Sistem Melayani Suami

Sistem Melayani Suami
Part 09


__ADS_3

Naura menatap pecahan kaca yang berserakan di lantai.Naura melangkahkan kakinya mendekati puing-puing kaca dengan tatapan kosongnya. Naura mengambil pecahan kaca sambil menatap wajahnya di pantulan pecahan kaca yang berserakan di lantai.


"Jika kematian adalah jalan satu-satunya agar aku bisa terbebas dari siksaan dan perjanjian system itu. Maka! Aku lebih baik mati saja." batin Naura melukai tangannya dengan pecahan kaca.


Naura menatap lekat darah segar yang mengalir pada tangannya dengan tatapan kosong. Bayangan siksan hinaan yang selalu Gabryel lontarkan kepadanya terus tergiang di pikirannya. Karna darah segar terus mengalir di tangan Naura tiba-tiba penglihatan Naura mulai buram. Dengan seketika tubuhnya yang sudah sangat lemah ambruk dan tergeletak tidak berdaya di lantai.


Brakk...


Ronal dan satpam mendobrak pintu kamar Naura dengan sekuat tenaga mereka. Mata Ronal langsung membulat ketika melihat tubuh Naura yang tergeletak tidak berdaya di lantai.


"Naura..." teriak Ronal berlari ke arah Naura lalu melihat tangan Naura yang terluka dan terus mengeluarkan darah.


"Kenapa kau melakukan ini, Nak? Kenapa kau bisa sebodoh ini?" ucap Ronal membuka kemejanya lalu membalut luka di tangan Naura.


Tidak banyak berpikir, Ronal membawa tubuh Naura kedalam gendongannya. Dia terus meneteskan air matanya melihat keadaan Naura yang sangat kacau. Sebagai seorang ayah, Ronal merasa sangat gagal mendidik putranya.


Dengan cepat supir yang biasa mengantar Naura mengeluarkan mobil. Melihat itu Ronal meletakkan tubuh Naura di bangku belakang lalu duduk di sampingnya. Tidak henti-hentinya Ronal terus menitikkan air matanya melihat keadaan Naura. Dia menatap tubuh Naura yang di penuhi luka lembam karna pukulan dari Gabryel.


Ronal mengelus wajah pucat Naura sambil menitikkan air matanya. Ingin sekali rasanya dia memberi pelajaran kepada putranya karna memperlakukan Naura begitu buruk. Tapi, dia juga tidak bisa menyalahkan Gabryel sepenuhnya. Karna bagaiamanapun dia dan istrinya juga salah karna terlalu memanjakan Gabryel. Bahkan Rini tidak pernah terima jika ada orang yang menilai buruk gabryel dan juga selalu menutupi keburukan Gabryel.


Sesampainya di rumah sakit dokter langsung memberikan penanganan kepada Naura. Ronal duduk seorang diri di kursi tungu lalu mencoba menghubungi Gabryel.


"Cepat ke rumah sakit sekarang." ucap Ronal sambil berusaha menahan amarahnya lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Bagaimana keadaan menantuku?" ucap Ronal langsung menghampiri dokter yang keluar dari ruang rawat Naura.


"Nyonya Muda baik-baik saja. Hanya saja dia sedang dalam tekanan sehinga membuatnya frustasi. Apa Nyonya Muda sedang ada masalah?" ucap Dokter yang menangani Naura.

__ADS_1


Melihat keadaan Naura, dokter itu mulai curiga jika hubungan rumah tanga Naura dengan Gabryel tidak baik-baik saja. Apalagi melihat luka lembab di tubuh Naura membuat dokter itu semakin curiga.


"Tidak! Menantu kami tidak ada masalah sama sekali. Mungkin penyakit sindromnya lagi kambuh." ucap Rini tiba-tiba datang.


Mendengar penjelasan Rini, dokter itu nampak terdiam sambil menatap Rini. Sebagai dokter, dia tau jika Naura tidak mungkin mengalami penyakit seperti itu. Karna tidak mau kelakuan putranya terbongkar Rini langsung mengancam dokter itu.


"Ingat tugasmu hanya merawat pasienmu. Jangan terlalu mencampuri urusan yang tidak seharysnya kau ketahui. Jika ada yang bertanya jawab saja jika Naura mengalami kecelakaan." ucap Rini menatap tajam dokter itu.


"Ingat! Aku bisa menghancurkanmu dengan mudah. Maka jangan sekali-kali mencari masalah dengan keluargaku." ucap Rini melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Naura.


