Sistem Melayani Suami

Sistem Melayani Suami
Part 18


__ADS_3

Sesuai janji penjaga restoran itu dia akan membawa Naura menemui pemilik restoran itu. Suatu keberuntungan datang kepada Naura, dia membeli restoran itu dengan harga yang cukup murah. Sehingga dia masih memiliki cukup uang untuk merenovasi dan membuka restoran itu dari awal.


"Alhamdulillah! Aku masih punya uang untuk merenovasi restoran itu." ucap Naura melihat saldo rekeningnya yang masih banyak.


"Kau memang sangat beruntung kak. Aku kira tadi harga restoran itu sangat mahal. Tapi, ternyata hanya setengah dari perkiraanku." ucap Icha.


"Karna hari ini keberuntungan datang menimpa kita. Bagaimana jika kita makan malam di restoran. Kakak yang teraktir." ucap Naura tersenyum.


"Benarkah! Kalau begitu ayo." ucap Icha penuh semangat lalu melajukan mobilnya menuju restoran kesukaannya.


Sesampainya di restoran pavorid Icha mereka langsung masuk dan mengambil meja paling sudut. Naura juga menatap cara kerja restoran itu sambil belajar bagaimana cara menjalankan restorannya nantinya.


Icha yang mempunyai pergaulan luas juga membantu Clara untuk mencari arsitek untuk merenovasi restorannya nantinya. Mereka juga mulai merencanakan strategi untuk membuka restoran nantinya. Karna daya pikirnya yang cukup cerdas Naura akhirnya langsung mengerti dengan penjelasan yang di berikan Icha.


"Ok! Aku paham sekarang. Selain psikolog kau juga ahli dalam merangkai berbagai macam usaha ya." puji Naura melihat Icha yang sangat mengerti tentang strategi membuka restoran.


"Tentu dong, Kak. Kakakku juga memiliki perusahaan yang sangat besar." ucap Icha memuji kakak sepupunya yang jahil itu.


"Benarkah?"


"Em! Tapi, sayangnya setelah tunangannya menghianatinya dia jadi pendiam dan dingin kepada semua orang. Dia selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja dan merepotkanku." ucap Icha merasa sedih mengingat sang kakak yang kini tidak percaya dengan yang namanya cinta lagi.


"Mungkin dia bukan yang terbaik untuk kakakmu. Aku yakin suatu saat nanti kakakmu akan menemukan cinta sejatinya." ucap Naura mengengam tangan Icha.


"Aamii!" ucap Icha langsung mengaminkan ucapan Naura.


"Sudah! Hari sudah semakin malam. Lebih baik kita pulang saja." ucap Naura melirik jam di ponselnya.


"Oh ia. Kita harus pulang sekarang. Besok pagi aku ada pasien." ucap Icha mengingat kebiasaannya yang selalu bangun kesiangan.

__ADS_1


"Tunggu! Aku bayar dulu." ucap Naura memangil pelayan yang ada di dekat mereka.


"Oh, ia. Aku sampai lupa." ucap Icha cengengesan.


Setelah selesai mereka langsung pulang menuju apartement mereka. Sesampainya di apartement mereka langsung berpisah dan masuk ke apartement mereka masing-masing. Naura dengan gembiranya melemparkan tasnya ke sembarang tempat lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Naura merendam dirinya di dalam bathtub sambil bernyanyi ria seorang diri. Dia terus memancarkan senyuman kebahagiaannya karna akhirnya dia bisa membangun kehidupan barunya sendiri. Naura merasa sangat bersyukur karna di pertemukan dengan orang sebaik Icha. Bahkan dia sudah mengangap Icha sebagai adil kecilnya sendiri.


"Icha besok akan pergi ke rumah sakit. Pasti aku akan merasa bosan di apartement sendirian." gumam Naura membuang napasnya kecil.


"Aku masih punya banyak uang. Bagaimana jika besok aku pergi ke salon saja. Sudah lama aku tidak merawat tubuhku." gumam Naura lalu keluar dari bathtub lalu membilas tububnya dengan air bersih.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya dia mengunakan piyama tidurnya lalu membaringkan tubuhnya di atas kasurnya. Naura memejamkan matanya mencoba untuk merilekskan pikirannya. Karna terlalu lelah Naura akhirnya tertidur dengan lelapnya.


...----------------...


Seperti yang di katakan Naura di pagi hari dia langaung pergi ke salon yang di sarankan Icha kepadanya. Dia menatap salon yang besar itu lalu memberanikan diri untuk melangkan kakinya memasuki salon itu. Saat memasuki ruang perawatan semua mata langsung tertuju kepadanya.


