
Gabryel terdiam seorang diri di balkon kamarnya. Dia menatap langit malam dengan tatapan kosongnya. Luka lembab yang memenuhi wajahnya tidak membuatnya kesakitan sedikitpun. Senyuman Naura dan semua kenangannya mereka terus terbayang di dalam ingatannya. Sehingga tanpa dia sadari air mata penyesalan mulai mengalir di sudut matanya.
"Naura! maafkan aku, Sayang," batin Gabryel lirih sambil menitikkan air matanya.
"Gabryel! kenapa kau melakukan itu padaku? apa aku tidak memuaskanmu? sehingga kau beralih ke wanita mandul itu," teriak Elissa penuh amarah.
Elissa tidak menyangka jika Gabryel melakukan hal yang sangat bodoh di hari resepsi pernikahannya. Mendengar teriakan Elissa, Gabryel langsung menatapnya dengan tatapan kosong. Melihat tatapan Gabryel yang begitu menakutkan, nyali Elissa langsung menciut. Dia menelan ludahnya kasar lalu berusaha mengontrol emosinya.
"Sayang! kenapa kau berdiam diri di situ? ayo masuk," ucap Elissa terasenyum sambil berjalan mendekati Gabryel.
"Sayang, kau kembali?" tanya Gabryel lirih sambil menatap Elissa yang berjalan mendekatinya.
Karna kerinduannya yang sangat mendalam, Gabryel mengira jika Elissa adalah Naura. Elissa yang mendengar pangilan sayang dari Gabryel langsung tersenyum manja dan mengeluarkan jurus pamungkasnya. Dia membelai dada bidang Gabryel dan memeluk Gabryel dengan manja.
"Maafkan aku! maafkan aku, yang pernah menyakitimu. Aku mohon jangan tingalkan aku lagi. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu," ucap Gabryel menciumi wajah Elissa sambil memeluknya dengan erat.
"Aku tidak akan pernah meningalkanmu, Sayang,"
"Terima kasih! terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu Naura istriku,"
Degh...
Jantung Elissa langsung berdetak kencang mendengar Gabryel menyebut nama Naura. Dengan cepat dia melepaskan pelukannya lalu menatap Gabryel penuh amarah.
"Yel! aku Elissa istrimu. Bukan wanita mandul itu," bentak Elissa menatap Gabryel penuh kemarahan.
Mendengar ucapan Elissa, bayangan Naura berlahan hilang dari pandangan Gabryel. Dia menatap Elissa yang kini berdiri di depannya yang masih mengunakan balutan gaun pengantin. Gabryel terus menatap Elissa yang berdiri di depannya. Dia mengusap wajahnya kasar setelah menyadari jika yang berdiri di depannya adalah Elissa bukan Naura.
"Sudah! aku lelah. Aku mau istirahat." ucap Gabryel melangkahkan kakinya meninggalkan Elissa.
Elissa yang melihat perubahan sikap Gabryel, hanya bisa mengepalkan tangannya geram. Dia menatap pungung Gabryel yang berlahan menjauh darinya.
"Naura! kenapa wanita mandul itu terus mengacaukan kebahagiaanku?" batin Elissa mengepalkan tangannya geram.
Elissa berjalan memasuki kamarnya dengan Gabryel. Sesampainya di dalam dia melihat Gabryel sudah tertidur dengan pulas. Karna tidak mau membuat suasana semakin ricuh, Elissa memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
******
__ADS_1
Keesokan harinya.
Gabryel duduk di taman belakang seorang diri. Dia menatap taman yang selalu Naura rawat dengan penuh kesabaran. Bunga-bunga yang indah bermekaran, kupu-kupu yang sangat indah nampak beterbangan mengelilingi bunga-bunga itu.
Berlahan senyuman Gabryel kembali terukir. Dia melihat banyangan Naura menyirami taman sambil bernyanyi kecil. Gabryel berusaha berjalan mendekati bayangan itu. Namun, saat Gabryel telah mendekat banyangan itu malah menghilang dari penglihatannya.
"Naura!" guman Gabryel setelah sadar jika itu hanya halusinasinya saja.
Gabryel mengusap wajahnya kasar sambil berusaha mengontrol dirinya. Dia menarik napasnya kasar sambil menatap ke arah langit yang cerah. Dia menatap langit dengan tatapan penuh penyesalan dan berusaha menahan tangisnya.
"Arghhh.... kenapa aku bisa sebodoh itu. Naura akan semakin membenciku," teriak Gabryel frustasi sambil mengingat kejadian pada malam itu.
Brukk...
Barang-barang yang tidak bersalah menjadi sasaran kemarahan Gabryel. Dia menendang setiap benda yang ada di dekatnya dengan penuh amarah. Mendengar suara teriakan Gabryel, Elissa berlahan berlari kecil menuju ke taman belakang.
"Ada apa?" tanya Elissa menatap wajah Gabryel yang memerah dengan penuh kebingungan.
