ancam Icha sambil menunjuk wajah Mbara.
"Dasar bocil! Apa kau tidak malu di lihat orang." ucap Mbara berdecak kesal sambil menunjuk para pelayan yang kesana kemari.
"Memangnya jika tidak ada orang aku boleh memeluk kakak?" ucap Icha dengan genitnya sambil memainkan matanya
"Tidak!" ucap Mbara ketus sehingga membuat Icha langsung terdiam sambil memayunkan bibirnya.
Melihat tingkah Icha, Naura hanya mampu tersenyum kecil sambil memgelengkan kepalanya pelan.
"Maaf! Ada perlu apa tuan mencari saya?" ucap Naura dengan sopan.
"Baik! Saya akan menyiapkan ruangan VVIP terbaik saya untuk tuan besar. Saya juga kenyediakan menu spesial untuk mereka nantinya." ucap Naura.
"Baik, Nyonya. Untuk biayanya saya akan segera menerasfernya ke rekening anda."
"Terima kasih, Tuan. Semoga tuan besar puas dengan pelayanan kami."
"Kalau begitu saya pamit dulu. Sekitar satu jam lagi tuan besar akan datang."
"Baik, Tuan." ucap Naura ramah lalu mengantarkan Mbara sampai ke pintu utama.
"Kak, Icha ikut ya." ucap Icha dengan manja sambil mengengam tangan Mbara.
"Aku mau ke kantor. Aku tidak mau kau membuat kerusuhan di sana. Bisa-bisa aku yang terkena pelampiasan kemarahan Tuan Muda karna ulahmu." ucap Mbara tegas lalu melangkahkan kakinya meningalkan Icha.
"Kak!" ucap Icha terus mengejar Mbara.
__ADS_1
"Icha! Aku bilang tidak ya tidak. Lebih baik kau kembali ke rumah sakit dan mengobati orang-orang itu." ucap Mbara tegas.
Mendengar ucapan Mbara, Icha hanya terdiam sambil memayunkan bibirnya. Tidak punya pilihan akhirnya dia kembali menemui Naura dengan wajah mayunnya.
"Apa kau menyukainya?" ucap Naura bisa menebak isi hati Icha.
"Ia! Aku menyukai Kak Mbara sejak kecil. Tapi, dia selalu menjauhiku dan tidak pernah mau menerima cintaku." ucap Icha menunduk sedih.
Naura langsung tersenyum kecil sambil membuang napasnya pelan. Berlahan dia membawa Icha duduk di kursi lalu membelai lembut rambut Icha.
"Apa kau tau jika kita wanita itu sangat istimewa." ucap Naura tersenyum.
"Maksud kakak?" ucap Icha mengerutkan keningnya bingung.
"Apa kau tau jika wanita itu derajatnya di kejar bukan mengejar. Di lamar bukan melamar. Di cari bukan mencari." ucap Naura tersenyum.
"Cha! Jika kau mencintainya maka cintalah dulu penciptanya. Jika dia memang jodohmu maka dia akan datang sendiri kepadamu tanpa perlu kau merendahkan dirimu. Berdoalah dan mintalah yang terbaik untukmu kepada sang pencipta. Kakak yakin jika memang dia mencintaimu maka dia akan memperjuangkanmu." ucap Naura kembali sambil mengelus lembut rambut Icha.
Mendengar ucapan Naura, Icha hanya terdiam menunduk sambil mencerna ucapan Naura. Apa yang di katakan Naura memang benar. Dia tidak boleh merendahkan dirinya hanya untuk mendapatkan cinta Mbara.
"Cha! Maaf, jika ucapan kakak menyingungmu. Kakak hanya ingin yang terbaik untukmu. Kakak tidak mau jika kau nantinya mendapatkan kekecewaan karna, terlalu mengharapkan sesuatu yang belum tentu jadi milikmu." ucap Naura menatap lekat wajah Icha.
"Tidak! Kakak tidak salah. Apa yang kakak katakan memang benar. Aku tidak boleh merendahkan diriku hanya untuk mendapatkan cinta Kak Mbara. Sebenarnya aku juga sedah lelah memperjuangkan cintaku kepadanya. Apa aku harus menyerah sampai sini saja, Kak?" ucap Icha penuh kebingungan.
"Kau boleh memperjuangkan cintamu. Tapi, jangan sampai menurunkan derajatmu sebagai wanita. Kau cukup bersujud di atas sajadah dan mintalah yang terbaik untukmu. Tapi, jangan pernah kau minta apa yang kau inginkan. Karna, yang kau inginkan belum tentu yang terbaik untukmu." ucap Naura tersenyum lembut.
"Terima kasih, Kak. Kakak memang wanita yang sangat istimewa. Aku yakin suatu saat nanti kakak akan mendapatkan pria yang istimewa juga." ucap Icha tersenyum.
"Aamiin! Tapi, apakah ada pria seperti itu di jaman sekarang?" ucap Naura menunduk sedih seakan sulit untuk membuka hatinya kembali.
"Pasti ada! Aku yakin Allah sudah menyiapkannya untuk kakak."
Bersambung.....
__ADS_1