Sistem Melayani Suami

Sistem Melayani Suami
Part 44


__ADS_3

Mbara terdiam sendiri di dalam balkon kamarnya. Sikap Icha yabg berubah drastis kepadanya membuat hidupnya menjadi tidak tenang. Dia baru menyadari jika dia menyukai Icha setelah Icha berhenti mengejar cintanya.


Dulu dia merasa sangat risih dengan kelakuan Icha yang selalu menempel dan bermanja-manja kepadanya. Namun, sekarang Mbara sangat merindukan masa-masa itu. Masa-masa si mana dia harus selalu bersembuyi untuk menghindari Icha. Di saat dia selalu di buat pusih oleh celotehan Icha yang tidak ada hentinya.


Namun, semua itu tinggallah kenanga semanata. Sekarang Icha mulai cuek, dan tidak memperdulikan kehadirannya lagi. Berlahan berbagai pikiran negatif mulai bermunculan di pikiran Mbara.


"Kenapa Icha sekarang berubah? Apa dia sudah mempunyai incaran lain?" gumam Mbara bertanya pada dirinya sendiri.


"Sudahlah! lebih baik aku tidur saja," gumam Mbara mengacak-acak rambutnya frustasi.


Karna lelah berdebat dengan pikirannya, Mbara akhirnya memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya. Berapa kali Mbara mencoba untuk menganti posisi tidurnya. Akan tetapi dia tetap tidak bisa memejamkan matanya. Karna tidak bisa tidur, Mbar kembali bangkit lalu mengusap wajahnya kasar.


"Kenapa aku jadi gila seperti ini, Sih!" ucap Mbara mengacak-acak rambutnya frustasi.


Berlahan dia meraih ponselnya dan tergeletak di atas meja. Dia mencoba mengotak-atik ponselnya dan melihat nama Icha tertera di dalam sana. Mbara mencoba memberanikan diri dengan menekan tombol hijau. Akan tetapi tiba-tiba dia membatalkab niatnya dan meletakkan ponselnya kembali.


"Tidak-tidak! Kau tidak bisa merendahkan dirimu. Nanti bisa-bisa dia besar kepala lagi," gumam Mbara lalu kembali membaringkan tubuhnya.


Namun, hasilnya sama saja. Dia tetap tidak bisa memejamkan matanya. Karna lelah berdebat dengan pikirannya sendiri akhirnya Mbara memilih untuk pergi ke dapur. Dia membuat secangkir teh untuknya dan duduk melamun di meja makan.


Mbara mengotak-atik ponselnya dan menatap lekat nomor ponsel Icha yang tersimpan di dalam sana. Cukup lama Mbara berdebat dengan pikirannya hingga akhirnya dia menekan tombol hijau. Dia melakukan pangilan vidio call agar dia bisa melihat kecantikan Icha sebelum tidur.


"Hallo! Ada apa kakak menghubungiku malam-malam begini?" tanya Icha mengerutkan keningnya binggung.


"Kau sudah tidur? Maaf, karna aku sudah mengangu tidurm,." ucap Mbara menatap lekat wajah Icha yang terlihat sedang mengantuk.


"Tidak! Aku belum tidur. Kakak kenapa? Sepertinya sedang ada masalah?"


"Em! Kakak hanya ingin meminta bantuanmu,"


"Bantuan apa?"


"Kau 'kan pisikolog! Jadi aku ingin meminta penadapt darimu,"


"Pendapat soal apa?"


"Kakak sedang merindukan orang yang sedang jauh di sana. Sehingga membuat kakak tidak bisa tidur,"


"Jadi kakak sedang di malarindu," ucap Icha tersenyum.

__ADS_1


"Malarindu?" ucap Mbara mengerutkan keningnya.


"Em! Malarindu. Sedang di hantui rasa rindu," jelas Icha.


"Kalau mengatasi itu mah gampang. Kakak tingal pejamkan saja mata kakak, setelah itu bayangkan semua kenangan kakak bersama dia. Setelah itu buah napas kakak pelan dan sebutkan namanya tiga kali," jelas Icha kembali.


"Apa kau juga melakukan itu?" tanya Mbara menatap Icha penuh selidik.


"Ia! Tapi sekarang aku punya jurus yang paling ampuh,"


"Apa?"


"Sholat di tengah malam. Lalu sebut namanya di dalam doa dan sampaikan rasa rindu kita kepada sang pencipta. Niscaya Allah akan menyampaikan rasa rindu kita kepadanya," jelas Icha tersenyum.


"Jadi seperti itu?" ucap Mbara tersenyum.


