
Mbara terdiam melamun di dalam kamarnya. Dia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Raygan sahabatnya sebentar lagi akan menikah. Namun, dia sampai sekarang belum mengungkapkan perasaannya kepada Icha.
Dia tidak tau harus berbuat apa dengan perasaannya ini. Jika dia mengungkapkan perasaannya kepada Icha dia merasa sangat malu karena dulu dia selalu menolak Icha secara terang-terangan. Namun, jika dia terus memendan perasaannya dia pasti akan gila sendiri.
"Ya Allah! aku harus berbuat apa? aku mohon tunjukkanlah mukjizatmu," ucap Mbara mengacak-acak rambutnya frustasi.
Mbara berlahan mengambil ponselnya dan membuka sosial media Icha. Dia memperhatikan satu persatu foto Icha yang tercantum di sana. Ketika dia melihat foto Icha yang tersenyum dia langsung refleks tersenyum. Begitu juga sebaliknya. Hingga akhirnya tanpa Mbara sadari dia tertidur sambil memeluk foto Icha yang ada di ponselnya.
...----------------...
Keesokan paginya Mbara terbangun dari tidurnya. Dia menatap ponselnya yang telah tergeletak di bawah bantalnya. Karena hari ini hari minggu, Mbara memilih untuk pergi ke kediaman keluarga Wilona. Dia tidak tahan lagi memendam perasaannya sendiri lagi. Dia ingi meminta restu dari keluarga Wilona secepatnya.
"Aku harus segera melamar Icha! aku tidak sangup terus menerus menahan perasaanku sendirian. Bisa-bisa aku gila karena perasaan ini," ucap Mbara penuh keyakinan lalu bangkit dari tidurnya.
Dengan cepat dia membersihkan dirinya dan mengenakan pakaiannya. Dia menatap penampipannya di pantulan cermin sambilembuang napasnya kasar. Dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri dan akan berusaha sekuat tenanganya untuk meyakinkan keluarga Wilona.
"Aku pasti bisa! Aku harus bisa meyakinkan Tuan dan Nyonya besar. Tentu saja restu dari tuan muda yang paling utama," ucap Mbara merapikan kerah kemejanya.
Mbara berlahan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Dia berlari kecil sambil memutar-mutar kunci mobilnya mengunakan jari telunjuknya. Dia berharap niat baiknya untuk melamar Icha diterima dengan baik oleh keluarga Wilona. Dia memang hanya asisten pribadi dari Raygan.
Namun, dia memiliki gaji yang cukup besar sehingga dia yakin bisa memenuhi semua kebutuhan Icha. Bukan hanya itu, Mbara juga sudah memiliki fasilitas miliknya sendiri. Mulai dari rumah mewah yang dia tempati saat ini, mobil bahkan dia memiliki tabungan yang cukup banyak. Jadi, hidup Icha tidak akan terlantar jika menikah dengan Mbara.
Mbara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Untuk merilekskan pikirannya yang terus lari ntah kemanan dia menghidupkan musik sambil bernyanyi mengikuti iringan musik. Tidak menunggu lama akhirnya mobil Mbara memasuki area mension Wilona. Mbara turun dari mobilnya lalu menatap mension mewah itu sambil membuang napasnya kasar.
"Ma! Pa! doakan putramu ini. Aku ingin melamar menantu kalian. Jangan sampai lamaran ku di tolak secara mentah-mentah," batin Mbara menatap ke arah langit yang cerah.
"Mbara! ada apa? kenapa pagi-pagi seperti ini kau sudah datang ke sini? Biasanya kalau hari libur kau akan betah memeluk bantal gulingmu," ucap Raygan terkekeh kecil.
Raygan yang awalnya ingin pergi ke apartement Naura. Namun, saat melewati pintu utama dia melihat Mbara yang sudah datang ke mensionnya di pagi hari seperti ini.
__ADS_1
"Tuan mau kemana?" tanya Mbara melihat penampilan Raygan sudah rapi dan juga wangi.
"Aku mau ke apartement Naura. Kau mau ikut?" tanya Raygan.
"Em! apa tuan bisa menundanya sebentar saja? ada hal penting yang harus aku bicarakan," ucap Mbara sedikit menekankan suaranya karena takut.
"Apa sangat penting?" tanya Raygan menatap binggung wajah pucat Mbara.
"Ia, Tuan! sangat penting. Ini soal hidupku tuan," ucap Mbara terus menunduk tidak berani menatap wajah Raygan.