Mendengar ancaman Rini, dokter itu hanya bisa terdiam. Sedangkan Ronal hanya bisa membuang napasnya pelan melihat kelakuan istrinya. Dia menatap dokter itu dengan tatapan yang tidak dapat di artikan lalu melangkahkan kakinya mengikuti Rini.


Mereka menatap Naura yang sudah sadar dan duduk bersandar dengan selang infus yang menempel di tangannya. Bukannya merasa kasihan, Rini malah mentap Naura penuh dengan keangkuhan.


"Apa kau ingin mencemarkan nama baik putraku?" ucap Rini menatap tajam Naura.


"Ma!" ucap Ronal menatap kesal istrinya.


"Maaf, Ma! Naura salah." ucap Naura menunduk sambil menitikkan air matanya.


Naura menatap ponsel yang ada di tangannya. Saat baru sadar dari pingsannya Naura melihat ada misi yang harus dia lakukan selanjutnya. Di mana dia harus minta maaf atas kesalahan yang dia lakukan.


"Sudah seperti ini baru minta maaf! Ingat, jika ada orang yang bertanya katakan kau kecelakaan." ucap Rini.


"Baik, Ma!" ucap Naura patuh.


"Apa yang terjadi?" ucap Gabryel menatap Naura yang yang duduk di atas bangsalnya.

__ADS_1


"Maaf, Mas. Aku salah karna melakukan kebodohan ini." ucap Naura menatap Gabryel mata berkaca-kaca.


"Naura! Kau tidak salah." ucap Ronal mendekati Naura.


"Tidak, Pa! Aku salah. Aku tidak seharusnya melakukan ini. Seharusnya aku menjaga nama baik suamiku. Tapi, aku malah bertindak bodoh dan mencelakai diriku sendiri. Jika oran tau pasti mereka akan berpikir buruk tentang Mas Gabryel. Aku mohon maafkan aku Mas, Ma." ucap Naura menatap Rini dan Gabryel dengan penuh permohonan.


"Tidak apa-apa! Yang penting sekarang kau baik-baik saja. Aku mohon jangan ulangi lagi ya." ucap Gabryel tersenyum lalu memeluk Naura dengan penuh kehangatan.


"Sudahlah! Sekarang kau lebih baik istirahat saja. Ingat jangan sampai kau mengulangi hal bodoh seperti ini lagi." ucap Rini membuang napasnya kasar.


"Baik, Ma." ucap Naura menunduk.


Melihat keadaan Naura, Ronal hanya mampu menatapnya dengan penuh rasa iba. Sebagai seorang manusia Ronal tidak bisa melihat Naura di perlakukan tanpa belas kasihan seperti itu. Bahkan di kesalahan Gabryel, Naura yang harus meminta maaf. Padahal selama ini tubuhnya selalu di jadikan bantalan tinju oleh Gabryel.


"Maaf, Aku sebentar lagi ada rapat penting. Kau di sini dulu ya. Nanti malam aku akan menemanimu di sini." ucap Gabryel lembut lalu mencium kening Naura.


"Papa akan menyuruh perawat untuk menemanimu di sini. Kau jangan bersedih lagi ya." ucap Ronal mengelus lembut rambut panjang Naura.


"Ia, Pa!" ucap Naura tersenyum.


"Kami pulang dulu. Kau tidak perlu banyak pikiran. Nanti mama akan membuatkan bubur untukmu." ucap Rini tersenyum.


Mendengar ucapan Rini, Naura hanya tersenyum menganguk. Dia menatap punggung suami dan kedua mertuanya yang belahan menjauh. Tapi, ntah mengapa melihat sikap baik suami dan juga mama mertuanya, perasaan Naura tiba-tiba menjadi tidak enak.


Tapi, perhatian Naura tiba-tiba teralihkan ketika melihat ponselnya yang berbunyi. Dengan cepat Naura mengambil ponselnya dan melihat pesan yang di berikan aplikasi itu.


"Selamat! Kau melakukan misimu dengan baik. Tinggal selangkah lagi kau akan mendapatkan hadiahmu dan kau akan segera terbebas dari misi ini."

__ADS_1


Naura membaca berulang kali pesan pemberitahuan dari aplikasi itu. Dia menatap uang di rekeningnya sudah mencapai seratus sembilan puluh enam rupiah. Tingal dua misi lagi dia akan terbesas dari ikatan misi itu dan mendapatkan seluruh uang yang di janjikan aplikasi itu. Naura tidak menyangka jika dia bisa melewati semua misinya dengan baik. Walaupun harus butuh banyak perjuangan tapi, Naura harus kuat sampai misi itu selesai.


Bersambung.....


__ADS_2