
Mendengar ucapan Gabryel, Rini langsung menatap Gabryel dengan penuh rasa tidak percaya. Dia tidak menyangka jika Gabryel berani menjawab ucapannya seperti tadi.
"Gabryel!" teriak Rini bangkit dari duduknya.
"Sudah, Ma! Aku lelah, aku mau istrirahat," ucap Gabryel melangkahkan kakinya meningalkan Rini dan Elissa.
"Gabryel! mama belum selesai," teriak Rini berusaha mengejar Gabryel.
"Sudah, Ma. Mungkin Gabryel sedang banyak pikiran," ucap Elissa berusaha membujuk Rini.
"Mama heran, kenapa Gabryel bisa berubah seperti itu. Padahal dia selalu menuruti ucapan mama," ucap Rini membuang napasnya kasar lalu duduk di samping Elissa.
"Aku tau kenapa Mas Gabryel bisa berubah seperti ini, Ma,"
"Maksudmu apa?"
"Ini pasti karna wanita mandul itu. Apa mama tau semalam Gabryel tiba-tiba memangilku dengan sebutan nama Naura,"
"Apa! dasar wanita mandul itu. Kenapa dia selalu membuat masalah, Sih?" ucap Rini langsung menyalahkan Naura.
"Wanita itu memang pembawa sial, Ma. Kita harus memikirkan cara agar dia pergi jauh dari kehidupan Gabryel."
"Kau benar! kau harus berusaha menjadi istri yang baik untuk Gabryel. Kau harus bisa mengambil hatinya agar dia bisa melupakan Naura,"
"Maksud mama?"
"Kau harus membuat Gabryel terkesan. Mama yakin kau lebih baik dari Naura. Mulai sekarang kau harus membiasakan diri untuk mengurus Gabryel. Kau harus menyiapkan semua kebutuhan Gabryel. Kau juga harus belajar memasak untuk Gabryel"
"Apa! tapi aku bukan bukan pembantu, Ma. Aku tidak mau," ucap Elissa to the point.
"Mengurus suami itu bukan tugas pembantu, Sayang. Tapi, tugasmu sebagi istri," ucap Rini tegas.
"Tapi dulu mama tidak mengatakan itu. Dulu mama cuman bilang aku hanya perlu memberikan pewaris untuk kalian,"
"Tapi, Sayang,"
"Maaf, Ma. Aku tidak bisa menuruti perintah mama. Aku tidak mau kukuku nanti rusak karna harus memasak dan menyediakan semua keperluan Gabryel. Lagian untuk apa semua pembantu, jika aku juga harus turun tangan untuk memasak dan mengurus semuanya,"
__ADS_1
Mendengar ucapan Elissa, Rini hanya mampu membuang napasnya kasar. Dia tidak tau harus berkata apa lagi kepada menantu kesayangannya itu.
...----------------...
Setelah selesai mandi, Naura keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya mengunakan handuk. Raygan yang sedang duduk bersandar di atas ranjangnya melirik Naura sambil tersenyum kecil.
"Kau tidak mandi?" tanya Naura melihat Raygan yang masih betah menatap ponselnya.
"Kau sudah selesai? kalau begitu aku akan mandi," ucap Raygan bangkit dari duduknya.
"kau tidak membawa handuk?" ucap Naura melihat Raygan yang masuk ke kamar mandi tanpa membawa handuk.
"Oh ia! aku lupa," ucap Raygan melangkahkan kakinya menuju lemari yang ada di belakang Naura.
"Biar aku yang ambilkan. Dimana?" tanya Naura membuka lemari Raygan.
"Itu yang paling atas,"
mendengar ucapan Raygan, Naura langsung mengambil handuk Raygan dan memberikannya kepadanya.
"Ini,"
Raygan tiada hentinya menciummi handuk yang di berikan Naura. Dia mencium aroma tangan Naura yang melekat pada handuk itu sambil tersenyum sendiri.
"Naura! kau memang berbeda," gumam Raygan lalu menguyur tubuhnya mengunakan air hangat yang sudah di siapkan Naura.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Raygan langsung keluar dengan mengunakan handuk yang melilit di pingangnya. Dia tidak melihat keberadaan Naura di dalam kamarnya. Raygan menatap ke seluruh sudut kamar, hingga mata Raygan berhenti ke pakaian yang telah di letakkan Naura di atas kasur.
