
Naura menatap lekat kalender yang terpajang di atas meja. Dia melihat tangal dan menghitung jadwal datang bulannya. Mata Naura langsung membulat ketika dia menyadari ternyata dia sudah telat selama seminggu. Namun, Naura tidak mau mengambil pendapat seorang diri.
"Tidak! aku tidak boleh langsung gembira seperti ini. Aku harus memeriksanya terlebih dulu," gumam Naura sambil meraba perut datarnya.
Dia langsung mengambil ponsel dan menghubungi dokter kandungan yang biasa memeriksa kandungannya. Dia mengatur jadwal pertemuan mereka saat ini juga. Naura ingin memastikan dugaannya secepatnya. Dia berharap jika apa yang dia bayangkan memang benar.
Mendengar jika dokter tidak terlalu sibuk, Naura dengan cepat mengambil tas selempang nya. Dia berjalan ke luar dan berjalan menuruni anak tangga dengan pelan. Rocky yang kebetulan sedang berada di menssion menatap Naura dengan penuh kebingungan.
"Nyonya mau kemana? sepertinya sedang terburu-buru," gumam Rocky mendekati Naura.
"Paman! Apa Ray masih si kantor?" tanya Naura melihat Rocky yang berjalan ke arahnya.
"Ia, Nyonya. Tuan muda sedang ada rapat penting dengan beberapa klien kita. Memangnya ada apa?"
"Tidak ada! aku mau keluar sebentar. Jika Ray mencariku katakan saja aku sedang ada keperluan,"
"Tapi nyonya mau kemana?"
"Em! aku ada urusan sebentar. Paman tidak perlu khawatir,"
"Tidak! aku akan mengantar nyonya,"
Mendengar ucapan Rocky. Naura hanya tersenyum sambil membuang napasnya pelan. Setelah kejadian percobaan pembunuhan itu, semua orang semakin fosesif kepada Naura. Bahkan Naura tidak pernah dibiarkan keluar tanpa pengawasan.
"Tidak perlu paman. Aku akan pergi bersama supir," ucap Naura tersenyum.
"Lebih baik paman bantu Raygan saja. Aku tidak mau dia pulang larut malam terus," ucap Naura kembali.
"Baiklah! tapi nyonya harus membawa pengawal bersama nyonya," ucap Rocky tegas.
"Baik! aku akan membawa mereka bersamaku," ucap Naura mengalah.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pamit dulu ya paman," ucap Naura berpamitan lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Rocky.
Naura langsung berangkat menuju rumah sakit, bersama supir dan beberapa pengawal yang mengikutinya dari belakang. Melihat kedatangan Naura, Dokter itu langsung menyambut kedatangan Naura dengan baik.
"Selamat datang, Nyonya. Ayo masuk," ucap dokter tersenyum ramah.
Naura langsung masuk ke ruangan Dokter dan menceritakan tujuannya datang ke sana. Mendengar cerita Naura, Dokter itu langsung tersenyum. Dia menyuruh Naura untuk berbaring dan memeriksa kandungannya dengan teliti.
"Bagaimana, Dok?" tanya Naura menatap Dokter dengan tatapan penuh harapan.
"Ayo duduk nyonya," ucap Dokter itu tersenyum lalu duduk di meja kerjanya.
Dokter itu langsung memberikan sebuah kertas berisi catatan pemeriksaannya. Naura langsung membaca kertas itu sambil tersenyum haru. Dia menitikkan air matanya penuh kebahagiaan. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin memberikan kabar baik ini kepada Raygan.
"Selamat nyonya. Perjuangan anda tidak sia-sia. Anda sedang hamil dua minggu," ucap Dokter itu tersenyum hangat.
"Terima kasih, Dok," ucap Naura tersenyum penuh kebahagiaan.
"Saya sudah menyiapkan resep obat dan juga vitamin untuk, Nyonya. Jangan lupa nyonya minum dengan teratur ya. Nyonya juga harus menjaga pola makan nyonya dengan baik. Jangan lupa istirahat yang cukup,"
"Baik, Nyonya. Mari saya antar," ucap dokter tersenyum hangat lalu mengantar Naura.
Naura terus tersenyum penuh kebahagiaan. Dia terus mengelus perut datarnya sambil tersenyum bahagia. Naura langsung mempunyai ide cemerlang untuk memberitahu hal bahagia itu kepada Raygan
"Sudah lama aku tidak menyusahkannya. Apa salahnya jika aku mencobanya lagi," ucap Naura tersenyum bahagia.
...----------------...
Saat pulang dari kantor, Raygan menatap suasana menssion yang sangat sepi. Dia menatap ke arah sofa yang biasanya Naura tempati untuk menunggu kepulangannya. Namun, kali ini sofa itu kosong tanpa ada jejak Naura sedikitpun di sana.
"Paman! Naura kemana?" tanya Raygan menatap Rocky yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
"Mana aku tau. Orang aku sedari tadi bersamamu," ucap Rocky ketus.
Mendengar ucapan Rocky, Raygan hanya terdiam. Dia menatap ke lantai atas dan melangkahkan kakinya menuju tangga.
"Oh ia! aku lupa. Nyonya bilang tadi dia pergi keluar. Ada keperluan katanya," ucap Rocky mengingat ucapan Naura tadi.
"Urusan apa?"
"Aku tidak tau!"
"Apa yang kau tau!" ucap Raygan ketus lalu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
"Main balas ternyata," ucap Rocky menatap punggung Raygan yang berlahan menjauh.
"Paman duluan," ucap Raygan tersenyum kecil lalu kembali melangkahkan kakinya.
Melihat sikap Raygan, Rocky hanya tersenyum kecil sambi mengelengkan kepalanya. Dia berlahan melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan bersiap-siap untuk tidur cantik.
Sedangkan, Raygan menatap keadaan kamarnya yang gelap dan hanya di terahir lampu tidur. Dia menatap Naura yang tertidur dengan pulas di atas ranjang mereka. Tidak ada raut kemarahan sedikitpun yang terpancar di wajah Raygan. Dia malah tersenyum dan duduk di tepi ranjang sambil menggelus rambut Naura. Merasa terusik dengan tingkah Raygan, Naura langsung membuka matanya dan menatap Raygan yang duduk di sampingnya.
"Kau sudah pulang? Aku mau makan sheafood dan ramen. Kau harus membelinya sekarang juga," ucap Naura tidak mau di bantah.
"Apa! malam-malam begini aku harus cari itu di mana sayang?" tanya Raygan menatap bingung sikap aneh Naura.
"Aku tidak mau tau. Pokoknya aku mau makan itu sekarang juga,"
"Tapi!"
"Kau tidak mau?" tanya Naura sambil membulatkan matanya.
"Baiklah! aku akan mencarinya," ucap Raygan membuang napasnya kasar lalu bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Dia menatap aneh Naura sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia mencoba berpikir apa sebenarnya yang terjadi dengan Naura saat ini. Tidak mau membuat mood Naura semakin hancur, Raygan menemui Rocky dan memintanya untuk mencari pesanan Naura.
Bersambung.....