
Mbara memberikan sebuah dokument yang berisi informasi tentang, data pemilik mobil yang Raygan temukan bersama mobil Naura. Raygan membaca dokument itu dengan teliti sambil mengepalkan tangannya geram.
"Mereka adalah pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan keji, Tuan. Aku sudah mencari tau semua tentang mereka, Tuan," ucap Mbara memberikan beberapa foto para pembunuh bayaran itu.
"Dia adalah ketua dari kelompok mereka. Dia terkenal kejam dan tidak memiliki belas kasihan kepada korbannya, Tuan," ucap Mbara menujuk ke arah foto ketua para berandal itu.
"Naura! aku harap kau baik-baik saja sayang," ucap Raygan menutup wajahnya mengunakan kedua tangannya.
Dia terus menangis dan berdoa agar Naura baik-baik saja. Dia pasti tidak bisa memaafkan dirinya jika sampai terjadi sesuatu kepada Naura.
"Lalu bagaimana dengan noda merah yang ada di belati itu? itu bukan noda darah Naura 'kan?" tanya Raygan menatap Mbara dengan mata memerahnya.
"Kalau noda darah itu," ucap Mbara tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Katakan!" ucap Raygan sedikit meninggikan suaranya.
"Itu benar noda darah Nyonya, Tuan," ucap Mbara menunduk ketakutan.
Duarr...
Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Jantung Raygan langsung berdetak kencang mendengar ucapan Mbara. Dia langsung memegang dadanya sambil menangis histeris, membayangkan jika Naura benar-benar meninggalkannya untuk selamanya.
"Kau pasti berbohong, Mbar. Darah itu tidak mungkin noda darah Naura. Itu tidak mungkin!" ucap Raygan menatap Mbara sambil terkekeh kecil dan menangis.
"Maaf, Tuan! Tapi noda darah itu memang noda darah Nyonya. Tapi saya punya berita lain tuan," ucap Mbara berusaha menenangkan Raygan.
"Setelah saya mendapatkan semua data tentang para pembunuh bayaran itu. Tiba-tiba datang mereka langsung menghilang, dan tidak bisa di cari lagi, Tuan. Sepertinya ada seseorang yang memang berniat menghilangkan semua data mereka. Bahkan sekarang lokasi mobil Nyonya sekarang telah bersih, Tuan. Mobil Nyonya dan juga mobil para pembunuh bayaran itu tiba-tiba menghilang. Lokasi itu juga sudah sangat bersih seperti tidak pernah terjadi sesuatu di sana," jelas Mbara kembali.
"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Apa mungkin itu semua rencana para pembunuh itu, untuk menghilangkan jejak mereka?" tanya Raygan mencoba berpikir.
__ADS_1
"Sepertinya tidak, Tuan. Aku yakin ada orang lain di balik semua ini. Apa tuan ingat jika tuan bilang ada nomor mistirius yang mengirim pesan pada tuan?"
"Benar! Tapi anehnya setelah memberi pesan itu, tiba-tiba nomor itu tidak bisa di hubungi lagi,"
"Aku curiga jika hilangnya Nyonya ada hubungannya dengan nomor itu, dan juga aplikasi mistirius yang ada di ponsel Nyonya. Saya telah mencocokkan nomor yang mengirim pesan kepada Tuan, dan nomor yang mengirim aplikasi misi itu kepada Nyonya. Hasilnya sama tuan. Anda mendapat pesan dari orang mistirius yang mengirimkan aplikasi itu kepada Nyonya,"
"Apa kau tidak bisa mencari informasi tentang nomor itu. Atau mencari tau siapa pemilik nomor itu?"
"Maaf, Tuan! Untuk itu saya belum bisa melakukannya. Sudah berulang kali saya mencobanya tapi tetap gagal. karena nomor itu memiliki keamanaan yang cukup kuat,"
Mendengar ucapan Mbara, Raygan hanya mampu membuang napasnya pelan. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi sambil menatap langit-langit kamarnya. Tidak ada yang lain di pikirannya saat ini selain keselamatan Naura.
"Apa kau sudah menyuruh ditektif handal untuk mencari keberadaan Naura?" tanya Raygan kembali.
