
Icha berjalan mondar mandir di ruang tunggu butik langanan keluarga Wilona. Sudah berapa kali dia menghubungi Naura, tapi tidak ada sahutan sama sekali. Ronal, Rocky, Candra dan Yulia hanya duduk sambil menatap Icha yang seperti setrikaan di depannya.
"Kenapa Kak Ray dan Kak Naura belum datang juga? Apa mereka tidak tau aku sudah sangat lelah menunggu mereka. Lihat saja kalau mereka datang aku akan memberi mereka pelajaran," oceh Icha sambil mengepalkan tangannya geram.
"Bagaimana kau tidak lelah. Sedari tadi paman lihat kau terus berjalan mondar mandir seperti setrikaan. Coba kau diam duduk di sini, pasti kau tidak lelah," ucap Candra mengeleng pelan.
"Maaf, Tuan! Saya terlambat. Apa saja masih dapat jatah jas pesta?" tanya Mbara tiba-tiba datang dengan napas yang gos-gosan.
"Apa terlambat. Orang yang mau melakukan fitting saja belum kelihatan batang hidungnya," ucap Icha kesal.
"Apa! jadi tuan muda belum datang juga. Apa dia masih di taman?" ucap Mbara bertanya pada dirinya sendiri.
"Taman?" tanya Candra dan Yulia mengerutkan keningnya binggung.
"Ia, Tuan. Tuan muda menyiapkan kejutan kepada nyonya muda di taman mini di pinggir sungai. Apa mungkin mereka terbawa suasana romantis, sehingga mereka lupa untuk datang ke sini," ucap Mbara.
Mendengar ucapan Mbara, semua orang langsung membuang napasnya pelan. Mereka juga pernah merasakan masa muda. Jadi mereka juga tau bagaimana perasaan Raygan saat ini. Sedang di mabuk cinta sehingga membuatnya lupa akan segalanya.
"Maaf! kami telat," ucap Raygan datang dengan santainya sambil merangkul mesra pinggang Naura.
"Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga. Apa kalian tidak tau jika kami sudah lelah menunggu?" ucap Icha melipat kedua tangannya di dada sambil menatap kesal Raygan dan Naura.
"He... he... Maaf!" ucap Raygan terkekeh tanpa dosa.
"Ray! kau ini," ucap Yulia mengeleng kecil sambil menatap kelakuan putranya itu.
"Sudah! lebih baik nyonya muda langsung memilih gaunnya saja," ucap Rocky mengalingkan pembicaraan.
"Baik, Paman!" ucap Naura mengantuk patuh.
Dia berlahan menatap satu persatu gaun pengantin yang di tunjukkan oleh pemilik butik. Mata Naura langsung berkaca-kaca menatap gaun pengantin yang terjajar rapi. Semua gaun terlihat sangat mewah dan elegan, sehingga membuat Naura binggung harus memilih yang mana.
"Bagaimana? apa kau mau mencoba semuanya?" tanya Raygan tersenyum.
"Tidak! aku mau mencoba yang ini saja," ucap Naura menunjuk salah satu gaun pengantin.
Naura memilih gaun selayar berwarna putih dan di hiasi butiran mutiara yang indah. Gaunnya tidak terlalu terbuka sehingga Raygan langsung setuju jika Naura mencoba gaun itu. Sebagai calon suami Naura, Ryagan tentu saja tidak akan membiarkan calon istrinya mengenakan gaun yang kurang bahan. Dia tidak ingin tubuh indah Naura terlihat oleh siapapun.
"Baiklah!" ucap Raygan tersenyum.
"Mari nyonya," ucap salah satu pegawai butik membawa Naura ke ruang ganti.
__ADS_1
Pegawai itumembantu Naura untuk mencoba gaun pilihannya. Sambil menunggu Naura mencoba gaun, Icha dan Yulia sibuk memilih gaun untuk mereka. Begitu juga dengan para pria lainnya. Mereka sibuk memilih jas dan pakaian yang akan mereka kenakan saat pesta nantinya. Mereka tidak mau jika sampai mereka ketingalan feshion di pesta nantinya.
Sedangkan Raygan memilih untuk memainkan ponselnya. Dia tidak mau kehilangan kesempatan untuk menjadi orang pertama yang melihat kecantikan Naura mengunakan gaun pengantin. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Raygan mendengar sebuah langkah kaki yang berhenti di depannya.
Berlahan Raygan menatap Naura yang kini berdiri dihadapannya. Berlahan Raygan bangkit dari duduknya lalu menatap penampilan Naura dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya.
"Bagaimana, Ray? apa gaun ini cocok untukku?" tanya Naura memutar tubuhnya agar Raygan dapat melihat penampilannya.
"Tidak!" ucap Raygan memperhatikan penampilan Naura.
