
Rini berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, sudah beberapa hari Ronal tidak pulang ke menssion mereka. Ronal juga tidak pernah datang ke kantor. Bahkan sudah lebih seratus kali Rini mencoba menghubunginya. Tapi, Ronal sama sekali tidak pernah mengubris pangilan darinya.
Sama seperti para pembunuh bayaran itu. mereka juga hilang seperti tertelan bumi. Rini sudah beberapa kali menghubungi mereka, tapi semua sia-sia. Bahkan tidak ada yang tau mereka semua menghilang kemana. Berlahan perasaan Rini menjadi gusar. Dia takut jika Ronal tau dia telah merencanakan pembunuhan kepada Naura.
Namun, jika Ronal tau kenapa Ronal juga menghilang sama seperti para pembunuh bayaran itu? berbagai pertanyaan muncul di pikiran Rini hingga akhirnya dia menjadi pusing sendiri.
"Bagaiman ini? apa dia tau. Tapi jika dia tau kenapa dia juga menghilang? Apa sebenarnya yang terjadi?" gumam Rini mencoba berpikir keras.
Rini mencoba menghubungi beberapa ditektif handal untuk mencari tau keberadaan Ronal saat ini. Dia tidak mau jika harus kehilangan Ronal tanpa ada kejelasan sedikitpun. Lagi pula dia masih sangat mencintai Ronal. Dia tidak akan membiarkan Ronal meninggalkannya begitu saja.
"Gabryel! aku harus menemui Gabryel," gumam Rini berniat untuk meminta bantuan kepada putranya itu.
Rini langsung mengambil tas selempang nya lalu berjalan menuju pintu utama. Dia menuju ke mobilnya dan menghidupkan mobilnya dengan cepat. Tidak mau membuang-buang waktu Rini langsung melajukan mobilnya menuju kantor milik keluarganya. Karena dia tau Gabryel pasti ada di kantor di jam seperti ini. Dia harus bergerak cepat sebelum Ronal benar-benar pergi jauh darinya.
Sesampainya di tempat tujuannya Rini langsung menepikan mobilnya, lalu dia menatap bangunan kokoh peninggalan keluarganya. Dia berlahan membuang napasnya kasar lalu melangkahkan kakinya memasuki koridor kantor. Melihat nyonya besar mereka datang ke kantor, para pegawai yang melihat Rini langsung menunduk memberi hormat kepadanya.
"Apa putra saya ada di ruangannya?" tanya Rini pada resepsionis kantor.
"Ada, Nyonya! Tuan muda sedang berada di ruangannya," jelas resepsionis itu tersenyum ramah.
"Baiklah! terima kasih," ucap Rini datar lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan Gabryel.
Benar saja, sesampainya di ruangan Gabryel, dia melihat Gabryel sedang duduk sambil menatap dokumen yang ada di tangannya. Melihat sang mama yang datang menemuinya, Gabryel langsung membuang napasnya kasar. Dia bisa menebak jika tujuan sang mama hanya untuk membicarakan masalah menantu kesayangannya itu.
"Jika mama datang kemari hanya membicarakan masalah menantu mama, lebih baik mama pulang saja," ucap Gabryel datar tanpa menatap ke arah Rini.
"Mama ingin membicarakan masalah papamu. Papa sudah beberapa hari tidak pulang. Bahkan mama dengar dia juga tidak masuk kantor," ucap Rini duduk di depan Gabryel.
"Sejak kapan papa tidak pulang?" tanya Gabryel mengerutkan keningnya binggung.
"Sekitar lima hari lalu,"
"Apa! kenapa sama seperti menghilangnya Naura. Apa papa ada sangkut pautnya dengan menghilangnya Naura?" gumam Gabryel berpikir.
__ADS_1
"Jadi Naura juga menghilang?" tanya Rini mendengar gumaman Gabryel dengan raut wajah bahagia.
"Ia! tapi kenapa mama sepertinya sangat bahagia? apa ini semua ada hubungannya dengan mama?" tanya Gabryel menatap Rini dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Ti... tidak! kenapa kau berpikir seperti itu. Mama memang tidak suka dengan Naura. Tapi mama tidak mungkin berbuat sejauh itu," ucap Rini gugup sambil tersenyum kecil.
Gabryel yang curiga dengan gerak-gerik sang mama hanya diam dan menatapnya dengan penuh selidik. Ntah mengapa Gabryel sangat yakin jika menghilangnya Naura, ada sangkut pautnya dengan Rini dan Elissa. Terlebih lagi mengingat percakapan Rini dan Elissa tempo hari. Membuat keyakinan Gabryel semakin besar.
"Sudah! Mama pulang dulu ya. Jika kau bertemu dengan papa tolong tanyakan kenapa dia tidak pulang," ucap Rini bergegas keluar dari ruangan Gabryel.
"Baiklah! Gabryel akan cari papa secepatnya," ucap Gabryel menganguk sambil terus menatap Rini dengan penuh kecurigaan.