Gabryel menatap sekilas ke arah Elissa lalu berusaha mengontrol emosinya. Dia mengusap wajahnya kasar lalu kembali duduk di kursi taman. Melihat Gabryel yang mulai tenang Elissa berlahan mendekatinya lalu duduk di sampingnya.
"Kau kenapa? kenapa belakangan ini kau terlihat sangat aneh? apa ini semua karna wanita mandul itu?" tanya Elissa menatap Gabryel dengan penuh kebingungan.
"Lebih baik kau pergi dari sini," ucap Gabryel berusaha menahan emosinya.
"Kau mengusirku?" tanya Elissa dengan mata berkaca-kaca.
"Pergi aku bilang, pergi!" bentak Gabryel menatap Elissa dengan penuh amarah.
Melihat Gabryel yang membentaknya, Elissa langsung menatap Gabryel dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak menyangka jika Gabryel bisa membentaknya, padahal dia sedang mengandung anak Gabryel.
"Baik! tanpa kau bentak pun aku akan pergi," ucap Elissa meninggalkan Gabryel seorang diri.
Para pelayan yang tidak sengaja mendengar pertengkaran Elissa dan Gabryel langsung tersenyum kecil. Mereka merasa senang karna Elissa tidak bahagia bersama Gabryel. Karna bagaimanapun mereka telah menjadi saksi penderitaan Naura selama ini. Jadi, mereka tidak akan suka jika Elissa hidup dengan tenang setelah apa yang dia lakukan kepada Naura.
Setelah melihat Elissa pergi, Gabryel kembali menatap taman itu. Gabryel merasakan penyesalan yang sangat mendalam atas semua yang dia lakukan kepada Naura. Berlahan air mata penyesalan mengalir di sudut mata Gabryel. Dia menangis mengingat semua perbuatannya kepada Naura.
Sedangkan Elissa langsung pergi ke kamarnya. Dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Rini. Tidak perlu di tanya lagi, dia menghubungi Rini pasti ingin mengadu seperti anak kecil.
__ADS_1
"Hallo, Sayang!" ucap Rini dari sebrang sana setelah sambungan telepon mereka tersambung.
"Ma! hiks... hikss," ucap Elissa pura-pura menangis.
"Ada apa, Sayang? apa kau bertengkar lagi dengan Gabryel?" tanya Rini dengan penuh kehawatiran.
"Hiks... ia, Ma. Gabryel membentakku! dia mengusirku, Ma," ucap Elissa sambil menangis kecil.
"Apa! kenapa bisa, Sayang? apa kau melakukan kesalahan?"
"Tidak, Ma! aku tadi hanya ingin menenangkannya. Tapi, dia malah membentakku dan mengusirku,"
"Sudah! mama akan ke sana sekarang. Kau tenang saja ya, Sayang," ucap Rini mengakhiri sambungan telepon mereka.
"Selesai!" ucap Elissa tersenyum sinis lalu melemparkan ponselnya ke sembarangan arah.
Elissa menghempaskan tubuhnya di atas ranjang lalu tersenyum kecil. Suatu hal yang mudah baginya untuk menaklukkan Gabryel. Tinggal mengadu maka sudah di pastikan Rini akan datang dan memarahi Gabryel.
Tidak menunggu lama, Elissa langsung mendengar suara mobil Rini memasuki perkarangan mension mereka. Elissa langsung tersenyum kecil lalu memasang wajah sedihnya. Dia keluar dari kamarnya untuk menyambut kedatangan sang mama mertua.
"Mama!" ucap Elissa memeluk Rini yang telah berasa di ruang tamu.
"Kau jangan sedih ya, Sayang. Jika kau sedih nanti cucu mama juga sedih," ucap Rini tersenyum sambil mengelus perut Elissa yang mulai membuncit.
"Gabryel!" ucap Rini ketika melihat Gabryel berjalan melewatinya.
Mendengar namanya di sebut, Gabryel langsung menghentikan langkahnya lalu menatap Rini dan Elissa.
"Kenapa kau membentak Elissa? apa kau lupa jika dia sedang hamil? jika terjadi sesuatu pada cucu mama gimana?" oceh Rini menatap Gabryel dengan penuh kekesalan.
"Aku sudah dewasa, Ma! jadi mama tidak perlu selalu mengatur hidupku," ucap Gabryel membuang napasnya kasar.
"Apa! kau kira kau bisa tumbuh dewasa seperti ini karna siapa? karna mama Yel. Jika bukan karna mama mungkin kau tidak akan bisa seperti ini," ucap Rini menatap tajam Gabryel.
"Aku tau aku bisa tumbuh dewasa dan bisa hidup seperti ini karna mama. Tapi, aku juga berhak untuk mengatur kehidupanku sendiri, Ma. Mama tidak bisa selalu mengatur aku seperti yang mama inginkan. Karna aku ini manusia, bukan robot yang bisa mama perintah seenaknya saja,"
Bersambung....
__ADS_1
*****