"Aku dengar katanya dia mengugat Gabryel karna pria lain."


"Eh! Jangan asal ngomong. Dia itu orang baik-baik tidak mungkin dia seperti itu. Malah sekarang aku lihat Gabryel sudah nempel dengan wanita lain. Padahal mereka bercerai baru beberapa hari."


Berbagai macam bisik-bisik para tamu salon langsung terdengar di telinga Naura. Tapi, dia masih bersyukur karna masih ada orang yang berangapan baik kepadanya. Naura memilih untuk terus melajukan langkahnya tanpa memperdulikan tanggapan orang-orang di sana tentangnya.


"Selamat datang Nyonya Naura. Icha telah memberitaukan kedatangan anda kepada kami." ucap pemilik salon langsug menyambut Naura dengan baik.


Mendengar sambutan hangat pemilik salon itu, Naura hanya tersenyum ramah.


"Ayo, Nyonya. Kita mulai perawatannya." ucap pemilik salon itu membawa Naura ke ruang perawatan.

__ADS_1


Dengan sangat propesional pemilik salon itu merawat tubuh Naura dari atas sampai bawah. Naura memang ingin memanjakan seluruh tubuhnya tanpa ada yang ketingalan. Karna merawat seluruh tubuhnya Naura akhirnya menghabiskan waktu satu hari penuh di dalam salon itu.


"Sudah selesai, Nyonya." ucap pemilik salon itu tersenyum ramah.


"Wah! Tanganmu sangat ajaib ya. Aku seperti bukan diriku yang dulu." ucap Naura menatap wajahnya yang terlihat semakin cantik dengan mode rambutnya yang sekarang.


"Bukan tanganku yang ajaib, Nyonya. Tapi, aku hanya memperlihatkan kecantikan nyonya yang terpendam." ucap pemilik salon itu.


"Kau bisa saja. Tapi, jujur sentuhan tanganmu membuatku sangat puas."


"Tapi, lebih memuaskan jika yang menyentuh nyonya adalah tuan muda Gabryel."


Mendengar ucapan pemilik salon itu, Naura hanya tersenyum kecil. Berlahan dia mengingat setiap sentuhan tangan Gabryel yang membuat tubuhnya di penuhi tato spesial.


"Ups! Maaf, Nyonya. Saya lupa jika...." ucap pemilik salon itu menutup mulutnya.


"Tidak apa-apa." ucap Naura tersenyum kecil.


"Tapi, jika boleh saya tau kenapa nyonya memilih untul berpisah dengan tuan muda? Bukankah selama ini hubungan kalian selalu menjadi sorotan. Bahkan banyak masyarakat yang kecewa setelah mendengar perceraian kalian." ucap pemilik salon itu memberanikan diri.


"Pernikahan itu bagaikan sebuah rumah. Kita hanya melihat keadaan rumah itu dari luar ya saja. Tapi, yang kita lihat sangat indah dari luar tidak menjamin bagaimana keadaan di dalamnya." ucap Naura tersenyum.


"Aku memilih berpisah dengan Gabryel karna menuruti ke inginan hatiku. Ada kalanya kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan apa yang kita inginkan." ucap Naura kembali.


"Tapi, apa perpisahan kalian ada hubungannya dengan wanita yang sering bersama Tuan Gabryel?"


Mendengar ucapan pemilik salon itu berlahan Naura tersenyum kecil. Walaupun Gabryel sudah menyakitinya tapi, Naura tidak mau mengumbar aib Gabryel di depan umum.


"Perpisahan kami bukan karna apapun. Kami berpisah karna mungkin takdir pernikahan kami sudah cukup sampai di sini. Aku tidak perlu menceritakan tentang masalah rumah tangga kami ke dunia luar. Karna bagaimanapun bangkai tidak akan bisa bisa menyembunyikan bau busuknya terlalu lama." ucap Naura tersenyum.

__ADS_1


"Kita wanita berhak untuk bahagia dan menentukan jalan kebahagian kita sendiri. Jangan pernah mau bertahan jika kau tidak bahagia. Karna sebuah hubungan tidak akan bisa bertahan lama jika hanya satu saja yang mau memperjuangkannya. Ingat, kita sebagai wanita jangan pernah mau di rendahkan. Karna sekali kau direndahkan maka dia akan selalu mengangapmu rendah."


Bersambung.....


__ADS_2