
"Tuan! makanlah. Kau belum makan sejak tadi pagi," ucap Mbara sebungkus makanan kepada dan juga air minumnya kepada Raygan.
"Tidak! kau makan saja sendiri," ucap Raygan terus menatap wajah Naura.
Mendengar penolakan Raygan, Mbara langsung membuang napasnya kasar. Dia tidak tau harus berbuat apa lagi dengan sikap Raygan yang keras kepala.
"Sudah! jika tuan tidak mau makan terserah tuan saja. Aku sudah lelah memperingatkan tuan untuk makan. Tapi tuan tida pernah mau mendengarkanku. Sekarang terserah tuan saja. Tuan mau makan atau tidak aku tidak perduli lagi," ucap Mbara kesal sambil meletakkan dengan kasar makanan yang ada di tangannya ke atas meja.
Melihat sikap Mbara, Raygan langsung menatapnya penuh kebingungan. Raygan tidak menyangka jika Mbara seberani itu kepadanya. Bahkan Raygan dapat melihat wajah Mbara yang sangat kesal kepadanya.
"Nyonya! nyonya dengar sendiri 'kan jika tuan tidak mau makan. Jadi! jika terjadi sesuatu kepadanya jangan salahkan aku. Nyonya salahkan saja kekasih nyonya yang keras kepala ini. Untuk mengisi perutnya saja aku harus mengemis kepadanya. Sekarang aku sudah lelah. Karena aku sudah tau jika dia sama sekali tidak mencintai nyonya," ucap Mbara kesal sambil mengajak Naura untuk bicara.
"Kenapa kau bicara seperti itu, Mbar? aku sangat mencintai Naura," ucap Raygan menatap tajam Mbara.
"Cinta? ini yang tuan bilang cinta. Apa tuan tidak melihat jika nyonya sedang sakit? Tapi tuan malah menyiksa diri tuan sendiri. Coba tuan bayangkan jika tuan tidak makan, maka tuan akan sakit. Jika tuan sakit siapa yang akan berada di samping nyonya? apa tuan memikirkan itu? Tidak! tuan hanya memikirkan kesedihan tuan saja. Tuan tidak memikirkan nyonya sama sekali," ucap Mbara dengan berani menunjuk wajah Raygan.
Bukannya marah dengan ketidak sopanan Mbara, Raygan malah nampak terdiam memikirkan ucapan Mbara. Dia menatap Mbara dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Baiklah! Aku akan makan," ucap Raygan membuang napasnya kasar.
Dia duduk di kursi lalu melahap makanan pemberian Mbara dengan begitu lahapnya. Melihat Raygan yang sudah mau makan Mbara langsung tersenyum kecil. Namun, Tiba-tiba senyumannya tiba-tiba memudar ketika melihat Naura yang tiba-tiba seperti sesak napas.
"Tu.. tuan! Nyonya kenapa?" tanya Mbara panik sambil menunjuk ke arah Naura.
"Sayang! kau kenapa?" tanya Raygan panik sambil mengengam tangan Naura.
"Cepat panggil dokter!" perintah Raygan panik.
"Baik, Tuan!" ucap Mbara langsung berlari keluar untuk mencari pertolongan.
"Ada apa?" tanya Rocky kebetulan kembali ingin melihat keadaan Naura.
__ADS_1
"Saya tidak tau, Tuan. Tiba-tiba Naura seperti ini," ucap Raygan meneteskan air matanya.
"Maaf, Tuan! silahkan kalian tunggu di luar dulu," ucap suster memberikan ruang kepada dokter untuk memeriksa keadaan Naura.
"Tapi, Sus!" ucap Raygan menatap Naura dengan lekat.
"Ray! ayo," ucap Rocky menarik tangan Raygan untuk keluar.
Raygan akhirnya mengalah. Dia ikut bersama Mbara dan Rocky untuk menunggu di ruang tunggu. Mereka menunggu hasil pemeriksaan dari dokter dengan penuh kecemasan. Mereka dudul terdiam sambil terus berdoa untuk keselamatan Naura.
"Bagaimana keadaan Naura, Dok?" tanya Raygan panik ketika melihat dokter keluar dari ruangan Naura.
"Nyonya muda sedang kritis. Kami sudah mberikan penanganan terbaik untuknya. Aku harap kalian terus berdoa untuk keselamatan nyonya," ucap Dokter itu menunduk sedih.
"Kurang hajar! ini semua karena wanita itu. Aku harus secepatnya memberikan pelajaran kepadanya," batin Rocky kesal lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit.
"Apa! Naura baik-baik saja 'kan, Dok? dia akan segera sembuh dan sadar dari komanya 'kan?" tanya Raygan sambil meneteskan air matanya.
