
Karna Yulia belum mengizinkan Naura kembali ke apartementnya, Naura dan Icha akhirnya tinggal sementara di mension keluarga Wilona. Sebagai seorang ibu, Yulia takut jika Gabryel akan kembali menemui Naura dan menyakitinya lagi.
Naura yang merasa jenuh memilih untuk pergi ke taman belakang untuk merawat tanaman Yulia. Kalau Icha jangan di tanya lagi, di hari minggu dia akan betah dengan kegiatan pemalasnya. Dia sibuk menonton drakor kesukaannya sambil menghabiskan cemilan di dalam kamarnya.
Raygan yang telah selesai berolah raga di kamar memilih untuk mengirup udara segar dari balkon kamarnya. Namun, saat dia menatap suasana luar mension dia melihat Naura yang sedang membersihkan taman belakang. Matahari yang begitu trik menerpa kulit Naura sehingga membuat keringatnya bercucuran.
"Naura! Lagi apa dia?" batin Raygan memilih untuk turun dan menemui Naura.
Sedangkan Naura yang merasakan paparan sinar matahari yang menerpa tubuhnya, berlahan mengusap keringatnya mengunakan pungung tangannya. Berlahan Naura menatap sinar matahari yang begitu trik. Tapi, tiba-tiba Naura merasa teduh karna seseorang yang memayunginya.
"Raygan!" ucap Naura ketika melihat Raygan berdiri di hadapannya sambil memegan payung.
"Apa kau tidak lihat jika panas matahari sudah memapar tubuhmu?" ucap Raygan membantu Naura untuk berdiri.
"Maaf! Soalnya aku lihat taman ini kurang bersih. Jadi aku berniat ingin membrrsihkannya," ucap Naura.
"Tapi, hari ini begitu panas. Nanti kepalamu sakit jika terlalu lama di bawah sinar matahari." ucap Raygan membuang napasnya pelan.
"Lebih baik kita mebersihkan taman yang di sana saja. Di sana ada pohon yang melindungi kita dari paparan sinar matahari," ucap Raygan menunjuk ke arah sisi taman yang tidak terlalu panas karna perlindungan pohon.
"Baiklah! Aku akan bekerja di sana," ucap Naura dengan penuh semangat lalu berlari kecil ke arah taman yang di penuhi berbagai jenis bunga itu.
Melihat semangat Naura, Raygan langsung tersenyum kecil. Dia melangkahkan meletakkan payung yang ada di tangannya di sebarang arah, lalu berjalan mendekati Naura.
"Kau sepertinya sangat menyukai tanaman ya?" tanya Raygan menatap Naura yang sedang memangkas bunga yang telah rimbun.
"Ia! Aku sangat menyukai tanaman. Melihat bunga-bunga yang bermekaran dan tanaman yang tubuh subur membuat pikiranku menjadi tenang," jelas Naura tersenyum.
"Apa kau tau? jika kita sedang banyak pikiran, dengan kita mengirup aroma wangi bunga yang sangat menenangkan. Pikiran kita akan langsung rileks dan beban pikiran kita akan hilang dengan sekejab," ucap Naura mengirup aroma bunga mawar yang mekar dengan indah sambil memejamkan matanya.
"Sekarang kau coba," ucap Naura menatap Raygan yang terus menatapnya.
Mendengar ucapan Naura, Raygan berlahan mendekati bunga mawar putih yang ada di depan Naura. Dia mengirup aroma mawar itu sambil memejamkan matanya. Berlahan senyuman di wajahnya melingkar dengan sempurna sambil menatap kecantikan Naura.
"Kau benar! Bahkan sekarang aku bisa melihat bidadari yang sangat cantik berada di depanku," ucap Raygan sambil menatap kecantikan Naura.
__ADS_1
"Halusinasimu sangat tinggi!" ucap Naura tersenyum kecil sambil mengelengkan kepalanya pelan.
"Apakah ini cuman ilusi, atau kenyataan? Coba cubit tangannku," ucap Raygan menyerahkan tangannya kepada Naura sambil terus menatap kagum kecantikan Naura.
Mendengar perintah Raygan, Naura langsung terkekeh kecil. Dia mencoba meletakkan tangannya di tangan kekar Raygan dan mencubitnya kecil.
"Aw! Sakit," rintih Raygan memegang tangannya.
"Jadi ini tidak ilusi. Memang ada bidadari yang sangat cantik berada di hadapanku saat ini," ucap Raygan tersenyum sambil terus menatap kagum kecantikan Naura.
Mendengar ucapan Raygan, Naura langsung menunduk malu sambil menyembunyikan wajah tomatnya. Melihat wajah Naura yang merah merona, Raygan langsung tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya.