"Ia! Jika tidak percaya kakak coba saja,"


"Baiklah! Aku akan mencobanya. Terima kasih ya atas sarannya. Kalau begitu kau istirahatlah," ucap Mbara tersenyum.


"Baik! selamat malam," ucap Icha mematikan sambungan vidio callnya.


"Selamat malam juga kelinci kecilku," ucap Mbara menatap ponselnya dengan lekat.


Memang benar jika kita menyampaikan perasaan kita kepada Allah, niscaya dia akan memberikan yang terbaik untuk kita. Dia akan mendekatkan yang baik, dan menjauhkan yang buruk dari kita. Begitulah yang di alami Icha dan Mbara saat ini.


Dulu saat Icha berusaha mati-matian untuk mengejar cinta Mbara, Mbara terus menolak dan menjauhinya. Namun, sekarang di saat Icha mulai menyerah dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Mbara malah mulai menyadari rasa cintanya kepada Icha.


...----------------...


Melihat Mbara yang tiba-tiba menelponnya Icha langsung bersorak ria. Berlahan rasa kantuk yang sedari tadi melanda dirinya berlahan menghilang entah kemana. Naura yang melihat kelakuan Icha langsung menatapnya binggung.


"Kau kenapa?" ucap Naura menatap Icha cengengesan di sampingnya.


"Kakak! Aku sangat senang malam ini," ucap Icha langsung memeluk Naura.


"Kau sedang kesambet hantu kuntilanak ya? Main ketawa-ketiwi tidak jelas," ucap Naura menunjuk wajah Icha yang terus tertawa tidak jelas.


"Kakak!" ucap Icha merasakan bulu kuduknya yang merinding karna ucapan Naura.

__ADS_1


"Ha...ha... Kakak hanya bercanda. Habisnya kau ketawa tidak jelas seperti tadi. Memangnya ada apa? Apa yang membuat adik kecilku ini tiba-yiba tertawa tidak jelas?" ucap Naura mencubit kecil hidung mancung Icha.


"Kak Mbara tadi menghubungiku, Kak," ucap Icha sambil tersenyum tidak jelas.


"Apa! Terus apa yang dia katakan?"


"Dia meminta pendapat dariku,"


"Pendapat apa?"


"Dia mengatakan jika dia tidak bisa tidur karna merindukam seseorang,"


"Lalu,"


"Dia meminta pendapat dariku bagaimana cara mengatasi masalahnya itu,"


"Apa dia mengatakan dia sedang merindukan siapa?"


"Tidak! Tapi, ntah mengapa aku merasa jika dia mulai merindukanku. Terlebih lagi, aku tidak pernah menghubunginya dan juga menempel dengannya. Namun, sekarang dia menghubungiku bahkan dengan pangilan vidio call," ucap Icha tersenyum.


"Aku juga sepertinya merasakan sesuatu dari tatapannya, Kak. Tatapannya sekarang sangat berbeda dengan tatatpannya dulu saat melihatku," ucap Icha sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Berarti Allah sudah mulai menjawab doamu. Dia mulai menumbuhkan rasa cinta di hati Mbara kepadamu. Tapi, kau jangan terlalu berharap dulu. Karna berharap kepada seseama manusia itu tidak selamanya menyenangkan," ucap Naura tersenyum.


"Siap, Kak! Aku akan memegang teguh semua ucapan kakak," ucap Icha tersenyum sambil memeluk Naura penuh dengan kasih sayang.


"Kau memang adikku yang paling pintar. Aku bersyukur karna pernah mengalami trauma itu,"


"Kenapa kakak bicara seperti itu?"


"Karna traumaku aku bisa bertemu denganmu. Bahkan kini aku juga bisa berkumpul di tengah-tengah keluarga yang sangat baik seperti keluarga Wilona. Ini semua karnamu," ucap Naura tersenyum.


"Apa kakak tidak mau mencari pasangan hidup kakak lagi?" ucap Icha menatap lekat wajah Naura.


Mendengar pertanyaan Icha, Naura langsung terdiam. Dia mengalihkan pandangannya dari Icha, lalu mengingat semua kenangan buruknya saat menjadi istri Gabryel. Semua kenangan buruknya bersama Gabryel membuat Naura engan untuk menjalin hubungan pria lain.


"Hari sudah semakin malam. Lebih baik kau tidur saja," ucap Naura mengalihkan pembicaraan lalu membaringkan tubuhnya memungungi Icha.


Melihat itu Icha hanya terdiam lalu menatap nanar punggung Naura. Dia lngsung berdoa agar Naura bisa cepat terlepas dari ingatan masa lalunya dan bisa membuka hatinya untuk Raygan.

__ADS_1


Bersambung....



__ADS_2