Sistem Melayani Suami

Sistem Melayani Suami
Part 12


__ADS_3

Naura kini telah sampai di tempat Gabryel akan melakukan makan malam bersama seseorang. Naura menatap restoran mewah itu lalu turun dan menutup kepalanya juga mengenakan kaca matanya. Dia sengaja menyamar agar dia bisa leluasa mencari keberadaan Gabryel.


"Pak, bapak tunggu di sini ya. Jangan pergi ke mana-mana. Ingat jangan beritau tuan muda kita pergi ke mana saja hari ini." ucap Naura menatap supir pribadinya.


"Baik, Nyonya. Saya akan selalu menutup mulut." ucap supir itu tersenyum ramah.


Semua pekerja di mension memang merasa kasihan kepada Naura. Terlebih lagi Naura yang sangat baik kepada semua pekerjanya membuat mereka sangat menyayangi Naura. Maka, jika Gabryel tidak ada mereka dengan senang hati mau menolong Naura bahkan merahasiakan apapun yang di lakukan Naura di belakang Gabryel.


Naura melangkahkan kakinya memasuki restoran itu. Dia menatap satu persatu pengunjung restoran. Seketika mata Naura tertuju pada sebuah ruangan yang segaja di kosongkan. Dia berlahan mendekati ruangan itu secara diam-diam.


Berlahan mata Naura membulat ketika melihat Gabryel berada di dalam ruangan itu bersama Elissa. Terlihat mereka berdua sedang duduk di meja yang sama sambil bermesraan. Tidak lama Rini muncul menghampiri mereka dengan raut wajah bahagianya.


"Hai, Sayang. Apa kau bahagia malam ini?" ucap Rini menghampiri Gabryel dan juga Elissa.


"Tentu saja, Ma. Setelah menikah dengan Mas Gabryel hari-hariku selalu bahagia." ucap Elissa tersenyum manis sambil memeluk Rini.


Degh...


Rasanya jantung Naura berhenti berdetak mendengar ucapan Rini dan Elissa. Tak terasa air matanya mengalir dengan derasnya. Di tidak menyangka jika di balik perubahan sikap suaminya ada penghianatan yang sangat besar.


Ingin sekali Naura pergi ke sana dan melambrak suami dan juga mertuanya itu. Tapi, Naura langsung mengurungkan niatnya karna dia masih terikat dalam misi membahagiakan suami dan juga mertuanya. Jika dia melakukan kesalahan sedikit saja maka, usahanya selama ini akan sia-sia.


Naura menatap kebahagian suami dan juga mertuanya sambil menahan tangisnya. Dia berusaha terlihat kuat walaupun sebenarnya pemandangan itu sangat menyakiti hatinya. Karna tidak tahan lagi Naura memilih untuk meninggalkan tempat itu sambil menangis. Tapi, saat Naura melangkahkan kakinya tidak sengaja dia menyengol sesuatu dan membuatnya terjatuh.


"Naura!" ucap Gabryel ketika melihat Naura terjatuh di lantai dan penutup kepalanya terlepas.

__ADS_1


Mendengar namanya di sebut, Naura berusaha untuk bangkit dan melangkahkan kakinya kembali. Tapi, Gabryel langsung mengejarnya dan segera menahannya.


"Sayang, kau jangan pergi. Biar aku jelaskan dulu." ucap Gabryel memeluk Naura dari belakang.


"Penjelasan apa lagi, Mas? Semua sudah jelas." ucap Naura lirih dengan air matanya yang mengalir dengan derasnya.


"Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan, Sayang. Tolong berikan aku waktu untuk menjelaskannya." ucap Gabryel terus membujuk Naura.


"Kak, maafkan aku. Aku tidak ada niat untuk merebut Mas Gabryel darimu. Aku rela menjadi istri ke dua Mas Gabryel tanpa harus merebutnya darimu." ucap Elissa mendekati Naura.


"Tidak ada wanita yang mau berbagi suami dengan wanita lain. Walaupun sekarang kau mau berbagi Mas Gabryel denganku. Aku yakin suatu saat nanti kau akan tetap ingin menjadi satu-satunya di kehidupan suamiku." ucap Naura berusaha menahan tangisnya.


"Kau tidak usah serakah Naura. Kau masih beruntung karna Gabryel tetap mempertahankanmu. Bahkan dia tidak mau menceraikanmu dan tetap membiarkanmu menjadi istri pertamanya." ucap Rini menatap Naura dengan penuh kemarahan.