Raygan menatap lekat wajah Mbara. Dia dapat melihat kegugupan Mbara dengan begitu jelas. Wajah Mbara terlihat pucat, tangannya gemetaran bahkan dia tidak sanggup untuk mengangkat kepalanya. Karena penasaran apa yang membuat Mbara bisa seperti itu, Raygan akhirnya menunda niatnya untuk berkunjung ke apartement Naura.
"Baiklah! ayo masuk," ucap Raygan kembali melangkahkan kakinya memasuki mensionnya.
Mendengar ucapan Raygan, Mbara berlahan melangkahkan kakinya mengikuti Raygan. Tidak lupa dia berusaha membuang napasnya pelan sambil terus berdoa dalam hatinya. Bagi Mbara ini pertama kalinya dia menyatakan cintanya kepada wanita. Apalagi niatnya bukan hanya ingin menyatakan cintanya saja, tapi ingin melamar Icha secara langsung.
"Ayo duduk!" ucap Raygan melihat Mbara yang terus berdiri sambil menatap ke arah tangga.
"Mom! Ded!" teriak Raygan menangis kedua orang tuanya.
"Ada apa? kenapa pagi-pagi seperti ini kau sudah berteriak memanggil kami?" tanya Candra berjalan mendekati Raygan di ikuti Yulia di belakangnya, lalu duduk bergabung dengan mereka.
"Tuan! Nyonya," ucap Mbara menunduk hormat.
"Ada apa? sepertinya kau sedang ketakutan," ucap Yulia duduk di samping Candra.
"Ada sesuatu yang harus aku sampaikan, Tuan, Nyonya!" ucap Mbara mendunduk sambil *******-***** tangannya.
Melihat sikap Mbara yang terlihat sangat gugup, Yulia dan Mbara langsung saling lempar tatapan. Tidak biasanya Mbara seperti itu. Berlahan Yulia dan Candra menatap Raygan dengan penuh tanda tanya. Namun, Raygan hanya mengangkat kedua bahunya sebagai kode jika dia tidak tau apa-apa.
__ADS_1
"Ada apa? katakan saja," ucap Yulia mengerutkan keningnya sambil menatap kegugupan Mbara.
"Tapi Icha di mana ya?" tanya Mbara menatap ke seluruh sudut ruangan itu.
Dia mencari keberadaan wanita yang membuatnya menjadi seperti ini. Namun, dia tidak melihat ada jejak Icha di dalam mension itu.
"Icha sedang menemani Naura di apartementnya," jelas Raygan.
Mendengar ucapan Raygan, Mbara berlahan membuang napasnya pelan. Dia berusaha mengatur detak jantungnya yang sedari tadi berdetak secara tidak teratur. Dia menatap Yulia, Candra dan Raygan secara bergantian. Dia menarik napasnya pelan lalu mengatakan tujuannya datang ke mension keluarga Wilona.
"A.. aku ingin melamar Icha menjadi istriku," ucap Mbara menunduk sambil memejamkan matanya tidak sangup menatap ketiga majikannya itu.
"Apa!" teriak Raygan, Candra dan Yulia serentak sambil membulatkan mata mereka terkejut.
"A... aku tau aku hanya karyawan kalian. Tapi aku sangat mencintai Icha. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku berjanji akan membahagiakan Icha sekuat tenagaku. Aku akan bekerja lebih giat lagi agar Icha bisa hidup dengan layak," ucap Mbara menatap Raygan, Yulia dan Candra dengan tatapan penuh permohonan.
Mendengar ucapan Mbara. Raygan, Candra dan Yulia langsung saling lempar pandangan. Mereka tau Mbara memang hanya asisten pribadi Raygan. Bahkan dia adalah karuan kepercayaan keluarga Wilona. Namun, mereka tidak tau harus berkata apa. Karena mereka tidak berhak untuk mendagatur kehidupan Icha apalagi masalah jodoh. Icha berhak memilih pendamping hidupnya sendiri.
"Maaf! kami tidak bisa memberikan keputusan secara sepihak. Ini adalah tentang kehidupan Icha, jadi biar Icha yang menentukannya. Untuk sekarang kami mohon lupakan masalah ini terlebih dulu. Kita fokus dengan masalah pernihakan Naura dan Raygan terlebih dulu," ucap Yulia menatap lekat Mbara.
"Mommy benar!" ucap Raygan tersenyum.
"Kau simpan saja perasaanmu itu sampai hari pernikahanku," ucap Raygan tersenyum.
"Tapi, Tuan!"
"Tidak ada tapi-tapian. Lebih baik sekarang kau temani aku menemui tambatan hatiku," ucap Raygan menarik Mbara keluar dari mensionnya.
"Menunggu sampai hari pernikahan? aku bisa gila!" batin Mbara merenungi nasibnya seorang diri.
__ADS_1
Bersambung......