"Sudah, Tuan! Saya sudah menyuruh beberapa ditektif untuk menyelidiki keberadaan Nyonya,"
"Bagus! Jika bisa pangil semua ditektif handal untuk mencari keberadaan Naura. Untuk biayanya kau tidak perlu khawatir. Aku tidak perduli dengan hartaku saat ini. Yang aku perdulikan hanya cara agar Naura bisa kembali bersamaku," ucap Raygan mengusap air matanya.
"Kalau begitu kau keluarlah. Aku butuh waktu untuk sendiri," ucap Raygan mengambil foto Naura yang ada di laci, lalu menatapnya dengan penuh kerinduan.
Melihat keadaan tuan mudanya itu, Mbara hanya mampu menatapnya dengan penuh rasa iba. Karena dia juga tau hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah, kehilangan orang yang kita cintai. Mbara berlahan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Raygan. Dia ingin memberi waktu kepada Raygan untuk menenangkan dirinya.
Melihat Mbara yang keluar dari ruang kerja Raygan. Yulia dan Icha langsung menghampirinya dan menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
"Kak! bagaimana? apa kalian sudah menemukan Kak Naura?" tanya Icha menatap Mbara dengan penuh harapan.
"Belum!" ucap Mbara sambil memijit keningnya pelan.
"Lalu Raygan bagaimana?" tanya Yulia menghawatirkan keadaan putranya.
__ADS_1
Karena setelah mengilangnya Naura, Raygan menjadi sangat tertutup. Dia selalu menghabiskan waktunya di kamar dan juga di ruang kerjanya. Bahkan Yulia sering memergoki Raygan menangis sambil memeluk foto Naura.
"Tuan sedang ingin sendiri, Nyonya. Lebih baik untuk saat ini kita jangan mengangunya. Biarkan dia sendiri agar pikirannya lebih tenang," ucap Mbara.
"Baiklah! Kau terus cari keberadaan Naura ya. Bawa dia secepatnya untuk berkumpul lagi bersama kita. Tante takut jika Naura tidak di temukan maka.... " ucap Yulia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.
"Aku akan berusaha sekuat tenangaku, Tante," ucap Mbara tersenyum.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya, Tante," ucap Mbara pamit undur diri.
"Kak! Cari Kak Naura sampai ketemu ya," ucap Icha menatap Mbara dengan tatapan penuh permohonan.
"Kakak akan berusaha sekuat tenaga kakak. Jangan lupa bantu dengan doa ya," ucap Mbara tersenyum.
"Itu sudah pasti, Kak!" ucap Icha menitikkan air matanya.
Bukan hanya Raygan, tapi mereka semua juga merindukan Naura. Mereka selalu berdoa agar Naura bisa cepat kembali berkumpul dengan mereka. Tanpa kehadiran Naura menssion yang besar itu terasa sangat hampa.
Tidak ada lagi aroma masakan yang membangunkan seisi menssion. Tidak ada lagi gelak tawa dan juga canda ria yang membuat suasana menssion itu menjadi berwarna. Hilangnya Naura membuat kebahagiaan keluarga Wilona juga menghilang.
"Tante!" ucap Icha memeluk Yulia sambil menitikkan air matanya.
"Kau tenang saja. Naura pasti baik-baik saja. Dia adalah wanita yang baik. Tante yakin Allah akan selalu melindunginya dimana pun dia berada," ucap Yulia megelus lembut rambut Icha.
"Icha janji, jika Kak Naura bisa kembali berkumpul bersama kita secepatnya. Icha akan berpuasa selama sebulan penuh. Icha rela berpuasa dan menahan diri dari godaan makanan-makanan yang sangat lezat itu. Asalkan Kak Naura bisa berkumpul dengan kita lagi," ucap Icha menenggelamkan wajahnya di dada Yulia.
"Aamiin! Semoga Naura bisa secepatnya berkumpul dengan keluarga kita," ucap Yulia menatap ke atas langit dengan tatapan penuh harapan.
Yulia sangat menyayangi Naura. Kehilangan Naura baginya sama saja kehilangan putri kesayangannya. Sebagai seorang ibu Yulia berharap jika Naura baik-baik saja dan bisa kembali berkumpul dengan mereka secepatnya.
__ADS_1
Bersambung.....