
Ronal duduk terdiam di sofa santai yang tersedia di ruangan Naura. Dia menatap Naura yang masih terbaring lemah di atas bangsalnya. Berbagai pikiran muncul di otak Ronal sehingga membuatnya jadi pusing sendiri.
"Bagaimana keadaan, Nyonya?" tanya Rocky tiba-tiba masuk dan duduk di samping Ronal.
"Nyonya sudah mulai membaik," ucap Ronal datar sambil memijit kecil keningnya.
"Ada apa? sepertinya kau sedang banyak pikiran," tanya Rocky menatap lekat wajah datar Ronal.
"Apa kau sudah menemukan siapa dalang di balik perencanaan pembunuhan Nyonya?" tanya Ronal mengalihkan pembicaraan.
Mendengar pertanyaan Ronal, Rocky nampak diam sejenak. Dia menatap Ronal dengan perasaan yang di campur aduk. Antara kesal dan juga kasihan akan nasib rumah tangga sahabatnya itu. Itulah alasan Rocky tidak mau menikah. Dia takut jika anak dan istrinya hanya akan membawa masalah pada dirinya sendiri.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? aku tidak butuh belas kasihan darimu," ucap Ronal membuang napasnya kesal melihat tatapan Rocky kepadanya.
"Baiklah! aku akan berhenti menatapmu seperti itu," ucap Rocky bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Naura.
Dia menatap Naura yang masih terbaring lemah dengan bantuan alat medis yang menempel pada tubuhnya. Dia berlahan mengelus lembut rambut panjang Naura lalu menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Sayang! Putri kesayangan paman. Kenapa kau sangat betah dengan tidurmu ini, Nak? Apa kau tidak ingin melihat pamanmu ini? Padahal paman sudah menunggu dua puluh lima tahun untuk melihat wajah cantikmu ini. Apa kau marah pada paman? kau marah karena paman selalu membiarkanmu hidup dalam kesusahan 'kan? Maafkan paman, Nak. Paman hanya ingin kau tumbuh menjadi wanita kuat. Agar kelak tidak akan ada orang yang berani mengusik kehidupanmu," ucap Rocky mengengam tangan Naura sambil menatap Naura dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kau ingin melihat nyonya muda kembali bahagia?" tanya Ronal menatap Rocky dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.
"Maka kau harus membawa pria yang bernama Raygan ke hadapan nyonya. Karena hanya dialah yang bisa membuat nyonya sadar dari komanya," ucap Ronal kembali.
"Raygan!" ucap Rocky mengerutkan keningnya binggung.
"Dia adalah kekasih Nyonya. Dia telah memberikan begitu banyak pengorbanan agar nyonya bahagia. Dia sangat mencinta Nyonya. sama seperti nyonya yang juga sangat mencintainya," ucap Ronal tersenyum sambil mengelus rambut panjang Naura.
"Apa kau yakin, jika dia tidak akan melakukan hal yang sama seperti putramu?" tanya Rocky mengepalkan tangannya geram mengingat perlakuan Gabryel kepada Naura selama ini.
"Aku tau putraku salah. Tapi tidak semua pria sama seperti putraku. Jika kau tidak percaya dengan perkataanku. Kau boleh menyelidikinya sendiri," ucap Ronal membuang napasnya kasar lalu kembali duduk di sofa.
__ADS_1
"Nyonya sudah berapa kali mengingau memanggil nama pria itu. Dokter menyarankan agar pria itu bisa secepatnya menemui nyonya. Aku harap kau jangan berpikir terlalu lama. Aku yakin jika pria itu adalah pria yang terbaik untuk nyonya," ucap Ronal memperingatkan.
Mendengar ucapan Ronal, Rocky nampak diam sejenak. Dia menatap Naura lalu berpikir apa yang harus dia lakukan saat ini. Sebagai orang kepercayaan mendiang papa Naura. Rocky harus membuat keputusan yang terbaik untuk kehidupan Naura. Apa lagi kehidupan Naura yang sangat menyedihkan sebelumnya. Rocky tidak mau jika sampai Naura mengalami kegagalan dalam berumah tangga untuk yang kedua kalinya.
"Apa kau sudah mendapatkan informasi dari para berandal itu?" Tanya Ronal kembali sambil menatap lekat Rocky.
"Sudah!" ucap Rocky menatap Ronal dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Rocky tidak tau harus berkata apa kepada Ronal saat ini. Dia takut jika Ronal akan melindungi istrinya dan berhianat kepada mereka. Karena bagaimanapun Rini adalah istri, Ronal. Bahkan mereka sudah menjalin rumah tangga selama dua puluh lima tahun lamanya.