"Maaf! aku tidak bisa memastikannya. Tapi kami akan berusaha semampu kami," ucap Dokter menunduk sedih lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Raygan.
"Ini semua karena wanita itu. Aku akan memberi pelajaran kepadamu, Kali ini aku tidak akan memperdulikan kandunganmu lagi," batin Raygan mengepalkan tangannya geram lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit.
"Pangil mama dan Icha. Suruh mereka menjaga Naura. Aku ada urusan penting," ucap Raygan lalu kembali melangkahkan kakinya.
"Ba... baik, Tuan!" ucap Mbara menunduk tidak berani menatap Raygan.
Raygan langsung melangkah kakinya menuju mobilnya. Tidak mau membuang-buang waktu Raygan langsung melakukan mobilnya menuju tempat penyekapan Elisa dengan cepat. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan kilat, hingga akhirnya kini dia telah sampai di tempat penyekapan Elisa.
Melihat tuan muda mereka datang. Para pengawal yang bertugas berjaga di sana langsung menyambutnya kedatangannya. Namun, Raygan tidak memperdulikan para pengawalnya. Dia langsung melangkahkan kakinya ke ruang penyekapan Elisa. Dia menatap tubuh lemah Icha dengan tatapan penuh kebencian.
Plakkk....
__ADS_1
Arghhhh...
Pekik Elisa ketika Raygan melayangkan tamparannya ke wajah Elisa. Bukan hanya sekali, Raygan melakukan itu berkali-kali hingga akhirnya tubuh Elisa tergeletak lemas di lantai.
"Kau memang wanita iblis. Manusia berhati iblis sepertimu tidak pantas untukmu di kasi hati," ucap Raygan geram lalu menodongkan pistolnya tepat di kepala Elisa.
Elisa yang melihat pistol Raygan yang menempel di kepalanya, Elisa hanya mampu menahan tangisnya. Tinggal sekali gerakan jari telunjuk Raygan nyawanya akan segera melayang.
...----------------...
Rini yang sedang meringkuk merenungi nasibnya. Tiba-tiba mendengar suara hentakan sepatu yang sangat menyeramkan berlahan mendekatinya. Dia berusaha menatap sepatu mahal yang kini berada di depannya. Berlahan dia menatap ke atas dan melihat wajah menyeramkan Rocky.
"Kau!" ucap Rini lemah sambil berusaha menatap wajah Rocky.
"Aku tidak menyangka jika sahabatku akan menikah dengan wanita iblis sepertimu. Aku sudah berusaha memberikan kesempatan untukmu. Tapi aku sadar jika wanita berhati iblis sepertimu tidak pantas di beri kesempatan," ucap Rocky menatap tajam Rocky.
"Ma... maafkan aku! Aku melakukan itu karena Naura selalu menganggu keluarga putraku," ucap Rini tetap tidak menyadari kesalahannya.
Mendengar ucapan Rini, Rocky langsung tersenyum sinis. Dia menatap tajam Rini dan berjongkok di depan Rini lalu menjambak keras rambut Rini.
"Arghh... " pekik Rini sambil memegang tangan Rocky yang menjambak rambutnya.
"Asal kau tau, nyonya muda tidak pernah menggangu hidupmu. Tapi kau yang merasa dia mengangumu, karena rasa iri dan dengki yang menguasai hatimu. Apa kau tidak sadar jika selama ini kau yang terus mengangu hidupnya. Bahkan kau selalu menyakitinya dan terus berusaha menjatuhkannya. Tapi usahamu terus gagal dan membuatmu jatuh ke perangkap muda sendiri," ucap Rocky tersenyum lalu mengambil senjata apinya.
Dia langsung menodongkan senjata apinya tepat di kepala Rini. Dengan sekali gerakan jari telunjuknya maka peluru yang ada di pistol itu akan menembus isi kepala Rini.
"Kau tidak akan berhenti menyalahkan nyonya muda, jika kau masih hidup di dunia ini. Wanita iblis seperti dirimu tidak akan pernah sadar dengan kesalahanmu sendiri," ucap Rocky tersenyum sinis lalu bersiap menembakkan senjatanya.
Rini hanya mampu memejamkan matanya bersiap untuk menerima tembakan dari Rocky. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena tidak akan ada yang bisa membantunya saat ini.
Tiga nyawa sedang berada di ujung tanduk dalam satu malam ini. Mereka berharap akan ada mukjizat yang menyelamatkan nyawa mereka untuk saat ini. Namun, tidak akan ada yang tau apakah mereka masih mendapat kesempatan itu. Naura berjuang untuk menghadapi masa kritisnya. Sedangkan nyawa Rini dan Elisa berada di tangan Raygan dan Rocky yang sedang di landa amarah.
__ADS_1
Bersambung....