Sistem Melayani Suami

Sistem Melayani Suami
part 54


__ADS_3

Seperti biasa di pagi hari, Naura akan sibuk bergulat dengan alat masaknya. Yulia yang selalu melihat itu hanya bisa menatap Naura sambil tersenyum. Dia merasa bahagia karna kali ini putranya mendapatkan wanita yang tepat. Walaupun memiliki masa lalu yang sangat menyakitkan tapi kini Naura bisa melupakan masa-masa itu, dan membuka lembaran baru di dalam kehidupannya.


"Kau masak apa sayang?" ucap Yulia mendekati Naura.


"Aku masak semur daging kesukaan Raygan. Coba mama rasakan apa rasanya sudah pas," ucap Naura meletakkan sepotong daging di atas piring kecil dan memberikannya kepada Yulia.


"Em! Rasanya sangat pas, sayang. Bahkan jauh lebih enak dari masakam mama," ucap Yulia melahap daging pemberian Naura.


"Mama bisa saja," ucap Naura tersipu malu.


"Wangi sekali. Siapa yang masak makanan sewangi ini?" tanya Raygan berjalan ke dapur dengan penampilan ala bangun tidurnya.


"Tu! Raygan saja yang lagi tidur bisa bangun karna wangi masakanmu," ucap Yulia tersenyum.


"Jadi wangi masakan yang mengangu tidurku itu masakanmu, Sayang?" tanya Raygan sambil melingkarkan tangan kekarnya di perut Naura.


Melihat itu, Yulia langsung membulatkan matanya terkejut. Dia tidak menyangka jika Raygan dan Naura berani mengumbarkan kemesraan mereka di depannya.


"Ray! Mama ada di sini lho," ucap Yulia tersenyum sambil melirik ke arah tangan Raygan.


"Memangnya kenapa? Mama dan papa juga selalu mengumbar kemesraan di depan Raygan. Kenapa Ray tidak bisa?" tanya Raygan malah mempererat pelukannya lalu mencium lembut wajah Naura.


"Ray!" ucap Naura menunduk malu karna kelakuan Raygan.


"Mama dan papa sudah halal. Jadi boleh melakukan apapun. Kalian?" tanya Yulia mengelengkan kepalanya pelan.


"Itu gampang, Ma. Tinggal di campur ajinomoto aja pasti halal, Ma," ucap Raygan cengengesan.


Mendengar ucapan putranya itu, Yulia langsung mengelengkan kepalanya pelan. Dia menarik telinga Raygan dengan gemas sehingga Raygan langsung meringis kesakitan.


"Aw! Sakit, Ma," ringis Raygan melepaskan pelukannya lalu memegang tangan Yulia yang menarik telinganya.


"Kau itu tidak boleh mengumbar kemesraan bersama Naura. Apa kau lupa jika kalian tinggal satu atap. Nanti orang akan mengira jika kalian itu telah berzina," ucap Yulia menasehati.


"Terserah orang berkata apa, Ma. Ray tidak peduli. Karena Ray tidak lelakukan apa yang mereka pikirkan. Bagi Ray omongan orang tidak penting. Karna hanya akan mempengaruhi moodku yang sangat penting ini," ucap Raygan dengan tegas.


"Dan untuk Naura! Aku akan segera menghalalkannya. Jadi mama tidak perlu cemas seperti itu. Aku juga tidak akan melakukan sesuatu yang merusak cinta kami. Aku tidak akan melakukan hal itu sebelum meresmikan hubugan kami. Mama percaya 'kan kepada putramu ini?" ucap Raygan mengengam tangan Yulia.


"Mama percaya kepada kalian. Jangan pernah merusak cinta yang suci hanya harna nafsu belaka," ucap Yulia tersenyum.

__ADS_1


"Siap, Bos!" ucap Raygan memberi hormat kepada Yulia.


"Kau ini!" ucap Yulia mengelengkan kepalanya pelan melihat tingkah putranya itu.


"Lebih baik kau mandi dulu, Ray. Nanti kau terlambat berangkat ke kantor," ucap Naura melirik jam tangannya.


"Apa kau lupa jika kekasihmu ini adalah bos di kantor itu. Jadi tidak ada kata terlambat untuk bos besar," ucap Raygan dengan penuh keangkuhan.


"Ehem!" dehem Candra menatap pungung Raygan sambil berdecak kesal.


"Eh ada papa! Aku tarik ucapanku tadi ya. Tidak ada kata terlambat untuk bos muda. Karna bos besarnya sudah siap untuk berangkat," ucap Raygan melihat Candra telah rapi dengan jas kuasanya.