"Apa? kau tidak suka? jika kau tidak menyukainya biar aku ganti dengan gaun yang lain," ucap Naura langsung melangkahkan kakinya.
"Aku sangat menyukai gaun pilihanmu. Maaf! aku hanya bercanda," ucap Raygan terkekeh kecil.
"Tapi kau akan lebih cantik jika memakai ini," ucap Raygan sambil meminta sesuatu kepada Mbara.
Namun, Mbara yang sedang sibuk memilih jas dan kemejanya tidak mendengar pangilan Raygan. Dia terus sibuk memilih tanpa memperdulikan panggilan Raygan. Sehingga membuat Raygan menjadi kesal sendiri melihat kelakuan asistennya itu.
"Mbara!" teriak Raygan sambil menatap kesal Mbara.
"Eh! ada apa, Tuan?" tanya Mbara polos seperti tidak tau apa-apa.
"Maaf, Tuan! aku masih cinta dengan pekerjaanku dan juga tuan," ucap Mbara gugup lalu merogoh saku kemejanya.
"Ini! yang tuan minta. Jadi aku tidak perlu mencari pekerjaan lain 'kan?" ucap Mbara cengengesan sambil memberika kotak perhiasan kepada Raygan.
"Tidak! tapi kau ada tugas penting si hari pernikahanku," ucap Raygan menerima kotak perhiasan yang ada di tangan Mbara.
"Apa! apa aku akan bekerja sampai pagi lagi?"
"Tidak! tapi bekerja sampai dia puluh empat jam," ucap Raygan terkekeh tanpa dosa lalu berjalan mendekati Naura.
"Apa!" ucap Mbara membulatkan matanya terkejut.
"Sudah kau pergi saja. Apa kau mau jadi obat nyamuk di sini?" tanya Raygan tersenyum,
"Dasar tuan! mentang-mentang sudah menemukan pelabuhan hatinya," gumam Mbara kesal lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Raygan dan Naura.
"Apa itu, Ray?" tanya Naura menatap kotak pehiasan yang ada di tangan Raygan.
"Kejutan selanjutnya," ucap Raygan membuka kotak perhiasan itu.
__ADS_1
Mata Naura langsung berbinar ketika melihat kaling dan juga anting-anting berlian yang ada di dalam kotak perhiasan itu. Bahkan kalung dan anting-anting itu senada dengan gaun pengantin yang ia kenakan.
"Seperti janjiku! aku akan memberikan semua yang terbaik untukmu," ucap Raygan memasangkan kalung berlian itu di leher jenjang Naura.
"Sini! biar aku pakai sendiri," ucap Naura mengambil anting-anting yang ada di tangan Raygan lalu memasangkannya di telinganya.
Naura menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Penampilannya jauh lebih sempurna dengan paduan anting-anting dan juga kalung pemberian Raygan.
"Wah! kakak cantik sekali. Lihat kalung dan anting-antingnya sangat indah," ucap Icha menatap kagum penampilan Naura.
"Kau kenakan ini semua di acara pernikahan kita nanti," ucap Raygan tersenyum.
"Kak Ray! aku juga mau," ucap Icha menatap Raygan dengan manjanya.
"Enak saja! minta, beli dong," ucap Raygan jutek.
"Dasar kakak pelit," ucap Icha menatap kesal Raygan.
"He... he... kakak bercanda. Besok kau pilih perhiasan yang kau mau," ucap Raygan tersenyum sambil mengusap puncak kepala Icha.
"Yeah! kakak memang yang terbaik," ucap Icha memeluk Raygan penuh kebahagiaan.
"Saya, Tuan. Saya juga mau?" ucap Mbara tiba-tiba muncul.
"Boleh! besok kau pilih perhiasan yang kau mau. Bahkan kau boleh memborong satu toko sekaligus. Tapi kau harus mengenakannya," ucap Raygan terkekeh.
"Tuan kira aku pria apaan," ucap Mbara menghentakkan kakinya.
"Tadi kau yang minta,"
"Tapi bukan perhiasan juga kali. Aku mau beli sepatu, celana, kemeja dan jas! tuan yang bayar," ucap Mbara menunjukjan barang pilihannya.
"Satu lagi parfum limited edition" ucap Mbara kembali
"Apa! bisa-bisa bangkrut aku," ucap Raygan memukul keningnya pelan.
"Kak! aku pilih gaun, sepatu dan tas limited edition juga. Kakak yang bayar. Ingan perhiasan ku besok," ucap Icha menguras habis isi dompet Raygan.
Walaupun itu semua tidak akan berpengaruh pada isi kartu debit Raygan. Namun, dia tetap pusing karena harus membayar belanjaan Icha dan Mbara yang sangat banyak.
Bersambung.....
__ADS_1