Melihat perlakuan Naura, Raygan berlahan melingkarkan senyumannya. Perhatian Naura yang sangat kecil seperti itu mampu membuat hati Raygan semakin berbunga-bunga. Raygan dengan penuh semangat mengenakan pakainnya yang telah di siapkan Naura.
Tidak lupa, Raygan juga menatap dirinya di pantulan cermin untuk merapikan penampilannya. Setelah memastikan penampilannya sempurna, Raygan berlahan melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Di saat memasuki ruang makan, Raygan melihat penampakan yang sangat indah. Dia melihat Naura sedang sibuk menata makanan di atas meja makan bersama Yulia.
"Morning, Mom!" ucap Raygan tersenyum sambil merangkul pingang Yulia.
"Morning, Boy!" ucap Yulia tersenyum lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Raygan melirik Naura yang sedang sibuk menata makanan dengan begitu serius. Dia segaja tampil beda agar Naura menatapnya. Akan tetapi jangankan menatap, menoleh padanya saja tidak. Karena luka di masa lalu membuat Naura engan untuk membuka hatinya lagi. Dia takut jika dia akan salah untuk memilih pasangan, dan mengalami penderitaan yang sama lagi.
__ADS_1
"Wah! wangi sekali. Aku jadi lapar," ucap Icha menatap berbagai macam jenis masakanan yang telah tertata rapi di atas meja.
"Dasar! Taunya cuman makan saja. Bukannya nembantu," ucap Raygan kesal melihat tingkah adik sepupunya itu.
"Kak Raygan apaan, Sih? Sewot amat," ucap Icha tidak peduli lalu duduk dengan santainya.
Icha menatap berbagai jenis makanan di depannya dengan mata yang berbinar. Icha berusaha menelan ludahnya kasar lalu mengambil piring kosong, dan bersiap untuk menyantap makanan yang sangat mengoda itu.
"Kau mau makan apa, Cha?" ucap Naura mengisi piring Icha.
"Aku ambil sendiri saja, Kak," ucap Icha melihat piringnya yang sudah di isi nasi oleh Naura.
"Baiklah! Ini air minummu," ucap Naura memberikan gelas yang telah diisi air mineral oleh Naura.
"Terima kasih, Kak," ucap Icha tersenyum.
Melihat perhatian Naura, Raygan berlahan tersenyum kecil. Naura wanita yang sangat sabar dan memiliki sifat keibuan. Dia yakin jika dia bisa mendapatkan Naura hidupnya akan selalu di penuhi kebahagiaan.
"Kau mau makan apa?" ucap Naura mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauknya.
"Terserah kau saja," ucap Raygan tersenyum.
"Ini! semoga kau suka," ucap Naura tersenyum.
Tidak lupa, Naura juga menuangkan air mineral untuk Raygan. Melihat perlakuan Naura, Raygan merasa sangat di hormati oleh Naura. Dengan perlakuan Naura yang sangat kecil itu, Raygan semakin yakin jika Nuara adalah wanita yang tepat untuk menjadi pendampingnya.
"Morning!" ucap Candra bergabung dengan semuanya.
"Morning, Dad," ucap Raygan tersenyun penuh semangat.
Melihat semangat putranya, Candra langsung menatap sang istri. Melihat tatapan Canda, Yulia langsung tersenyum dan megerahkan matanya menunjuk ke Naura. Melihat kode yang di berikan sang istri, Candra langsung tau apa penyebab semangat dan kebahagiaan putranya itu.
"Naura! Kau sudah sadar?" ucap Candra menatap Naura.
"Ya tentu sudahlah, Paman. Jika belum mana mungkin Kak Naura bisa masak untuk kita," ucap Icha main nyerocos saja dengan mulut penuhnya.
Mendengar jawaban keponakannya itu, Candra hanya tersenyum kecil sambil mengelengkan kepalanya pelan. Tidak mau membuang-buang waktu Candra langsung duduk dan menatap makanan yang ada di depannya.
__ADS_1
Yulia langsung melayani Candra dengan baik, dia mengisi piring Candra dan juga memberikan air mineral untuk suaminya itu. Mereka sarapan bersama sambil bercanda kecil bersama. Raygan menyantap sarapannya dengan begitu lahap sambil terus melirik Naura yang duduk di sampingnya.
Bersambung.....