"Kau masak apa, Ra? Wangi sekali, pasti rasanya sangat enak," ucap Candra melewati Raygan lalu mendekati Naura yang masih sibuk dengan masakannya.


Melihat sang papa yang hanya melewatinya saja, Raygan langsung merasa cemburu. Dia merasa jika kasih sayang yang selalu di berikan Candra dan Yulia kepadanya kini beralih ke Naura.


"Mentang-mentang sudah ada calon mantu, anak sendiri di lupakan," ucap Raygan menghentakkan kakinya kesal.


Mendengar ucapan Raygan. Yulia dan Candra langsung terkekeh geli. Mereka menatap wajah asam Raygan yang sedang cemburu kepada calon istrinya sendiri.


"Kau cemburu kepada calon istrimu sendiri, Ray?" ucap Candra mengejek putranya itu.


Melihat tingkah putranya itu, Yulia hanya mampu mengelengkan kepalanya pelan.


"Kau tidak perlu merasa tidak enak seperti itu. Raygan memang anak yang manja jadi, wajar saja jika dia seperti tadi. Pasti dia juga merasa senang karna kami juga meyayangimu seperti putri kami sendiri," ucap Yulia membelai rambut panjang Naura dengan lembut.


"Ia, Ma!" ucap Naura tersenyum.


"Sudah ayo kita hidangkan makanannya ke depan. Tapi apa kau tidak berangkat ke restoran hari ini?" ucap Yulia melihat penampilan Naura yang masih mengunakan baju santainya.


"Tidak, Ma! Aku mau ke panti asuhan hari ini. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan," ucap Naura.


"Baiklah!" ucap Yulia tersenyum lalu membantu Naura bersama pelayan lainnya untuk menata semua masakan ke meja makan.


"Papa!" ucap Yulia mengelengkan kepalanya melihat Candra menyantap masakan Naura sambil berdiri.


"Habisnya masakan Naura sangat enak! Jadi papa tidak tahan jika hanya menatapnya saja," ucap Candra sambil mengunyah makan yang ada di mulutnya.


"Ayo kita makan di ruang makan," ucap Yulia melangkahkan kakinya menarik Candra keluar dari dapur.

__ADS_1


Melihat tingkah keluarga itu, Naura hanya tersenyum kecil. Dia merasa jika dia sekarang berada di tengah-tengah keluarganya sendiri. Naura kini bisa merasakan hangatnya kebersamaan sebuah keluarga yang tidak dapat dia rasakan selama ini.


Setelah selesai bersiap-siap. Raygan langsung pergi ke ruang makan untuk melakukan sarapan bersama keluarganya. Saat memasuki ruang makan dia melihat Candra yang telah menyantap masakan Naura dengan sangat lahapnya. Sedangkan Naura masih menata semua masakannya di atas meja.


"Kau sudah siap, Ray. Ayo duduk," ucap Naura terseyum menatap Raygan.


Mendengar ucapan Naura, Raygan langsung duduk dan menatap Naura yang sedang mengisi piringnya. Melihat perlakukan Naura yang selalu melayaninya dengan baik Raygan merasa sangat bahagia. Bahkan dia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya tanpa Naura nantinya.


"Icha mana?" tanya Raygan yang tidak mendengar kehebohan yang di ciptakan Icha pagi ini.


"Icha sudah pergi ke rumah sakit. Katanya ada pangilan darurat," ucap Yulia.


Mendengar ucapan Yulia, Raygan langsung menganguk paham. Kemudian dia menatap penampilan Naura yang masih mengenakan baju santainya.


"Kau tidak ke restoran, Ra?" tanya Raygan.


"Tidak! Aku mau pergi ke panti asuhan hari ini, Ray," ucap Naura tersenyum.


"sama siapa?"


"Sendiri,"


"Aku temani ya,"


"Tidak usah, Ray. Hari ini kau 'kan ada rapat penting. Aku bisa sendiri kok,"


"Tapi, Ra!"


"Tidak apa-apa, Ray. Aku bisa sendiri, kau tenang saja. Lagia aku hanya pergi ke panti asuhan jadi kau tidak perlu takut seperti itu," ucap Naura tersenyum menatap wajah Raygan yang tegang.


Ntah mengapa perasaan Raygan menjadi tidak tenang. Dia merasa sangat takut, tapi dia tidak tau apa yang harus dia takutkan. Dia menatap wajah Naura seakan dia tidak rela beralih dari sana walaupun hanya sedetik saja.


"Aku bisa sendiri, Ray! Kau tenang saja," ucap Naura menyakinkan Raygan.


"Baiklah!" ucap Raygan membuang napasnya kasar.


Bersambung......


__ADS_1


__ADS_2