Sistem Melayani Suami

Sistem Melayani Suami
Part 71


__ADS_3

Gabryel duduk termenung di dalam kamarnya seorang diri. Dia menatap langit-langit kamarnya sambil termenung sendiri. Dia tidak tau harus melakukan apa saat ini. Dia binggung dan tidak tau arah tujuannya yang sebenarnya.


Sang mama sedang berada di ujung maut. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tau jika Rini memang bersalah dia pantas mendapat hukuman. Namun, sebagai seorang anak dia tidak mau melihat wanita yang melahirkannya mati dengan mengenaskan. Bahkan nyawa mamanya kini berada di tangan papanya sendiri.


"Ya Allah! apa yang harus aku lakukan. Lindungilah mama. Berikanlah dia kesempatan untuk memperbaiki dirinya," gumam Gabryel sambil menitikkan air matanya.


Berlahan dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja yang terletak di samping kasurnya. Dia mencoba membuka laci dan mengambil foto seorang wanita yang sedang tersenyum bahagia. Dia menatap foto itu sambil meneteskan air matanya.


"Naura! kau sadarlah. Hanya kau yang bisa menyelamatkan mama. Aku tau jika mama sangat kejam kepadamu. Dia pantas mendapatkan hukuman atas semua perbuatannya. Tapi aku tau bagaimana dirimu. Kau pasti tidak bisa melihat orang lain menderita walaupun orang itu selalu jahat kepadamu. Aku tidak menyuruhmu untuk memaafkan mama. Tapi setidaknya ringankanlah hukumannya. Berikan dia waktu untuk menyadari kesalahannya. Berikan dia kesempatan untuk berubah," ucap Gabryel duduk meringkuk sambil memeluk foto Naura.


Karena terlalu larut dalam kesedihannya, Gabryel sampai tidak sadar jika Ronal sedang memperhatikannya. Ronal yang awalnya ingin melihat keadaan Gabryel, tidak sengaja mendengar curahan hati putranya itu. Sebagai seorang ayah, Ronal bisa merasakan dengan jelas apa yang di rasakan Gabryel saat ini.


Namun, dia juga harus menjalankan tugasnya dengan baik. Sama seperti Gabryel, Ronal dan Author juga mengalami dilema yang sangat besar. Dia binggung harus memberikan hukuman apa kepada Rini. Baginya saat ini Rini adalah penjahat yang harus di beri hukuman yang sangat berat atas perbuatannya. Setidaknya hukuman mati mengenaskan adalah hukuman yang cocok untuknya.


Namun, di sisi lain dia memikirkan keadaan Gabryel saat ini. Jika dia membunuh Rini dengan tangannya sendiri, sama saja dia akan menaruh bibit kebencian di hati Gabryel darah dagingnya sendiri. Ronal kini berada di dalam dilema yang sangat besar. Dia harus memilih antara pekerjaan dan juga perasaan putranya.


"Ya Allah! aku harus berbuat apa? tolong berikanlah petunjukmu," gumam Ronal mengusap wajahnya kasar.


...----------------...


Yulia yang mendapat kabar tentang keadaan Naura langsung tersenyum lega. Dia meras bahagia karena akhirnya Naura bisa di temukan. Walaupun dia tidak tau bagaimana keadaan Naura saat ini. Namun, dia tetap merasa bahagia setidaknya akhirnya dia di berikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan Naura.


"Deddy! Icha!" teriak Yulia menangis Candra dan Icha sambil tersenyum bahagia.


Candra dan Icha yang mendengar pangilan Yulia langsung menghampiri Yulia dengan penuh kebingungan. Mereka berdua menatap heran Yulia yang tersenyum bahagia dan langsungemeluk mereka.


"Papa! Icha," ucap Yulia langsung memeluk Icha dan Candra sekaligus.


"Mom! Mommy kenapa?" tanya Candra menatap binggung istrinya.


"Ia! tante kenapa? seperti sedang menang undian saja," ucap Icha mengerutkan keningnya binggung melihat sikap Yulia.

__ADS_1


"Raygan! Ray sudah menemukan Naura?" ucap Yulia bersorak bahagia.


"Apa! jadi Kak Naura sudah ketemu?" ucap Icha memastikan jika pendengarannya tidak salah.


"Ia! Kakakmu Ray sudah menemukan Naura. Ray menyuruh kita untuk kesana sekarang," ucap Yulia tersenyum bahagia.