Mendengar ucapan Rini, ingin rasanya Naura merobek mulut pedas mertuanya itu. Tapi, Naura terus berusaha mengontrol emosinya. Dia berusaha mengingat perjanjiannya dengan aplikasi itu. Jangan sampai semua usahannya selama ini sia-sia hanya karna dia tidak bisa menahan emosinya.


Ada rasa ketakutan yang sangat besar di dalam hati Gabryel jika sampai Naura meningalkannya. Sudah dua tahun Gabryel menjalin rumah tangga bersama Naura dan selalu menjalani hari-hari mereka bersama. Terlebih lagi semua orang tau jika mereka adalah pasangan yang sangat harmonis dan selalu terlihat mesra.


Gabryel tidak mau karna hal kecil seperti ini semua usahanya selama ini sia-sia. Jika sampai ada yang tau jika rumah tangganya dan Naura sedang bermasalah sudah pasti nama baiknya juga akan tercemar. Dengan cara apapun Gabryel harus mempertahankan nama baiknya dan juga mempertahankan rumah tangganya, agar tidak menjadi bahan perbincangan semua orang.


"Naura kau harus ingat satu hal. Gabryel adalah satu-satunya penerus keluarga Patrick. Jadi, kami membutuhkan penerus untuk meneruskan semua usaha keluarga Patrick. Sedangkan kau adalah wanita mandul yang tidak bisa memberikan keturunan untuk putraku. Jadi, kau harus tau derajatmu. Gabryel sudah mau menikahimu saja seharusnya kau sudah bersyukur. Jika tidak sampai sekarang kau masih menjadi OB di perusahaan keluarga kami. Miskin saja belagunya minta ampun." ucap Rini menatap sinis Naura.


Mendengar ucapan pedas mertuanya. Naura hanya mampu menahan rasa sakitnya di dalam hatinya. Dia menyimpan dengan rapi semua perkataan mertuanya yang selalu menghinanya di dalam hatinya. Semua kata-kata hinaan dan perlakuan Rini akan selalu tersimpan dan berputar di memori otak Naura.


"Kau hina saja aku sepuasnya. Kita lihat saja, apa yang dapat aku lakukan setelah berpisah dengan putramu yang tidak berguna ini." batin Naura menghapus air matanya.

__ADS_1


"Kak! Aku tau kau tidak bisa mengandung. Aku menikah dengan Mas Gabryel hanya untuk memberikan keturunan untuk kalian. Jika nanti aku melahirkan anak pertama kau boleh merawatnya." ucap Elissa tersenyum.


"Maaf aku bukan babby sistermu." ucap Naura menatap sinis Elissa.


"Naura! Dasar kau menatu tidak tau di untung." ucap Rini geram lalu mengangkat tangannya ingi menampar Naura.


"Ma! Jangan sakiti istriku." ucap Gabryel menahan tangan Rini agar tidak mengenai wajah Naura.


"Berani kau melawan mama?" ucap Rini menatap putranya dengan penuh kekecewaan.


"Sudah, Mas. Lebih baik kalian lanjutkan saja makan malam kalian. Aku mau pulang saja." ucap Naura tersenyum.


"Aku mengantarmu ya, Sayang." ucap Gabryel menatap Naura dengan penuh permohonan.


"Tidak! Aku bisa pulang sendiri. Lebih baik kau urus saja istri keduamu ini." ucap Naura berusaha tersenyum.


"Apa kakak sudah menerima pernikahan kami?" ucap Elissa dengan mata berbinar.


Mendengar ucapan Elissa, Naura hanya diam tanpa mau menatapnya.


"Sudahlah! Kau pulang saja. Tenangkan dirimu, jika kau masih ingin menjadi bagian dari keluarga patrick maka jadilah menantu yang penurut. Jangan buat mama kecewa padamu." ucap Rini menatap remeh Naura.


Naura yang sudah malas berdebat dengan mertuanya itu hanya bisa tersenyum getir. Naura takut jika berlama-lama di sana dia akan kehilangan kendali dan melampiaskan seluruh amarahnya. Naura harus mengontrol emosinya agar dia mendapatkan seluruh hadiahnya secepatnya.


Naura berusaha tersenyum walaupun sebenarnya sangat menyakitinya. Dia pergi meningalkan tempat itu dengan perasaan yang amburadul. Dia kembali menutup kepalanya dan mrngenakan kaca matanya agar tidak ada satupun yang dapat mengenalinya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2