
Selama Naura dirawat di rumah sakit Raygan merawatnya dengan sangat baik. Dia selalu menyempatkan waktunya untuk mengurus dan juga menemani Naura selama di rumah sakit. Seperti saat ini, Raygan membawa Naura berkeliling taman rumah sakit agar Naura tidak merasa bosan.
"Lihat! anak itu kasihan sekali, Ray," ucap Naura menunjuk ke arah wanita paruh baya yang sedang menemani anak kecil yang sedang duduk dia tas kursi roda.
"Kau ingin menemuinya?" ucap Raygan tersenyum.
"Boleh! sepertinya nenek itu sedang sangat sedih melihat keadaan cucunya," ucap Naura penuh semangat.
"Baik, nyonya Muda Wilona," ucap Raygan tersenyum.
Mendengar ucapan Raygan, Naura hanya tersenyum kecil sambil mengelengkan kepalanya pelan. Raygan langsung mendorong kursi roda Naura mendekati wanita tua dan anak kecil itu.
"Permisi! apa kakak boleh bergabung?" tanya Naura menatap anak kecil yang nampak sedang murung itu.
"Sayang! kakak bilang apa? ayo di jawab dong," ucap wanita paruh baya itu tersenyum.
"Apa kakak tidak malu berteman dengan orang miskin seperti kami?" tanya anak kecil itu menunduk sedih.
"Kenapa kakak harus malu. Lagi pula di mata Allah kita semua sama. Tidak ada bedanya yang kaya dan miskin. Semua sama saja! Sama-sama manusia yang saling membutuhkan satu sama lain," ucap Naura tersenyum.
"Kau bukannya gadis baik hati yang memberikan nenek sedekah di jalan waktu itu. Yang naik motor matic 'kan?" ucap nenek itu mengingat jelas wajah Naura.
"Nenek yang mengatakan jika aku akan mendapatkan kebahagiaanku 'kan?" tanya Naura mencoba mengingat wanita itu.
"Benar! sekarang kau sudah mendapatkan kebahagiaanmu 'kan?" tanya wanita itu melirik Raygan.
"Nenek benar! Dulu aku tidak percaya akan cinta. Tapi setelah bertemu dengannya, aku langsung mengerti arti cinta yang sebenarnya," ucap Naura tersenyum sambil mengengak tangan Raygan.
__ADS_1
"Tapi jika boleh saya tau adik ini kenapa?" tanya Naura melihat anak kecil di depannya yang terlihat kurus dan juga selang infus yang melekat di tangannya.
"Dia kiki, cucu nenek," ucap wanita itu memperkenalkan kiki sang cucu.
"Dia mempunyai sakit kanker otaksejak satu tahun lalu. Dokter menyarankan agar segera melakukan oprasi untuk kesembuhannya. Tapi kami tidak mungkin bisa mendapatkan uang untuk membayar biaya oprasinya. Karena oprasi akan membutuhkan biaya yang cukup besar," ucap wanita itu menatap kiki dengan penuh kesedihan.
"Ki! apa kau ingin sembuh?" tanya Naura menatap lekat wajah kiki.
"Ia, Kak. Aku sangat ingin sembuh. Aku ingin bermain dengan teman-temanku yang lain. Aku juga ingin sekolah dan belajar agar bisa menjadi wanita yang sukses," ucap kiki tersenyum.
"Apa kau tidak takut untuk oprasi?" tanya Naura tersenyum.
"Tidak! Kiki tidak takut," ucap Kiki tersenyum manis.
"Baiklah! besok kau akan melakukan oprasi. Maka mulai sekarang kau harus jaga kesehatan dan juga pola makanmu agar kau bisa melakukan oprasi dengan baik," ucap Naura tersenyum.
"Tapi, Neng!" ucap wanita itu menatap Naura dengan penuh rasa tidak percaya.
"Hadiah apa?" tanya Kiki menatap lekat wajah Naura.
"Kakak akan membiayai sekolah Kiki sampai kuliah. Tapi!" ucap Naura tersenyum.
"Tapi apa kak?"
"Tapi kau harus belajar dengan rajin dan membangakan nenekmu. Ingat belajar dengan rajin dan berjuanglah untuk kesuksesanmu. Lihat nenekmu sudah sangat rapuh dan nampak letih. Sekarang waktunya kau untuk membahagiakannya," ucap Naura tersenyum.
"Itu pasti kak. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain nenek. Aku akan belajar dengan rajin dan akan menjadi cucu kebangaan nenek. Aku akan membuat nenek bahagia di masa-masa tuanya," ucap Kiki tersenyum.
__ADS_1
"Naura! kau ada di sini," ucap Gabryel datang menemui Naura sambil mengendong bayinya.
"Eh! ada bidadari cantik. Kau sedang tidur ya," ucap Raygan menatap wajah mungil bayi Gabryel yang sedang tertidur pulas.
"Dia sedang tidur. Baru siap mandi dan minum susu," ucap Gabryel tersenyum.
"Kalau boleh aku tau namanya siapa?" tanya Naura menatap bayi mungil itu.
"Namanya Elara Patrick," ucap Gabryel.
"Wah! nama yang cantik. Sama seperti baby El yang cantik," ucap Naura tersenyum.
"Apa boleh aku mengendongnya," ucap Naura penuh permohonan.
"Tentu saja," ucap Gabryel memberikan baby El ke gendongan Naura.
"Maaf! kami masuk dulu ya. Kak Naura tidak boleh lama-laman di luar," ucap Raygan menatap Kiki.
"Baik, Kak. Kak Naura juga cepat sembuh ya. Kiki yakin sebentar lagi Kak Naura juga punya bayi sendiri bersama Kakak tampan," ucap Kiki tersenyum.
"Aamiin! Terima kasih doanya sayang," ucap Raygan mengelus lembut puncak kepala kiki.
"Ki, kakak ke dalam dulu ya. Semangat untuk besok," ucap Naura tersenyum.
Mendengar ucapan Naura, Kiki dan neneknya hanya tersenyum sambil menganguk. Tidak mau membuang-buang waktu, Raygan langsung mendorong kursi roda Naura kembali ke ruangannya. Naura yang duduk di kursi roda terus bermain dengan Elara kecil sambil tersenyum bahagia.
Melihat kebahagiaan Naura saat bersama Elara, Gabryel hanya mampu tersenyum kecil. Walaupun Elissa dan dia terus menyakiti Naura, akan tetapi Naura terlihat sangat menyayangi Elara. Bahkan tidak ada sedikitpun raut kebencian yang Naura pancarkan kepada Elara kecil.
__ADS_1
Bersambung.....