"Bagaimana keadaan calon menantu kita? dia baik-baik saja 'kan?" tanya Candra memastikan firasat buruknya selama ini salah.


Mendengar pertanyaan Candra, Yulia langsung terdiam. Karena bahagianya dia sampai lupa menanyakan keadaan Naura kepada Raygan. Yang dia pikirkan hanyalah kebahagiaan karena Naura sudah kembali.


"I.. itu!" ucap Yulia gugup.


"Itu apa, Bi?" tanya Icha menatap Yulia dengan tatapan penuh selidik.


"Tante lupa menanyakannya," ucap Yulia cengengesan sambil mengarungi kepalanya.


"Apa mama sudah tanya mereka ada di mana?" tanya Candra menatap lekat wajah Yulia.


"He... he... itu juga mama lupa," ucap Yulia nyengir tanpa dosa.


Mendengar ucapan Icha, Yulia hanya melakukan bibirnya sambil mengarungi kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah! kalian siap-siap saja. Deddy akan menghubungi Mbara," ucap Candra.


"Baik, Ded," ucap Yulia langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Namun, baru beberapa langkah mereka langsung melihat Mbara melewati pintu utama. Mereka mengerutkan keningnya binggung ketika melihat langkah Mbara yang sepertinya sedang terburu-buru.


"Apa kalian sudah mendapat kabar dari tuan muda?" tanya Mbara tanpa basa basi.


"Sudah! apa kau juga ingin ke sana?" tanya Candra.

__ADS_1


"Ia! saya di perintahkan tuan muda untuk membawa kalian. Karena nyonya muda sangat membutuhkan dukungan dari kalian saat ini," ucap Mbara mengkhawatirkan keadaan Naura saat ini.


"Maksud kakak?" tanya Icha menatap Mbara dengan tatapan penuh pertayaan.


"Apa tuan muda tidak menceritakannya?" tanya Mbara memastikan.


"Aku yang salah. Karena terlalu bahagia aku spai lupa menayakan keadaan Naura saat ini," ucap Yulia.


"Baiklah! lebih baik kalian ber siap-siap sekarang," ucap Mbara.


Mendengar ucapan Mbara, mereka semua langsung menganguk patuh. Mereka langsung ber siap-siap dengan kecepatan kilat. Tidak ada yang namanya berdandan dan menghabiskan waktu berjam-jam. Bahkan mereka sudah selesai dalam waktu kurang dari sepuluh menit.


"Kami sudah selesai," ucap Icha dan Yulia berlari kecil menemui Mbara dan Candra yang sedang menunggu di mobil.


Melihat keajaiban itu Candra dan Mbara hanya mampu menatap binggung Yulia dan Icha. Biasanya mereka akan membutuhkan waktu berjam-jam untuk berdandan. Tapi kali ini?


"Kenapa kalian hanya bengong saja. Ayo cepat. Aku sudah sangat merindukan putra dan calon menantuku," oceh Yulia menyadarkan Mbara dan Candra.


"Baik, Nyonya!" ucap Mbara langsung masuk ke mobil dan duduk di bangku pengemudi.


Setelau melihat semuanya telah duduk dengan nyaman, Mbara langsung menyalahkan mesin mobil. Dia melakukan mobilnyandenfan kecepatan tinggi keluar dari perkarangan mension keluarga Wilona.


Selama di perjalanan mereka semua diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Mereka terus saja berdoa agar keadaan Naura baik-baik saja. Mbara yang sudah tau bagaimana keadaan Naura saat ini hanya mampu menatap nanar para majikannya itu.


Hingga akhirnya Mbara menepikan mobilnya di sebuah rumah sakit yang sangat besar. Melihat Mbara yang membawa mereka ke rumah sakit, Yulia, Candra dan Icha langsung saling lempar pandangan.


"Kenapa kakak membawa kami ke sini? di mana Kak Naura?" ucap Icha panik.


"Dia ada di dalam," ucap Mbara membuang napasnya pelan.


"Apa! Kak Naura!" ucap Icha langsung meneteskan air matanya lalu berlari memasuki rumah sakit itu.

__ADS_1


Tidak mau membuang-buang waktu Yulia dan Candra langsung turun dari mobil, dan berlari kecil memasuki koridor rumah sakit dengan sejuta kecemasan.


Bersambung.....


__ADS_2