"Siapa?" ucap Ronal menatap Rocky dengan tatapan penuh selidik.
"Istrimu," ucap Rocky sedikit memelankan suaranya sambil menunduk.
"Sudah kuduga! wanita itu memang tidak ada kapok-kapoknya," ucap Ronal mengepalkan tangannya geram.
Mendengar ucapan Ronal, Rocky langsung mengerutkan keningnya binggung. Dia menatap Ronal dengan berbagai pertanyaan yang melintas di pikirannya. Apa lagi melihat raut wajah Ronal yang memancarkan kemarahan yang sangat besar.
"Apa kalian sudah bertindak?" tanya Ronal menatap Rocky.
"Yang salah tetap di hukum. Tidak perduli dia istri maupun orang lain. Hukum saja dia atas apa yang dia lakukan kepada nyonya," ucap Ronal tanpa keraguan sedikitpun.
Mendengar ucapan Ronal, Rocky langsung membuang napasnya lega. Dia merasa bersyukur karena Ronal tidak menghianatinya. Walaupun Rini dan Elisa adalah istri dan menantunya, tapi Ronal tetap berpikir secara profesional. Bahkan dia tidak memberi dukungan sedikitpun kepada Rini dan Elisa.
...----------------...
Di sebuah ruangan yang gelap tanpa ada pencahayaan sedikitpun. Terlihat seorang pria berbadan tegap duduk termenung di dalam ruangan itu. Raygan pria itu adalah Raygan, dia duduk termenung di atas ranjang sambil memeluk bantal yang telah di baluti gaun milik Naura.
Karena rasa rindu kepada Naura membuatnya menjadi hilang akal. Dia selalu memakaikan pakaian Naura di bantal gulingnya. Dia membayangkan bantal itu sebagai Naura dan terus memeluknya sebagai pelepas rasa rindunya.
Namun, tiba-tiba dia melihat kearah pintu yang terbuka. Dia mendengar suara langkah yang anggun berjalan mendekatinya. Dia mencoba menatap bayangan seorang wanita yang sangat anggun, dengan rambut panjangnya di biarkan terurai begitu saja.
__ADS_1
"Kau siapa?" tanya Raygan mencoba memperhatikan wanita yang kini ada di hadapannya.
"Apa kau sedang menunggu wanita lain?" ucap Naura menghidupkan lampu kamar Raygan.
"Naura! Ini beneran kau, Sayang?" tanya Raygan menatap lekat wajah Naura yang kini terlihat jelas di hadapannya.
"Ini aku, Sayang. Apa kau tidak merindukanku?"
"Aku merindukanmu, Sayang. Aku sangat merindukanmu. Kau kemana saja. Apa kau tidak tau jika aku hampir gila karenamu," ucap Raygan langsung memeluk tubuh Naura dengan erat.
Naura berlahan menengelamkan wajahnya di dada bidang Raygan. Raygan terus menciumi puncak kepala Naura dan memeluknya dengan erat. Rasanya Raygan tidak mau melepaskan pelukannya walau hanya sebentar saja.
"Apa kau sudah melepaskan rasa rindumu, Sayang?"
"Belum! Aku mohon biarkan seperti ini sebentar saja,"
"Baiklah! Kau boleh memelukku sampai kau puas. Karena sebentar lagi aku harus kembali ke tempatku yang sebenarnya,"
"Maksudmu apa, Sayang. Kau tidak akan meninggalkanku lagi 'kan?" ucap Raygan menatap Naura dengan tatapan penuh kerinduan.
"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku, karena tidak mau mendengarkan ucapanmu. Maafkan aku, karena tidak bisa menepati janjiku untuk kembali bersama kalian," ucap Naura menangkup kan kedua tangannya di wajah Raygan.
"Maaf! waktuku sudah habis. Aku harus kembali. Aku harap kau bisa membuka lembaran baru tanpa diriku," ucap Naura berlahan melangkahkan kakinya menjauhi Raygan.
"Tidak! Aku mohon jangan tinggalkan aku, Sayang. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Bawa aku, bawa aku bersamamu." ucap Raygan penuh permohonan sambil terus mengengam tangan Naura.
"Maaf, Sayang! Maaf, aku harus pergi. Aku mencintaimu," Ucap Naura melepaskan gengaman tangan Raygan lalu tiba-tiba menghilang dari pandangan Raygan.
"Naura! Sayang. Jangan tinggalkan aku. Bawa aku bersamamu," ucap Raygan duduk tersungkur di lantai sambi menangis histeris.
"Naura!" teriak Raygan tiba-tiba bangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi tubuhnya dan juga napasnya yang memburu dengan cepat.
__ADS_1
Bersambung.....