Sistem Melayani Suami

Sistem Melayani Suami
Part 27


__ADS_3

Naura terdiam di balkon kamarnya. Dia menatap rembulan dengan tatapan kosong. Angin malam yang begitu dingin menerpa yang tubuhnya sama sekali tidak mengusik Naura. Tiba-tiba ponsel yang ada di gengaman Naura berdering sehingga menyadarkannya dari lamunannya.


"Icha!" gumam Naura tersenyum ketika melihat nama Icha terpajang di layar ponselnya.


Naura menekan tombol hijau sehinga akhirnya pangilan vidio call yang di lakukan Icha langsung tersambung.


"Hai, Kak. pasti kakak merindukan kehebohan adikmu ini'kan?" ucap Icha dengan penuh keceriaan.


"Kau benar! kakak sangat merindukanmu. Apa kau sudah tidak mengingat kakakmu ini?" ucap Naura menunjuk'kan wajah cemberutnya.


"Tentu saja aku mengingat kakak. Bahkan aku tidak bisa tidur sebelum melihat senyuman indah dari kakakku tercinta ini."


"Benarkah! kapan kau pulang? kakak sudah sangat merindukanmu."


"Besok Icha akan pulang, Kak. Besok siang Bibi Yulia ingin bertemu dengan kakak."


Berlahan Naura mengerutkan keningnya bingung. Dia seperti tidak asing dengan nama yang di sebut Icha.


"Bibi Yulia adalah istri paman Wilona kak. Mommy dari kakak sepupu aku yang paling tampan, Kak Raygan." jelas Icha.


"Oh! baiklah. Kakak akan menyiapkan menu spesial untuk kalian." ucap Naura tersenyum.


"Benarkah! Icha juga sudah sangat merindukan masakan kakak." ucap Icha semangat empat lima.


"Tentu saja! kakak tunggu kedatanganmu ya. Ya sudah! kau istirahat sana. Besok kau akan kesiangan jika tidur terlalu malam."


"Ok, Kak! Tapi, kalau disini aku tidak akan bisa bangun kesiangan."


"Kenapa?"


"Karna ada auman singa yang selalu membangunkanku."

__ADS_1


"Kau bisa saja. Pasti yang kau katakan itu Nyonya Wilona."


"Bukan! kalau bibi aku engak peduli. Tapi, Kak Raygan. Dia tidak akan berhenti mengaum sebelum dia berhasil membangunkanku. Bikin telingaku selalu sakit."


"Ha...ha... itu makanya jadi anak gadis itu jangan seperti kebo. Sudah tidur sana. Kakak juga lelah mau istirahat."


"Ok! kakak juga tidur ya. Jangan lama-lama di luar. Nanti kakak masuk angin lo." ucap Icha mengingat kelakuan Naura yang selalu termenung di balkon kamarnya.


"Siap, Bos. Kakak sudah masuk ni. Sudah lihat'kan." ucap Naura masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu.


"Kakak pintar. Selamat malam, Kak. Semoga mimpi indah ya."


"Selamat malam juga adik kecilku. Dadahhh." ucap Naura melambaikan tangannya lalu mematikan sambungan telepon mereka.


Naura meletakkan ponselnya di atas meja lalu menghempaskan tubuhnya di kasur empuknya. Berlahan ucapan nenek tua yang dia temui di jalan kembali tergiang di pikirannya.


"Apa memang masih ada pria yang baik di dunia ini? Jika memang ada, aku serahkan semuanya kepadamu ya Allah. Kupercayakan seluruh takdirku kepadamu. Karna hanya engkaulah yang tau apa yang terbaik untukku." gumam Naura menatap langit-langit kamarnya lalu memejamkan matanya secara berlahan.


Seperti yang di janjikan Yulia, di waktu jam makan siang dia akan berkunjung ke restoran Naura bersama Icha. Naura yang melihat kedatangan mereka langsung menyambut mereka dengan sangat baik.


"Selamat siang, Nyonya. Senang melihat anda berkunjung ke restoran saya." ucap Naura menyambut kedatangan Yulia dan Icha.


"Selamat siang juga, Naura. Kau tidak perlu memangil saya dengan sebutan Nyonya. Panggil saja saja bibi seperti Icha." ucap Yulia tersenyum.


"Maaf, Bi. Ayo silahkan masuk." ucap Naura mempersilahkan.


"Terima kasih. Kau semakin cantik saja. Sangat jauh berbeda di saat kau masih menjadi menantu keluarga Patrick."


Mendengar ucapan Yulia, Naura hanya tersenyum kecil. Dia melangkahkan kakinya memasuki restoran secara beriringan bersama Icha dan Yulia.


"Silahkan duduk, Bi." ucap Naura lalu memberi kode kepada karyawannya untuk menghidangkan minuman untuk Icha dan Yulia.

__ADS_1


"Pelayananmu sangat bagus, Ra. Pantas saja restoranmu selalu ramai pengunjung." ucap Yulia menatap pelayanan setiap karyawan Naura yang memuaskan hatinya.


"Terima kasih atas pujiannya, Bi. Ini sudah kewajiban kami untuk melayani semua tamu kami dengan baik." ucap Naura tersenyum.


"Oh, ia. Saya sudah menyiapkan beberapa menu spesial untuk bibi dan Icha." ucap Naura tersenyum, lalu menyuruh karyawannya untuk menyajikan menu spesial yang telah dia siapkan.


Para karyawan Naura langsung menata makanan yang telah mereka siapkan dengan rapi di atas meja. Icha menelan ludahnya kasar ketika mencium aroma setiap makanan itu yang telah menusuk indra penciumannya.


"Wah! makanannya banyak sekali. Pasti rasanya pada enak-enak semua." ucap Icha menatap makanan itu satu persatu.


"Jika kau hanya menatapnya seperti itu kau tidak akan bisa merasakan rasanya. Ayo cepat makan." ucap Naura tersenyum melihat Icha yang sudah seperti orang kelaparan.


"Kau juga makanlah bersama kami." ucap Yulia tersenyum.


"Baik, Bi." ucap Naura tersenyum lalu mengambil makanannya.


Mereka makan siang bersama sambil bercanda kecil. Yulia yang dapat melihat ketulusan hati Naura langsung menyukainya. Yulia jadi ingin menjadikan Naura menjadi menantunya. Baginya status Naura yang seorang janda tidak akan menjadi penghalang niatnya untuk menyatukan Naura dengan Raygan.


"Apa kau tidak ada keinginan untuk menikah lagi, Ra?" ucap Yulia memberanikan diri.


Uhuk...uhukk...


"Kakak kenapa? ayo minum." ucap Icha langsung memberikan air mineral kepada Naura sambil memukul pelan pundak Naura.


"Maaf, jika pertanyaan bibi menyingungmu." ucap Yulia merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, Bi. Naura tadi hanya sedikit terkejut saja." ucap Naura tersenyum.


"Untuk kembali membangun keluarga baru lagi, Naura belum berani untuk menentukannya, Bi. Semua Naura serangkan kepada sang pencipta saja. Jika memang ada pria baik yang bisa menerima aku apa adanya, dan bisa membawaku ke jalan yang benar. Maka, aku akan menerimanya dengan lapang dada." ucap Naura kembali.


Mendengar ucapan Naura, Yulia langsung tersenyum lega. Dia bersyukur karna dia mempunyai kesempatan untuk mendekatkan Naura dengan Raygan.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2