"Sepertinya bunga itu membutuhkan sentuhanmu," ucap Raygan menunjuk ke berbagai jenis bunga anggrek yang sudah mulai rimbun.
"Baiklah! Ayo kita ke sana," ucap Naura berjalan menuju berbagai jenis bunga anggrek itu.
"Cantik sekali!" ucap Naura tersenyum sambil mengirup aroma bungga anggrek bulan berwarna unggu yang sedang mekar dengan sempurna.
"Jauh lebih cantik dirimu, Ra," batin Raygan tersenyum menatap kecantikan Naura di tengan-tengah berbagai jenis bunga anggrek itu.
"Ray, apa kau ingin terus menatapku seperti itu?" tanya Naura kepada Raygan yang terus menatapnya.
Raygan langsung memotong daun bunga anggrek yang dia rasa sudah mulai rimbun. Mereka membagi tugas hingga akhirnya pekerjaan mereka cepat selesai. Naura dan Raygan membersihkan taman itu dengan sangat baik. Hingga taman itu terlihat menjadi semakin indah dan juga rapi.
Tidak lupa Naura juga memberikan pupuk kepada setiap tanaman yanga da di sana. Tanpa ada rasa jijik sedikitpun dia memegang tanah dengan tangannya sendiri. Raygan yang melihat ketulusan hati Naura merawat semua tanaman sang mommy hanya bisa tersenyum kecil.
Hingga akhirnya pikiran jahilnya muncul agar suasana yang hening itu berubah menjadi romantis. Dia berlahan mendekati Naura dan melihat ada noda tanah yang menempel di wajah Naura.
"Ra!" ucap Raygan menatap wajah Naura.
"Hem!" ucap Naura menatap ke arah Raygan.
"Itu wajahmu!" ucap Raygan mencoba membersihkan wajah Naura.
Namun, bukannya bersih wajah Naura malah semakin kotor karna tanah yang melekat di tangan Raygan. Melihat wajah Naura yang semakin berselemotan Raygan langsung terkekeh kecil sambil menunjuk ke wajah Naura.
__ADS_1
"Ha..ha.. Wajahmu!" ucap Raygan terkekeh.
Mendengar ucapan Raygan, Naura memegang wajahnya mengunakan tangannya. Namun, Naura tidak sadar jika kelakuannya itu membuat wajahnya semakin di penuhi tanah. Melihat Raygan yang terus menertawakannya, Naura yang gemas langsung mengoles wajah Raygan mengunakan tanah yang ada di tangannya.
"Naura!" ucap Raygan tersenyum melihat kelakukan Naura.
"Rasakan! Sekarang wajahmu juga seperti adonan tanah," ucap Naura terkekek kecil melihat wajah Raygan yang di penuhi tanah.
"Awas kau ya," ucap Raygan bersiap untuk menyerang Naura.
Namun, Naura bergerak dengan cepat. Dia menghindari serangan Raygan lalu berlari kecil menjauh dari Raygan.
"Tidak kena!" ucap Naura menjulurkan lidahnya.
"Sini kau! Aku pasti bisa menangkapmu," ucap Raygan tersenyum lalu berlari mengejar Naura.
"Ah!" teriak Naura berlari kecil untuk menghindari Raygan.
Tanpa mereka sadari mereka malah asik main kejar-kejaran di taman itu. Taman yang awalnya ingin mereka bersihkan kini menjadi tempat lari-larian untuk mereka. Naura yang mulai kelelahan akhirnya tidak melihat jalan yang dia lewati.
Naura tidak sengaja menginjak bungkus pupuk yang terletak di tanah, sehingga dia terpeleset dan kehilangan kendali. Raygan yang melihat itu dengan sigap menangkap tangan Naura. Namun, Dia juga menginjak bungkus pupuk itu. Sehingga Raygan juga kehilangan kendali dan terjatuh bersama Naura.
"Aw!" pekik Raygan ketika tubuhnya menimpa tubuh Naura yang ada di bawahnya.
Bukannya langsung bangkit, Raygan malah memanfaatkan kesempatan itu. Dia melemaskan tubuhnya sehingga tubuhnya menempel di atas tubuh Naura.
"Ray! Kau tidak apa-apa?" ucap Naura khawatir ketika melihat tubuh Raygan tidak bergerak di atasnya.
"Aku tidak apa-apa. Biarkan seperti ini sebentar saya." ucap Raygan menengelamkan wajahnya di leher jenjang Naura.
"Kak Naura!" pekik Icha berlari ke arah Naura dan Raygan.
"Dasar bocah! Mengangu acara romantisku saja."
Bersambung....
__ADS_1
*****