
Elissa terus berjalam mondar mandir di kamarnya. Dia menatap jam kini telah menunjuk ke pukul dua belas malam. Namun, Gabryel tidak kunjung pulang juga.
"Gabryel mana, Sih? Sudah dua hari dia tidak pulang," gumam Elissa mengepalkan tangannya geram, mengingat kelakuan Gabryel yang semakin menjadi.
"Apa mama sudah menghubunginya? Coba aku hubungi mama lagi," gumam Elissa mengambil ponselnya.
Namun, saat Elissa masih mencari nomor kontak Rini, dia tiba-tiba mendengar suara mobil Gabryel memasuki perkarangan mension mereka. Dengan cepat Elissa berjalan ke jendela dan memastikan jika itu memang Gabryel.
"Akhirnya dia pulang juga," gumam Elissa menatap Gabryel yang turun dari mobil.
Dia duduk di tepi ranjang sambil menunggu Gabryel. Tidak menunggu lama Gabryel akhirnya datang dengan penampilan yang berantakan. Tidak lupa dengan bau alkohol yang memenuhi tubuhnya sehingga membuat Elissa semakin geram.
"Gabryel! kau dari mana saja?" ucap Elissa menatap tajam Gabryel.
Mendengar ucapan Elissa, Gabryel hanya menatapnya sekilas lalu menghampaskan tubuhnya di atas kasur. Melihat Gabryel yang tidak mendengarkan ucapannya, emosi Elissa langsung memuncak.
"Gabryel! Apa kau mendengarku? Aku sedang bicara denganmu," teriak Elissa menatap tajam Gabryel yang berbaring di depannya.
"Aku lelah! Lebih baik kau diam," ucap Gabryel dingin sambil menatap tajam Elissa.
"Lelah! Kau bilang kau lelah? Yang ada aku yang lelah dengan sikapmu ini. Sudah dua hari kau tidak pulang. Kau kemana saja?" tanya Elissa menatap tajam Gabryel.
"Diam! Apa perlu aku membungkam mulut sialmu itu?" tanya Gabryel bangkit dari tidurnya sambil menunjuk wajah Elissa dengan penuh amarah.
"Kau kenapa, Mas? Kenapa setelah kepergian wanita itu kau berubah?"
Plakkk...
Satu tamparan langsung mendarat mulus di wajah Elissa. Dengan rasa penuh tidak percaya Elissa menatap Gabryel, sambil memegang wajahnya yang memanas karna tamparan Gabryel.
__ADS_1
"Naura! Itu nama wanita yang kau sebut. Dan perlu kau tau dia wanita yang sempurna. Bahkan dia jauh lebih baik darimu," ucap Gabryel menatap Elissa dengan penuh amarah.
"Aku menyesal karna telah menayikiti Naura dan menikahi wanita sampah sepertimu," ucap Gabryel kembali, sehingga membuat Elissa diam tidak berkutik sambil menitikkan air matanya.
Melihat Elissa yang berusaha menahan tangisnya, ingatan Gabryel tentang Naura kembali terputar di ingatannya. Dulu dia sering menjadikan Naura sebagai tempat pelampiasan amarahnya. Dia selalu memperlakukan Naura sebagai bantalan tinjunya. Bahkan dia sering mencaci dan juga menghina Naura.
"Naura! Maafkan aku, Sayang. A... Aku tidak sengaja melakukannya. Aku mohon maafkan aku," ucap Gabryel tiba-tiba melihat Elissa sebagai Naura.
"Tidak apa-apa, Mas! Aku lelah aku mau istirahat," ucap Elissa berusaha menahan tangisnya karna Gabryel selalu melihatnya sebagai Naura.
"Biar aku obati lukamu itu ya. Lihat, wajahmu memerah," ucap Gabryel mengambil salep di kotak obat lalu mengoleskannya di wajah Elissa.
"Naura! Kau cantik sekali, Sayang. Maafkan aku karna pernah menyakitimu," ucap Gabryel membelai lembut wajah Elissa.
Dengan penuh kelembutan Gabryel menjajah seluruh tubuh Elissa yang dia kira adalah Naura. Elissa yang mencium bau alkohol di tubuh Gabryel hanya bisa diam dan pasrah. Dia membiarkan Gabryel menjajah tubuhnya sambil menahan tangisnya.
Gabryel bergerak liar di atas tubuh Elissa. Dia melepaskan semua hasrat dan juga kerinduan yang selama ini dia pendam kepada Naura. Dia menatap wajah Elissa yang dia kira Naura sambil tersenyum puas.
