
Tak terasa kehamilan Naura semakin membesar saja. Raygan sang suami selalu setia berada di samping Naura untuk menemani sang istri. Waktu kelahiran Naura tinggal menunggu hari lagi, jadi sebagai suami Raygan memilih untuk lebih fokus merawat istrinya tercinta.
"Sayang!" ucap Naura menuruni anak tangga dengan pelan.
Terlihat semua tubuhnya sudah membengkak. Terlebih lagi perutnya yang besar membuat Naura kesulitan untuk berjalan.
"Sayang! kau mau apa?" tanya Raygan dengan cepat menghampiri Naura dan membantunya untuk berjalan.
"Aku bosan di kamar terus. Aku mau jalan-jalan,"
"Jalan-jalan! kemana?"
"Di taman dekat menssion saja. Aku harus banyak bergerak agar mudah saat melahirkan nanti,"
"Kalau di taman menssion tidak apa-apa! biar aku temenin ya,"
"Ok, Sayang! Terima kasih ya," ucap Naura tersenyum gembira lalu kembali melangkahkan kakinya.
Raygan menatap haru perubahan tubuh sang istri. Sungguh berat perjuangan seorang ibu untuk melahirkan buah hati mereka. Bahkan dia harus mengorbankan tubuh indahnya agar bisa melihat si buah hati terlahir ke dunia ini.
"Sayang! aku capek. Mau minum," ucap Naura nampak kelelahan.
Mendengar ucapan Naura, Raygan langsung terdiam dan menatap ke arah tangga. Padahal mereka belum sampai ke pintu utama. Namun, Naura sudah terlihat sangat kelelahan.
"Baiklah! aku ambilkan minum dulu ya," ucap Raygan bergegas ke dapur untuk mengambilkan minum untuk Naura.
"Ini!" ucap Raygan memberikan air mineral untuk Naura.
Dengan cepat Naura mengambil air mineral yang ada di tangan Raygan lalu menengaknya sampai habis.
"Ini!" ucap Naura memberikan gelas kosong kepada Raygan lalu kembali melangkahkan kakinya.
Raygan dengan penuh kesabaran menemani Naura. Namun, saat melewati pintu utama Naura tiba-tiba merasakan kram pada perutnya.
__ADS_1
"Aw!" pekik Naura sehingga membuat Raygan yang ada di belakangnya langsung panik.
"Ada apa, Sayang?" ucap Raygan langsung memeriksa perut Naura.
"Perutku kram! Aw!" ucap Naura semakin merintih karena kontraksi pada kandungannya semakin meningkat.
"Sayang! air ketubanmu sudah pecah!" ucap Raygan panik ketika melihat air yang mengalir di ************ Naura.
Tidak mau membuang-buang waktu, Raygan langsung membawa Naura kedalam gendongannya. Satpam yang melihat itu langsung sigap mengambil mobil dan membawa Naura ke rumah sakit. Bahkan Raygan sampai lupa memberitahu Yulia dan Candra. Akan tetapi para pelayan yang mengetahui itu langsung sigap memberi kabar baik itu kepada Yulia dan Candra.
"Argh! sakit, sayang," rintih Naura sambil mengengam tangan Raygan.
"Kau yang sabar, Sayang. Sebentar lagi kita sampai," ucap Raygan panik sambil mengelus lembut perut buncit Naura.
"Bisa di percepat jalannya. Istriku sudah sangat kesakitan," ucap Raygan lirih tidak sanggup mendengar rintihan Naura.
"Baik, Tuan!" ucap Satpam mempercepat laju mobilnya.
Hingga akhirnya mobil mereka berhenti di depan rumah sakit. Dengan cepat satpam itu meminta pertolongan kepada para suster yang ada di sana. Sedangkan Raygan langsung berlari memasuki rumah sakit sambil mengendong Naura.
Melihat itu para suster dan juga dokter yang biasa memeriksa kandungan Naura langsung berlarian keluar. Raygan dengan cepat meletakkan tubuh Naura di atas brankar dorong yang di bawa oleh para suster.
"Kau yang kuat ya, Sayang. Demi buah cinta kita," ucap Raygan mengengam tangan Naura sambil menitikkan air matanya.