Mendengar Naura juga hilang, Rini langsung bertawa gembira. Dia berniat menemui menantu kesayangannya dan menceritakan kehilangan Naura kepada Elissa. Namun, tanpa dia sadari ternyata ada beberapa pria yang mengawasinya sedari tadi. Melihat Rini melajukan mobilnya meninggalkan kantor, para pria itu langsung mengikutinya dari belakang.
"Siapa mereka? Sepertinya mereka mengawasi mama," batin Gabryel yang juga mengikuti Rini secara diam-diam.
Karena merasa khawatir dengan keadaaan sang mama. Gabryel langsung masuk ke mobilnya dan melajukannya mengikuti mobil Rini dan juga para pria misterius itu. Namun, para pria itu menyadari aksi Gabryel sehingga mereka berusaha mengalihkan perhatiannya.
Sebuah mobil yang berisi kelompok para pria itu langsung datang dan menghalangi mobil Gabryel. Hingga akhirnya Gabryel kehilangan jejak Rini dan juga para pria misterius yang mengikutinya.
"Siapa para pria itu? kenapa mereka mengikuti mama?" batin Gabryel mencoba berpikir.
Ntah mengapa tiba-tiba dia mencemaskan keadaan sang mama. Dia takut jika pria itu berniat jahat dan akan menyakiti mamanya. Tidak mau berpikir terlalu lama Gabryel mencoba melacak keberadaan Rini melalui GPS ponselnya.
Rini yang melajukan mobilnya tiba-tiba sadar jika ada beberapa mobil yang mengikutinya. Dia menatap beberapa mobil itu dari kaca spion depan.
"Siapa mereka? kenapa mereka mengikutiku?" gumam Rini bertanya pada dirinya sendiri.
Rini mencoba meningikan laju mobilnya agar para pria misterius itu berhenti mengejarnya. Namun, para pria itu juga semakin meninggikan laju mobilnya. Karena tidak mau para pria itu menangkapnya Rini melajukan mobilnya menuju ke keramaian.
Namun, ada dua mobil di depannya yang menghalangi jalannya. Hingga akhirnya Rini harus masuk ke sebuah persimpangan jalanan yang sangat sepi, agar terhindar dari kejaran para pria itu. Rini yang melihat mobil yang mengikutinya tidak terlihat lagi langsung membuang napasnya lega.
Dia terus melajukan mobilnya hingga akhirnya dia melihat sebuah mobil yang berhenti di depannya. Mobil itu terparkir dengan terlentang hingga tidak memberi jalan kepada Rini. Rini juga dapat melihat beberapa pria berbadan tegap berdiri di dekat mobil itu.
__ADS_1
"Sial! Siapa mereka?" gumam Rini terlihat panik.
Rini berusaha menatap ke belakang, dan benar saja di belakangnya sudah berhenti mobil yang mengikutinya tadi. Sehingga dia tidak bisa bergerak kepanapun lagi.
"Keluar!" teriak seorang pria berbadan tegap yang sangat menyeramkan mengetuk kaca jendela mobil Rini.
"Tidak! Siapa kalian? kenapa kalian menghalangi jalanku?" tanya Rini sambil gemetar ketakutan.
"Dasar wanita licik. Keluar kau! atau aku yang mengeluarkanmu dengan caraku sendiri," ucap pria itu geram sambil memukul mobil Rini.
"Tidak! Aku tidak akan keluar," ucap Rini menekan pegal gas mobilnya dan menabrak mobil yang menghalangi jalannya.
Dorr... Dorr..
Salah satu pria misterius itu langsung menembak kedua ban mobil belakang Rini. Hingga akhirnya mobil Rini hilang kedali dan masuk ke dalam semak belukar yang ada di tepi jalan itu.
"Apa kita bakar saja dia bersama mobilnya, Tuan?" tanya salah satu pria itu kepada ketua mereka yang berada di dalam mobil.
"Tidak! Jika dia mati begitu saja. Maka dia tidak akan merasakan apa yang di rasakan nyonya selama ini," ucap pria itu turun dari mobilnya dan menatap mobil Rini.
Pria itu langsung memberikan kode kepada anak buahnya untuk mengeluarkan Rini dari dalam mobil itu. Melihat kode itu para pria itu langsung menyeret Rini keluar dari mobilnya. Kepala Rini yang mengeluarkan darah segar karena terbentur tidak membuat para pria itu merasa kasihan kepadanya.
"Lepaskan aku!" ucap Rini terus memberontak.
"Apa kalian tidak tau siapa aku? Aku adalah nyonya besar Patrick. Keluarga terpandang dan paling berkuasa di kota ini," ucap Rini masih sombong walaupun hidupnya sedang terancam.
"Kami tidak perduli kau siapa. Karena kau telah berani menyakiti nyonya muda kami. Maka bersiaplah merasakan kemarahan dari bos kami," ucap pria itu melemparkan tubuh Rini tepat di depan bos mereka.
Berlahan Rini menatap pria berbadan tegap yang berdiri di depannya. Rini langsung membulatkan matanya terkejut ketika melihat wajah pria itu.
"Ronal!"
Bersambung....
__ADS_1