Setelah puas melakuakan hubungan suami istri dengan Elissa. Gabryel langsung membaringkan tubuhnya di samping Elissa. Dia memeluk erat tubuh Elissa sambil terus bergumam memangil nama Naura hingga akhirnya dia terlelap dalam tidurnya.
Mendengar Gabryel terus memangil nama Naura, Elissa hanya bisa terdiam sambil menahan tangisnya. Dia mengepalkan tangannya geram dan mengangap Naura adalah biang kerok dari penderitaannya saat ini.
Keesokan paginya.
Gabryel terbangun dari tidurnya. Dia menatap Elissa yang tertidur di sampingnya dengan tubuh polos yang di baluti selimut. Berlahan Gabryel menatap dirinya yang juga tidak mengunakan sehelai benangpun. Hanya selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Berlahan Gabryel menyandarkan tubuhnya dan berusaha mengingat kejadiaan semalam. Yang dia tau dia semalam melakukan malam panas bersama Naura. Namun, kenapa sekarang yang tidur di sampingnya adalah Elissa? Berlahan Gabryel menatap seluruh sudut ruangan itu. Hingga akhirnya matanya terhenti di foto pernikahannya dengan Elissa.
Berlahan Gabryel mengingat jika istrinya saat ini adalah Elissa bukan Naura lagi. Gabryel langsung mengusap wajahnya kasar lalu memijit kepalanya pelan. Dia merasa sangat frustasi dengan perasaannya saat ini. Dimana dia selalu di hantui bayangan Naura dan juga rasa penyesalan yang menyelimuti hatinya.
__ADS_1
"Naura! Maafkan aku. Aku sangat menyesal," gumam Gabryel mengusap wajahnya kasar lalu menatap ke langit-langit kamarnya.
Berlahan Gabryel turun dari ranjangnya lalu berjalan menuju kamar mandi. Gabryel langsung menguyur tubuhnya dengan air dingin, sambil membayangkan semua kenangannya bersama Naura. Rasa bersalah dan juga penyesalan selalu menghantuinya, sehingga hidup Gabryel tidak pernah merasakan ketenangan dalam hidupnya.
Setelah selesai berdebat dengan pikirannya, Gabryel keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pingangnya. Dia berjalan menuju ruang ganti dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Saat keluar dari ruang ganti dia melihat Elissa yang telah duduk bersandar di ranjang mereka.
"Kau mau kemana, Mas?" ucap Elissa melihat penampilan Gabryel yang telah rapi.
"Aku mau ke kantor. Nanti malam kau tidak perlu menungguku," ucap Gabryel dingin sambil merapikan pempilannya.
"Apa kau tidak pulang lagi, Mas? Kenapa belakangan ini kau sering tidak pulang? Apa kau lupa jika di rahimku ada anakmu, Mas? Dia butuh sosok ayah untuk berada di sampingnya," ucap Elissa lirih.
"Aku harus bekerja, pekerjaanku sekarang lagi menumpuk. Jadi aku harus bekerja lembur dan menghabiskan waktuku di kantor. Kau tidak perlu manja seperti itu. Lagian mama selalu datang untuk menemanimu,"
"Tapi, Mas!"
"Maaf! Aku sebentar lagi ada rapat. Jadi aku tidak punya waktu untuk berdebat," ucap Gabryel melangkahkan kakinya meninggalkan Elissa.
"Arghhh.... Ini semua karna wanita mandul itu," teriak Elissa frustasi.
Elissa yang tidak bisa mengontrol dirinya, melemparkan semua barang yang ada di dekatnya sambil berteriak histeris.
"Naura! Naura, Naura. Kenapa selalu nama itu yang terucap dari mulutmu, Mas?" teriak Elissa menitikkan air matanya.
Setelah puas melampiaskan amarahnya, Elissa berlahan melangkan kakinya menuju ke kamar mandi. Dia menatap dadanya yang di penuhi bintang merah karna percumbuannya dengan Gabryel semalam. Walaupun itu terjadi karna Gabryel mengira jika Elissa adalah Naura.
Berlahan Elissa mengusap air matanya dan menatap pantulan dirinya dengan penuh amarah. Dia mengepalkan tangannya geram dan bersumpah akan menghancurkan kehidupan Naura. Baginya penderitaannya saat ini karna Naura. Walapun sebenarnya dialah yang menciptakan penderitaannya sendiri.
"Naura! Kau tidak akan bisa bahagia di atas penderitaanku. Kau lihat saja, aku akan menghancurkan kehidupanmu," gumam Elissa penuh amarah.
__ADS_1
Bersambung......