Dokter langsung membawa Naura ke ruang persalinan dan memberikan penangan yang terbaik untuk Naura. Dokter memeriksa keadaan Naura dengan teliti dan juga keadaan kandungannya.
"Nyonya masih pembukaan tujuh. Setelah jalan bayinya semua telah terbuka baru dia bisa melahirkan bayinya," jelas Dokter itu menatap Raygan.
"Masih pembukaan tujuh? tapi istriku sudah sangat kesakitan. Kita harus menunggu berapa lama lagi, Dok?" ucap Raygan panik.
"Sebentar lagi, Tuan. Anda harus bersabar dulu. Lebih baik anda temani nyonya dan tenangkan dia. Karena bagaimanapun dukungan anda adalah semangat untuknya," ucap Dokter itu tersenyum.
Mendengar ucapan Dokter, Raygan langsung menghampiri Naura. Dia membelai lembut puncak kepala Naura dan mencium keningnya dengan lembut.
__ADS_1
"Sakit ya sayang! kau oprasi saja ya. Aku yakin jika oprasi kau tidak akan merasakan sakit seperti ini," ucap Raygan menitikan air matanya sambil menghapus keringat Naura yang membasahi keningnya.
"Tidak! aku bisa melahirkan normal. Aku akan melahirkan bayi kita secara normal," ucap Naura tegas sambil menahan sakitnya.
"Lebih baik nyonya berjalan sambil berjongkok. Agar jalannya cepat terbuka," ucap Dokter memberi saran.
"Baik, Dok!"
Naura langsung bangkit dari tidurnya lalu turun dari bangsalnya. Raygan dengan sigap membantu Naura dan selalu memberikan dukungannya. Dia mengengam erat kedua tangan Naura dan membantunya berjalan sambil berjongkok. Bahkan Raygan juga membantu Naura mengunakan brith ball agar pembukaannya lebih cepat.
Raygan juga dengan penuh kesabaran memijit dan menenangkan Naura saat kontraksi kandungannya semakin kuat. Bahkan Raygan tidak mau meninggalkan Naura walaupun hanya sedetik saja. Dia selalu berada di sambung Naura dan menyaksikan perjuangan istrinya untuk melahirkan bayi mereka.
"Jalannya sudah terbuka semua. Nyonya bersiap nya. Ikuti perintah saya,"
Mendengar ucapan Dokter, Naura langsung mengantuk pelan. Dia mengengam erat tangan Raygan dan mersiap untuk mengikuti aba-aba dari Dokter.
"Gunakan semua tenanga nyonya. Nyonya harus kuat demi tuan muda. Ikuti aba-aba dari saya. Sekarang tarik napas nyonya, lalu buang pelan. Tarik... buang... tarik.... Dorong... "
"Arrrgghhhh!"
Oea.... Oe.....
Berlahan ruangan itu di penuhi dengan suara tanggusan bayi manggil yang sangat imut. Naura langsung membaringkan tubuhnya dengan keringat yang bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Sedangkan Raygan tidak henti-hentinya mengucap syukur dan menciumi wajah Naura dengan lembut.
"Terima kasih, Sayang," ucap Raygan menitikan air matanya sambil menelengkupkan wajahnya di leher jenjang Naura.
"Selamat tuan! bayinya terlahir sehat dan juga tampan," ucap Dokter memberikan bayi mungil mereka yang sudah di bersihkan.
"Alhamdulillah! Terima kasih ya Allah," ucap Raygan mengucap syukur dan mencium lembut wajah gembul putranya.
Dengan cepat Raygan mengomandangkan Adzan di telinga putranya. Naura hanya mampu menatap hari Raygan yang mengomandangkan adzan dengan begitu lantangnya. Sehingga ruangan itu di penuhi suara adzan yang di komandangkan Raygan dengan begitu merdunya.
Setelah itu, Naura langsung di pindahkan ke ruang rawat. Semua tekan keluarga yang mengetahui itu langsung datang berbondong-bondong untuk melihat bayi manggil itu. Bahkan Rocky dan Ronal sudah menyiapkan hadiah terbaik mereka untuk menyambut kedatangan tuan kecil mereka.
__ADS_1
Bersambung....